Apapun Kata Mereka Percayalah Saja Kepada-Ku

  1. Iman kepada Yesus Kristus, sudah sejak dulu, bahkan sebelum Yesus lahir sudah diuji, dan akan terus-menerus diuji sampai …. Akhir hidup kita di dunia ini. Dan barangsiapa lulus dalam ujian tersebut,  dialah yang akan memnikmati hidup kekal (=masuk sorga).
    Seperti penjahat yang disalib bersama-sama dengan Yesus, pada detik terakhir menjelang kematiannya, ia beriman kepada Yesus. Maka ia memperolej hidup yang kekal. Hal ini dikatakan sendiri oleh Yesus: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdus” (Luk 23:43).
    Akankah kita beriman kepadaNya menanti sampai detik terakhir menjelang kematian kita? Bersyukur kalau kita berkesempatan untuk beriman kepadaNya dengan sadar. Sebab datangnya maut seperti pencuri di tengah malam, menanti saat di mana yang empunya rumah sedang tidur (bdk Mat 24: 43-44). Karena itu sungguh sangat bijak apabila sejak sekarang kita beriman kepadaNya dan dijaga selalu agar iman kita jangan goyah karena rongrongan atau pengaruh informasi/gerakan/aksi yang sengaja ingin membelokkan dan menghancurkan iman kita.
    Bagaimana memantapkan iman kita?  Banyak cara yang bisa ditempuh.
    1. Rajin membaca Kitab Suci dan buku-buku rohani, buku-buku tafsir Kitab Suci. Bila tidak tahu apa yang dimaksud, bertanyalah kepada yang berkopentens untuk memberikan penjelasan (Imam).
    2. Ikutilah kegiatan-kegiatan yang mempelajari Kitab Suci seperti: Sekolah/Kursus Evangelisasi Pribadi (SEP/KEP), Pendalaman Kitab Suci (PKS), Kelompok Belajar Bersama Memahami Kitab Suci (BBM-KS), Renungan-renungan di Lingkungan/Wilayah, Retret dan sebagainya.
    3. Tekun berdoa baik secara pribadi maupun bergabung dengan Kelompok-kelompok persekutuan doa: M.E. (Marriage Encounter), Regio Maria, Persaudaraan Yesus Charitas (doa dan refeleksinya disebut “Desert Day”), Adorasi Ekaristi Abadi, dan lain-lainnya.
    4. Dan jangan dilupakan untuk terlibat dalam kegiatan organisatoris seperti duduk dalam kepengurusan Lingkungan, Wilayah, atau Paroki. Dan lebih jauh lagi ikut serta dalam kegiatan-kegiatan yang bersifat karitatif.
      Semoga dengan cara-cara tersebut, iman kita makin diperteguh, tak tergoyahkan oleh “badai dan topan maupun banjir” (Mat 7: 24-27). Amin!
  2. Komentar-komentar sinis dan nada-nada sumbang telah, selalu, dan akan terus menyertai orang-orang beriman yang menyerahkan seluruh hidupnya kepada Yesus Kristus. Dari sebutan-sebutan mulai dengan Tritunggal Mahakudus sampai kepada bentuk-bentuk penghayatan iman Katolik, selalu dikritik, dicemooh, dan “dirintangi” oleh mereka-mereka, yang sungguh mereka-mereka itu perlu dikasihani, karena ketidaktahuan mereka.
    Nada-nada sumbang dan sinis tersebut dilontarkan dengan banyak argumentasi dan ada kalanya disertai dengan data-data hasil-hasil penemuan/penggalian arkeologi, yang data-data tersebut kemudian dimaknai atau ditafsirkan menurut versi mereka. Kita mempunyai hierarki saru-satunya yang berkompeten dalam hal ini. Karena itu, selama Hierarki (Pasamuwan Suci) tidak menyatakannya sebagai yang resmi, biarlah itu berlalu dan jangan mengesan apalagi dipegang sebagai kebenaran.
    Apa saja pendapat dan kata mereka tentang Yesus Kristus yang kita imani sebagai satu-satunya  yang bisa menjembatani keterpisahan kita dari Allah Bapa Yang Mahakasih? Inilah pendapat dan komentar mereka:
    1. Bahwa Yesus mempunyai anak dari Maria Magdalena.
    2. Yesus itu seorang yang sinis.
    3. Yesus itu seorang mistik.
    4. Yesus pura-pura mati sewaktu disalib. Setelah sepi, kemudian ia menyelinap.
    5. Yesus menulis surat kepada pengadilan Yahudi untuk menyatakan bahwa Ia tidak pernah mengatakan kalau Ia adalah Anak Allah. Itu hanya salah paham saja.
    6. Yesus itu seorang Gnostik, yaitu suatu aliran/sekte yang orientasi keagamaannya lebih berfokus pada pengetahuan rahasia (gnosis) yang diandaikan, dinyatakan Yesus kepada kalangan elite untuk keselamatan mereka, dan tidak pada iman kepada Yesus sebagai Penebus.
    7. Apakah Yesus sungguh-sungguh pernah hidup?
    8. Yesus itu pembohong (lier; Ingg), orang gila (lunatic; Ingg), atau Tuhan (Lord; Ingg).
    9. Yesus itu memang Mesias Israel, hamba Tuhan dan mungkin nabi terbesar yang pernah hidup. Ia bisa disebut anak Allah, akan tetapi bukan dalam pengertian Trinitarian, di mana Yesus dipandang sepenuhnya Allah dan sepenuhnya manusia.
    10. Yesus adalah tokoh fiktif yang tidak pernah ada sebagai Yesus sejarah.
    11. Orang-orang Ebionit, bentuk kekristenan kuno yang muncul pada abad ke-II dan menghilang pada abad ke-V cenderung meninggikan status hukum Taurat dan meminimalkan sifat ilahi Yesus.
    12. Bahkan ada argumentasi yang mengemukakan bahwa mereka sungguh-sungguh tidak tahu siapa Yesus, apa yang sesungguhnya Ia katakan dan lakukan, apa yang Ia pikirkan tentang diriNya sendiri, atau apa yang dipikirkan oleh para pengikutNya tentang Dia, dan sebagainya. Semua itu mereka kembalikan bahwa Injil Perjanjian Baru kurang menjelaskan hal itu.
    13. Ada yang mengatakan bahwa Yesus itu buta huruf dan tidak tertarik pada Alkitab. Juga Ia tidak tertarik pada esktologi.
    14. Yesus dibaptis oleh Yohanes. Dan baptisan Yohanes adalah sebagai baptisan penghapus dosa. Yesus tidak berdosa, mengapa Ia harus dibaptis? Mana yang benar?
    15. Daftar ini masih bisa diteruskan dan terus bisa ditambah, kalau diingat bahwa pada akhir-akhir ini ditemukan adanya Injil-Injil non-Kanonik yaitu Injil-Injil yang tidak diakui oleh Gereja (Pasamuwan Suci).
      Dari apa yang terdaftar tersebut akan kita lihat sebagian secara selintas dan secara khusus kita akan mencari dasar biblisnya. Semoga dengan ini, iman kita diselamatkan dari rongrongan dan “serangan” dari mereka yang tidak memahaminya dan juga iman kita semakin diteguhkan  karena ketekunan kita dalam membinanya melalui kegiatan-kegiatan rohani dan kegigihan kita dalam menapis segala godaan dan serangan.
  3. YESUS BUTA HURUF ? Beberapa ahli menyatakan bahwa Yesus itu secara fungsional buta huruf. Mungkin alasan mereka  berdasarkan atas fakta bahwa Ia itu anaknya Yusuf si tukang kayu yang tidak kaya sehingga tidak mampu untuk menyekolahkan Dia. Apalagi cerita tentang Dia waktu kanak-kanak gelap dalam arti secara biblis sangat minim ceritaNya. Maka dengan mudah mereka menuduhNya sebagai buta huruf. Untuk itu, mereka lupa bahwa ada keterangan (dasar biblis) yang menjelaskan atau mendukung bahwa Yesus tidak buta huruf.
    1. Dalam Ul 6: 7, 9 tertulis: “Haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu”
      Tentu saja ini tidak berarti bahwa semua orang tua menafsirkan perintah tersebut sebagai keharusan untuk membuat anak-anak mereka melek huruf. Karena mengajarkan Taurat dapat juga dilakukan dengan lisan. Akan tetapi, karena disadari bahwa perintah Taurat tersebut mendorong kemelek-hurufan ; bahkan sekali pun kemelek-hurufan itu tidak dituntut. Dorongan ke arah kemelek-hurufan juga dikuatkan oleh Ul 6:20.
    2. Dalam perikop “Yesus ditolak di Nazaret” (Luk 4: 16-30) dijelaskan bahwa Yesus membaca dari gulungan Kitab Yesaya, dan kemudian menyampaikan khotbah. Jelas bahwa Yesus tidak buta huruf. Tetapi tokh masih ada juga yang mengartikan bahwa perikop ini (Luk 4:16-30) merupakan pengembangan dari Mrk 6:1-6, di mana dalam perikop Markus tidak ada penjelasan tentang pembacaan Alkitab.
    3. Dalam perikop “Perempuan yang berzinah” (Yoh 7: 53 – 8:11), dalam ayat 6 disebutkan : “Mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Dia, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkanNya. Tetapi Yesus membungkuk lalu menulis dengan tanganNya di tanah”. Dari sini jelas bahwa Yesus itu melek huruf. Tetapi kembali, bisa saja hal itu ditafsir sebagai hanya sekedar membuat corat-coret di tanah. Jadi bukan menulis yang sesungguhnya.Tetapi bagaimana kalau hal itu kita hubungkan dengan Yoh 7:15: “”Maka heranlah orang-orangYahudi dan berkata: Bagaimanakah orang ini mempunyai pengetahuan demikian tanpa belajar?” Secara harafiah mereka bertanya bagaimana Ia (Yesus) “mengenal huruf-huruf, tanpa belajar” (atau “belum belajar”). Di balik pertanyaan ini tersirat adanya pengetahuan yang dimiliki oleh Yesus tanpa harus duduk di bawah kaki seorang rabi terkenal, terlatih, atau bijaksana.Bagaimana pun juga kalau Ia telah dikenal sebagai seorang yang memiliki pengetahuan, maka fakta ini telah menyangkal fakta buta huruf.
    4. Tingkat melek huruf di kekaisaran Romawi  pada zaman Yesus diperkirakan 5%, dan tingkat melek huruf di kalangan orang Yahudi lebih tinggi. Tetapi betapapun tingkat melek huruf tersebut, data tersebut tidak harus memberi tahu kita apa pun tentang orang tertentu, yang dalam kasus ini adalah Yesus dari Nazaret. Karena tingkat melek huruf rendah, maka Ia termasuk yang buta huruf. Di samping itu kesan umum pada orang-orang termasuk musuh-musuhNya memberi kesan bahwa Yesus tidak buta huruf. Ia sungguh-sungguh melek huruf secara fungsional.
    5. Dengan memperhatikan tingginya nilai yang dikatakan pada Alkitab (atau Taurat Musa) dan kemelek-hurufan dalam dunia Yahudi, khususnya di kalangan orang Yahudi yang memandang penting Taurat Musa, kita tahu bagaimana situasi dan kondisi masyarakat pada saat itu. Dari segala sesuatu yang kita pelajari tentang Yesus, kita tahu seperti itulah pribadi Yesus yang sebenarnya. Ia belajar Alkitab secara sungguh-sungguh. Dan dalam mengajar Ia sering mengutip ayat-ayatnya; juga berdebat dengan para imam, ahli Taurat, dan juga para tokoh dan kelompok  keagamaan. Dari sini jelas, bukti ini lebih condong menegaskan bahwa Yesus melek huruf.
    6. Yesus banyak kali disebut dengan sebutan “Guru” (dalam bahasa Ibrani “rabi”; dalam bahasa Aram “rabuni”).  Sebutan “guru” mengindikasikan Yesus, bisa membaca. Dan Yesus sendiri dan juga orang-orang lain memanggil pengikut terdekatNya dengan “murid”. Dengan adanya terminologi guru dan murid menciptakan dugaan kuat yang mendukung kemelek-hurufan Yesus. Dan dalam tradisi Yahudi, sulit mempercayai rabi yang butahuruf dan dikelilingi oleh para murid (yang banyak). Apalagi selain mengajar Ia juga berdebat dengan rabi-rabi dan ahli Taurat tentang Alkitab dan penafsirannya.
    7. Kadang-kadang Yesus sendiri mengacu kepada pembacaan Alkitab.
      1. Yesus bertanya kepada orang-orang Parisi yang mengkritik para muridNya karena memetik gandum pada hari Sabat: “Belum pernahkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya kekurangan dan kelaparan?” {Mrk 2: 25 bdk Mat 12: 3). Dalam Mat 12: 3 jelas sekali: “Tidakkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika…..”. Ini pun jelas mengindikasikan Yesus melek huruf.
      2. Yesus menambahkan (dalam kasus huruf a tersebut di atas): “Tidakkah kamu baca dalam kitab Taurat, bahwa pada hari-hari Sabat, imam-imam melanggar hukum Sabat di Bait Allah, namun tidak bersalah?” (Mat 12: 5; bdk 19: 4). Tentu Yesus memahami hukum hari Sabat.
      3. Waktu Yesus mengajar orang kaya yang ingin memperoleh hidup yang kekal (Luk 18: 18-27) Yesus mengatakan: “Engkau tentu mengetahui segala perintah Allah: Jangan berzinah, jangan membunuh, jangan mencuri ….”(ay 20). Ini mnengindikasikan bahwa Yesus pun membaca dan memahaminya secara penuh (bdk Mat 19: 16-26; Mrk 10: 17-27).
      4. Dalam konteks polemik yang lain Yesus bertanya kepada imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat dan tua-tua: “Tidak pernahkah kamu membaca nas ini: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru” (Mrk 12: 10; bdk Mzm 118: 22-23).
      5. Dalam menjawab pertanyaan orang Saduki yang bertanya tentang kebangkitan, Ia menjawab: “Dan juga tentang bangkitnya orang-orang mati, tidakkah kamu baca dalam kitab Musa, dalam cerita tentang semak duri, bagaimana bunyi firman Allah kepadanya: Aku-lah Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub? Ia bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup. Kamu benar-benar sesat!” (Mrk 12: 26-27; bdk Kel 3:6). Ayat-ayat tersebut bagi Yesus mengacu kepada pemahaman  atau penafsiran. Rupanya orang-orang Saduki tidak mampu menafsirkannya sehingga Yesus berkata demikian.
      6. Demikian daftar tersebut masih bisa ditambah untuk mengindikasikan bahwa Yesus tidak buta huruf. Dalam Kitab Suci tidak pernah dipermasalahkan tentang hal tersebut.  Kemampuan membaca Yesus tampaknya merupakan hal biasa, bukan suatu isu. Juga tidak ada bukti kecenderungan apologetik di mana kemampuan sastra Yesus terlalu dilebih-lebihkan. Jadi, kesimpulannya, seberapa pun tingkat kemelek-hurufan pada zaman Yesus, kecenderungannya lebih besar bahwa Yesus tidak buta huruf.
        Apa pun kata mereka, percaya sajalah kepada-Nya.
  4. YESUS TIDAK TERTARIK PADA ALKITAB
    Ada kelompok yang mengatakan bahwa Yesus tidak tertarik pada Alkitab; atau dengan lain perkataan bahwa Alkitab itu hanya menarik bagi orang-orang Kristen mula-mula (Kristen Perdana), tetapi tidak bagi Yesus. Maka, kalau kelompok ini menjumpai dalam Alkitab suatu perikop di mana Yesus mengutip atau pun menyinggung Alkitab, kelompok ini menganggap dan memandangnya bahwa yang berbicara itu adalah gereja perdana, bukan Yesus.
    Tentu aneh! Bagaimana Ia disebut guru kalau Dia itu bukan siapa-siapa. Guru apa? Apa yang diajarkan oleh Yesus semuanya berakar pada Alkitab. Dan para muridNya – “para pelajar” – belajar dari Dia dan meneruskan AjaranNya. Apakah Ajaran Yesus itu tidak merujuk pada Alkitab? Atau  hanya sedikit merujuk pada Kitab Suci, sehingga para muridNya harus menambahkannya?
    Ini tidak masuk akal. Logika yang sederhana dan lebih bagus adalah ini: bahwa suatu perikop Kitab Suci tertentu menjadi penting bagi gereja perdana dan dipahami dengan cara tertentu, adalah karena hal tersebut diajarkan oleh Yesus (sendiri). Selanjutnya para murid mempelajari dan meneruskannya kepada orang-orang  Kristen bukan siapa-siapa atau orang-orang tanpa nama, melainkan Yesus sendiri.
    Yesus mengutip atau menyinggung 23 dari 36 kitab dalam Kitab Ibrani (dengan menghitung Kitab Samuel, Raja-raja, dan Tawarikh). Ia juga menyinggung atau mengutip dari kelima Kitab Musa (Taurat), juga dari Yesaya, Yeremia dan Yehezkiel (nabi-nabi besar), serta delapan dari dua belas nabi-nabi kecil dan lima tulisan-tulisan. Dengan kata lain Yesus menyinggung atau mengutip hampir semua atau sebagian besar kitab Nabi dan Tulisan-tulisan.
    Jadi Yesus yang melek huruf itu, adalah Yesus yang bisa membaca Alkitab serta mengungkapkannya dengan frase lain dan menafsirkannya dalam bahasa Aram (bahasa daerahNya) yang ungkapanNya itu bisa dipahami baik oleh kalangan populer (di sinagoga) maupun kalangan profesional, dan bahkan kalangan elit (seperti terlihat dalam perdebatanNya dengan ahli Taurat, imam-imam yang berkuasa, dan tua-tua ).
    “Gerakan” yang didirikan Yesus ini menghasilkan warisan sastra, termasuk keempat Inji, kisah tentang gereja perdana (Kisah Para Rasul) dan sejumlah Surat. Percayalah, bahwa Yesus melek huruf dan kerap kali merujuk pada Kitab Suci ketika mengajar, itu adalah indikasi bahwa Ia tertarik pada Alkitab.
  5. ESKATOLOGI
    Eskatologi mengacu pada studi tentang hal-hal terakhir atau puncak. Di dalam teologi Yahudi dan Kristen, eskatologi biasanya mengacu pada penggenapan akhir rencana Allah. Yaitu suatu hari pada masa yang akan datang, di mana segala hal akan menjadi nyata dan sangat berbedaa. Ada kelompok yang menganggap bahwa Yesus tidak berminat terhadap hal-hal eskatologis.
    Bagaimana itu persisnya tentang kedatangan Kerajaan Allah berkaitan dengan eskatologis, sudah sejak dulu para murid bertanya kepadaNya yang sudah bangkit: “Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?” (Kis 1: 6).
    Spekulasi tentang akhir zaman, memang merupakan diskusi yang mengasyikkan bagi banyak orang beriman bahkan sampai hari ini.
    Kerajaan Allah itu mencakup unsur waktu (Allah memerintah sekarang, dan Ia akan memerintah pada masa yang akan datang) dan unsur ruang (Allah memerintah di Sorga, tetapi juga di bumi). Juga unsur linguistik (kebahasaan) di perhitungkan juga, maka itu akan berarti “pemerintahan Allah”. Dan pemerintahan Allah sungguh-sungguh dinyatakan dalam pelayanan Yesus melalui kesembuhan dan lebih-lebih melalui pengusiran setan.
    “Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepaddamu” (Luk 11: 20).
    Doa Bapa Kami (Luk 11: 2-4; Mat 6: 9-13) berisi bahwa kita harus berdoa (dan ini yang diajarkan Yesus) agar Allah membuat namaNya kudus dan agar pemerintahan Allah segera datang dan kita harus berdoa agar kita hidup benar dan penuh harapan berkaitan dengan pengharapan dalam doa ini. Yesus tidak mengajar para muridNya berdoa untuk datangnya akhir dunia, melainkan untuk berdoa agar pemerintahan Allah datang pada akhirnya dan sepenuhnya, “di bumi seperti di sorga”.
    Jadi imanilah ini: bahwa Yesus memanggil umatNya untuk bertobat dan menerima pemerintahan Allah, satu pemerintahan yang mengubah seseorang, masyarakat dan ….. akhirnya seluruh bumi.
  6. GAMBARAN MESIAS
    Sering diajukan pertanyaan, apakah Yesus memahami diri-Nya sebagai Mesias Israel? Mesias dalam bahasa Ibrani mempunyai arti “yang diurapi”. Dan dalam Perjanjian Lama kata tersebut digunakan untuk merujuk pada tiga jabatan yaitu: imam yang diurapi, raja yang diurapi, dan nabi yang diurapi. Tetapi setiap kali kita berbicara tentang mesianisme, biasanya merujuk pada ide tentang raja yang diurapi, dan biasanya dipahami sebagai keturunan Daud.
    Pada zaman Yesus, mesianisme berkaitan dengan harapan akan kedatangan keturunan Daud yang diurapi, yang akan memulihkan Israel (akan membebaskan Israel dari penjajah – Roma).
    Kitab Mazmur dan Yesaya merupakan nubuat yang akan digenapi ketika “Mesiasnya” (mesias Allah) menyatakan diri. Yohanes Pembaptis yang sedang di penjara dan merasa tawar hati, menyuruh murid-muridnya untuk bertanya kepada Yesus, “Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?” Dan bagaimana jawab Yesus, Ia menjawab dengan pilihan kata dan frase-Nya sendiri dari nubuat:

    “Pergilah dan katakanlah kepada Yohanes apa kamu yang dengar dan kamu lihat: orang buta melihat, dan orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, dan orang tuli mendengar(Yes 35: 5-6), dan orang mati dibangkitkan [Yes 26: 19] dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik [Yes 61:1]. Dan berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku” (Mat 11: 4-6; tekanan diberikan).

    Dengan jawaban yang demikian kepada Yohanes, Yesus dengan jelas menyi-ratkan bahwa Ia sungguh-sungguh adalah Mesias Israel; sebab hal-hal ajaib yang dipandang akan terjadi ketika Mesias muncul, sungguh-sungguh terjadi dalam pelayanan-Nya.
    Setelah dibaptis, Yesus diberitahu oleh suara dari Surga: “Engkaulah Anak yang Kukasihi, kepadaMu-lah Aku berkenan” (Mrk 1: 11).
    “AnakKu engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini” (Maz 2: 7).
    Dan Maz 2:2 merujuk  pada Mesias Tuhan. Dari semua kutipan ayat tersebut (Mrk 1: 11; Mzm 2: 2, 7) dan jawaban Yesus kepada Yohanes Pembaptis jelas bahwa Yesus memahami pelayanan-Nya dalam pengertian mesianik.
    Dalam pikiran Yahudi (kuno) tidak ada konsep Mesias yang mati dan dibangkitkan . Karena Mesias itu dicirikan sebagai figur yang tidak bisa mati. Maka, kematian dan kebangkitan bukan merupakan pola mesianik.
    Yesus tentu sudah mendorong para murid untuk memikirkan tentang Dia dalam pengertian mesianik, karena itu penemuan kubur kosong dan penampakan kebangkitan-Nya yang menarik akan menuntun mereka kepada pengertian bahwa Yesus adalah Mesias Israel. Jadi, sebelum Paskah, Yesus sungguh-sungguh sudah dipahami sebagai Mesias dan bahwa Paskah semakin meneguhkan pemahaman ini dalam pikiran dan iman para murid.
    Akhirnya, perlu disebut di sini tentang penyebutan diri-Nya sendiri sebagai “Anak Manusia”. Memang tidak ada bukti yang jelas bahwa “Anak Manusia” pada zaman Yesus dipahami sebagai gelar Mesias. Tetapi dengan menyebut diriNya sendiri “Anak Manusia”, Ia menyinggung tokoh rahasia anak manusia dalam Daiel 7: 13-14:
    “Aku terus melihat dalam penglihatan malam itu, tampak datang dengan awan-awan dari langit seorang seperti anak manusia; datanglah ia kepada Yang Lanjut Usianya (“Allah”) itu, dan ia dibawa ke hadapanNya. Lalu diberikan kepadanya kekuasaan dan kemuliaan dan kekuasaan sebagai raja, maka orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa mengabdi kepadanya. Kekuasaannya ialah kekuasaan yang kekal, yang tidak akan lenyap, dan kerajaannya ialah kerajaan yang tidak akan musnah”.

    Bahwa Yesus sendiri memahami diri-Nya sendiri sebagai tokoh tersebut, mendukung butir yang telah dinyatakan, yaitu bahwa Yesus sungguh-sungguh memahami diri-Nya sebagai Mesias Israel. Artinya identitas Mesianik bagi Yesus bukannya muncul sesudah Paskah, tetapi sudah sejak sebelum Paskah. Percayalah!!!
  7. YESUS DIANGGAP SEORANG GNOSTIK
    Gnostisme adalah suatu faham dan aliran tentang penyelamatan melalui pengetahuan (=gnosis; Yun). Penganut faham sebenarnya adalah penganut berbagai sekte yang sudah ada sebelum Yesus lahir. Pada abad ke-1 sudah muncul para penganut gnosis yang mengaku bahwa mereka mengetahui misteri alam semesta.
    Dalam ajarannya itu mereka mengutip Injil untuk mendukung ajarannya. Tetapi materi ajarannya bertentangan dengan roh, dan alam semesta merupakan suatu wujud yang buruk dari pencipta sendiri. Walaupun gnostisme bukan merupakan agama tersendiri, tetapi ajaran gnostisme merasuki hampir semua bidah besar. Mereka menyangkal terhadap wahyu obyektif yang terpenuhi pada zaman para Rasul, dan terhadap kenyataan bahwa Kristus menetapkan kuasa mengajar dalam GerejaNya untuk menafsir dengan tepat arti sabda Allah yang diwahyukan.
    Tuduhan Yesus sebagai seorang gnostik sungguh-sungguh bertentangan dengan fakta yang sebenarnya. Bagaimana bisa masuk akal bahwa alam semesta adalah wujud yang buruk dari pencipta sendiri. Allah menciptakan alam semesta itu keluar dari kasihNya yang dalam. Ia menciptakannya dengan kasih maka Ia pun mengasihinya dengan penuh kasih. Dan apa yang diciptakanNya, semuanya dalam keadaan yang (sungguh amat) baik adanya (Kej 1: 10, 12, 18, 21, 25, 31).
    Sungguh sesat pikiran mereka. Dan lebih sesat lagi, adanya pendapat yang bertanya apakah Yesus sungguh-sungguh pernah hidup?
    Biarkan anjing menggonggong, kafilah tetap lalu. Apa pun kata mereka tentang Dia, percayalah saja kepada-Nya.

    “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepadaKu” (Yoh 14: 1).
    “Kata Yesus kepadanya: Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya” (Yoh 20:27).
  8. YESUS PURA-PURA MATI ?
    Berkaitan dengan topik ini sudah lama muncul sanggahan bahwa Yesus tidak mati. Sanggahan tersebut pun bervariasi. Ada yang mengatakan bahwa yang disalib itu bukan Yesus tetapi orang lain yang mirip dengan Yesus, karena Yesus pandai menyelinap. Bagaimana Ia bisa menyelinap kalau sejak vonis hukuman mati, Ia sendiri yang harus memanggul salibmenuju ke bukit penyaliban (Golgota).
    Sanggahan lain berkomentar bahwa Yesus itu orangnya kuat, dengan argumentasi: siksaan yang begitu berat menurut ukuran manusia, Ia tidak mati di tengah jalan. Ia tetap kuat kuat sampai puncak Golgota dan tidak mati. Maka sewaktu disalib Ia pura-pura mati. Dan waktu malam setelah keadaan sepi Ia keluar dari kuburan, dan pergi. Bagaimana Ia dapat keluar dari kuburan, kalau secara manusiawi kuburan itu ditutup dengan batu besar yang untuk menggeser tutup kuburan tersebut butuh (banyak) beberapa orang. Dan bagaimana Ia dapat lolos, sebab kuburan itupun dijaga oleh prajurit-prajurit (yang sudah meramal bahwa Yesus akan bangkit pada hari ketiga). Bahkan direkayasa juga, bahwa pada waktu malam, sementara para penjaga tertidur, para muridNya datang dan mencuri Dia.
    Semuanya itu merupakan lelucon yang tidak lucu. Bagaimana Ia dapat menjumpai para muridNya serentak di tempat yang berbeda pada waktu yang sama? Cerita kebangkitan-Nya dalam Injil Kanonik adalah cerita resmi. Itulah yang harus kita imani. “Nihil Obstat”, tidak ada yang bertentangan dengan Ajaran Gereja. “Imprimatur” boleh dicetak.
    Bahkan yang menggelikan adanya tukang mimpi di siang bolong yang mengatakan bahwa Yesus menulis surat kepada Pengadilan Yahudi untuk menjelas-kan bahwa Ia tidak pernah mengatakan kalau Ia itu adalah Anak Allah. Itu hanyalah suatu salah paham saja. Apakah dengan ini Ia bermaksud agar Ia diampuni dan tidak dihukum mati?
    Yesus taat kepada Bapa-Nya. Ia harus menapaki jalan itu (=salib) untuk terlaksananya rencana Bapa-Nya. Salib bukanlah kekalahan tetapi kemenangan. Salib bukanlah kehancuran tetapi kemuliaan  (kebangkitan yang mulia).
  9. SUARA ANGIN LALU
    Ada yang menganggap bahwa Yesus itu memang Mesias Israel, hamba Tuhan, dan mungkin nabi terbesar yang pernah ada. Ia bisa disebut sebagai “anak” Allah tetapi tidak dalam pengertian Tritunggal Mahakudus, di mana Ia dipandang sebagai sepenuhnya Allah dan sepenuhnya manusia. Dalam hal ini mereka meminimalkan sifat ilahi Yesus.
    Bahkan ada kelompok yang berargumentasi bahwa kelompok tersebut tidak tahu siapa Yesus itu sebenarnya, tentang apa yang Ia katakan, perbuat atau meng-anggap diri-Nya sendiri. Juga bagaimana pandangan murid-murid-Nya terhadap Dia. Kelompok ini meragukan, karena Injil Perjanjian Baru kurang sekali menjelaskan tentang hal itu.
    Mereka lupa bahwa Injil (Kitab Suci) bukanlah buku sejarah, bukan buku tentang ilmu pengetahuan, bukan buku yang berisi “resep-resep siap pakai” untuk segala persoalan hidup manusia. Kitab Suci adalah buku tentang perjalanan/perkembangan iman bangsa Israel. Buku tentang relasi umat dengan Allah penciptanya.
    Bahkan ada pendapat yang sungguh menyakitkan perut karena kegelian, bahwa tidak pernah ada Yesus sejarah; bahwa Yesus adalah tokoh fiktif. Biarlah semua cerita-cerita tersebut berlalu bersamaan dengan hembussan angin senja.

Powered by Blogger.