Kain Dan Habel

 Kejadian 4:2-16

  1. Memang maut tidak diciptakan oleh Allah dan Allah pun tidak bergembira karena yang hidup menjadi lenyap musnah. Tujuan Allah menciptakan segala sesuatu adalah supaya ada. Dan penciptaan yang paling sempurna utama, manusia, adalah untuk kebakaan dan menjadikannya gambar hakekatNya sendiri tetapi karena dengki setan maka maut masuk ke dunia (Kej 1: 13-14; 2: 23-24), dan yang menjadi milik setan mencari maut itu. Maut masuk ke dalam dunia karena kedengkian setan dan juga karena dosa “orang tua” kita yang pertama (Kej 3: 17-19).
  2. Hati Kain menjadi “sangat panas” dan mukanya “muram” karena Allah mengindahkan persembahan korban Habel sedang persembahan korbannya tidak diindahkanNya (Kej 4: 4-5). Maka dibunuhlah Habel oleh Kain, saudaranya sendiri. Kitab Suci memang tidak menyingkapkan alasannya mengapa Allah mengindahkan atau tidak mengindahkan persembahan-persembahan korban tersebut.
    Dengan peristiwa pembunuhan itu Kain diusir oleh Allah, ia dihukum, hidup di hutan dan padang gurun. Kekerasan pembunuhan mengubah lingkungan hidup manusia secara mendalam. Bumi yang dulu berupa “Taman Eden”, tempat kelimpahan, hubungan antar pribadi yang penuh keharmonisan dan persahabatan dengan Allah, sekarang bumi menjadi “tanah Nod”, daerah yang gersang, sunyi-sepi, dan …. Jauh dari Allah. Kain sekarang menjadi terkutuk baik oleh Allah maupun oleh bumi, sehingga bumi tidak menghasilkan buah lagi seperti sebelumnya. Kain menjadi seorang pelarian, pengungsi dan pengembara di bumi (Kej 4: 14).
  3. Kain yang sebelumnya hidup penuh kedamaian dan kelimpahan, sekarang terusir dari hadirat Allah dan berada dalam pembuangan yang jauh dari tanah kelahirannya. Berubahlah dia sekarang dan hidup yang lebih mirip dengan hidup binatang buas yang ganas. Dan kalau hukum diberlakukan secara langsung kepada terdakwa, maka para pelaksana keadilan langsung dapat bertindak tidak perlu menunggu tempo dan tak butuh tenggang rasa. Si terdakwa langsung disiksa. Itulah “hukum balas dendam”.
    Tetapi Allah selalu Maharahim kalau tokh harus menghukum. Itulah sebabnya Kain diberi “tanda” oleh Allah, agar siapa pun yang berjumpa dengannya tidak menuntut balas. Bahkan siapa pun yang menuntut balas kepada Kain akan dibalaskan tujuh kali lipat (Kej 4: 15). Bukti kerahiman Allah terhadap pembunuh.  Apa itu wujud “tanda” yang diberikan kepada Kain , Kitab Suci tidak juga mengungkapkan, tetapi bisa dimaknai bahwa itu  “perlindungan Allah” sehingga terhindarlah hukum balas dendam terhadap Kain.
  4. “Apakah yang telah kau perbuat ini? Darah adikmu itu berteriak kepadaKu dari tanah” (Kej 4: 10).Pertanyaan tersebut yang doeloe ditujukan kepada Kain, di zaman sekarang ditujukan kepada kita (semua orang):
    1. Untuk membantu kita (semua orang) akan meluas dan gawatnya serangan-serangan  yang melawan hidup yang masih menandai sejarah manusia.
    2. Untuk membantu kita (siapa saja) menggali, apakah yang menyebabkan dan terus-menerus mendorong serangan-serangan itu.
    3. Untuk menolong kita (siapa saja) mempertimbangkan secara serius konsekuensi-konsekuensi serangan-serangan itu bagi kehidupan orang-orang dan bangsa-bangsa.
  5. Sungguh mengerikan dunia ini, kalau hanya kebencian dan “konflik-konflik kepentingan” bisa mendorong orang untuk melakukan penyerangan terhadap sesama melalui pembunuhan, perang, pembantaian atau “penumpasan” suku.
    Kekerasan-kekerasan yang berdampak pada perusakan hidup, saling kait mengkait dan ditambah adanya skandal besar. Perang, jelas merupakan kekerasan, diperhebat lagi adanya sakndal perdagangan senjata yang besar. Kejahatan penyebaran obat-obat bius merusak generasi dan menghancurkan kemurnian dan kesucian moral seksual.
    Aborsi (termasuk eutanasia) adalah perampasan hidup, yang hidup itu adalah milik Allah. Sungguh kejam manusia, ia yang diciptakan oleh Allah telah melawan Allah dan merampas hak Allah.
    Penyalahgunaan wewenang yang berkaitan keuangan yang memboroskan keuangan negara “dianggap salah prosedur”. Dampak lainnya, seorang koruptor dianggap masih “baik” dan “wajar”, hanya karena ada orang lain yang korupsinya lebih banyak dari dia. Sepertinya dunia ini telah penuh dengan kejahatan dan hak hidup manusia (nyawa) sepertinya tidak terlalu berharga.
  6. “Apakah aku penjaga adikku?”(Kej 4:9). Pertanyaan Tuhan kepada Kain yang menanyakan di mana adiknya, Habel, oleh Kain dijawab: “Aku tidak tahu! Apakah aku penjaga adikku?” (Kej 4). Kain lupa bahwa manusia diciptakan oleh Allah dalam kebebasan yang mencakup dimensi relasional (hubungan). Artinya bahwa setiap orang adalah “penjaga saudaranya” sebab Allah mempercayakan manusia (kita) satu kepada yang lain (dimensi relasional). Nah kalau kebebasan itu dimutlakkan secara individualistis (egoistis) maka kebebasan tersebut menjadi kosong makna. Aku bukan penjaga saudaraku (orang lain). Kalau sikap ini dimutlakkan maka mau tak mau orang-orang akan mencapai ekstrem saling menolak, saling lepas tanggung jawab. Kalau dinamika pertanggung jawaban, ia akan menghindar, mencari dalih atau mencari “kambing hitam”, obyek yang dijadikan sasaran sebagai yang bertanggung jawab.
    Bila terjadi yang demikian maka masyarakat sebenarnya hanya merupakan orang-orang yang saling berdampingan semata yang lepas dari dimensi relasional. Akibatnya hak-hak yang perdana dan mendasar yaitu hak atas hidup tidak lagi merupakan hak azazsi dan hak Allah melainkan berubah status menjadi “barang biasa”.
  7. “Darah adikmu itu berteriak kepadaKu dari tanah” (Kej 4:10). “Darah” adalah lambang hidup. Ketika “darah” tersebut tertumpah dengan cara tak wajar maka “darah” tersebut kembali kepada pemilikNya dalam wujud “teriakan”. Walaupun Kain tidak dengan terus terang mengaku(i) tentang apa yang telah diperbuat terhadap adiknya, Allah akan tahu karena “darah” itu yang berteriak dan lapor. Demikianlah setiap kejahatan, sekecil apapun akan diketahui oleh Allah. Orang  bisa bersembunyi dari pengamatan orang lain, tetapi tidak dari Tuhan. Inilah yang harus diimani, bahwa Allah mengetahui kita sepenuhnya, saampai ke dalam lubuk/relung hati kita yang terdalam.
  8. “Aku akan tersembunyi dari hadapanMu” (Kej 4: 14). Karena dosanya membunuh Habel, adiknya, Kain kemudian diusir dari hadapanNya. Manusia modern zaman sekarang pun mengalami tragedi yaitu surutnya kesadaran akan Allah yang seterusnya juga membawa kepada surutnya kesadaran akan sesama, akan martabat dan hidupnya. Dan kalau itu terjadi maka makin gelaplah kemampuan manusia untuk mengenali kehadiran Allah, Penyelamat yang hidup.
    Menyadari atas dosanya itu Kain kemudian berkata kepada Allah: “Hukumanku itu lebih besar daripada yang dapat kutanggung. Engkau menghalau aku sekarang dari tanah ini dan aku akan tersembunyi dari hadapanMu, seorang pelarian dan pengembara di bumi; maka barangsiapa yang akan bertemu dengan aku, tentulah akan membunuh aku”  (Kej 4: 13-14).
    Pernyataan tersebut mengandung makna bahwa Kain menyadari kalau dosanya tidak akan diampuni oleh Tuhan; dan nasib selanjutnya jelas tak dapat dihindari lagi, yaitu “menyembunyikan wajahnya” terhadap Tuhan. Kain dapat mengakui dosanya yang besar karena ia (bisa) menyadari  bahwa ia berada di hadirat Allah dan di hadapan pengadilan Allah yang adil. Memang hanya dihadirat Allah manusia dapat mengakui dosanya dan mengetahui seberapa besar dosanya itu.
    Kita ingat cerita Daud yang menggauli Batsyeba, isteri Uria. Setelah ia diperingatkan oleh Nabi Nathan, ia menyadari sepenuhnya dan kemudian bertobat; maka Daud pun tetap bisa menjadi raja Israel (2Sam 11 – 12; bdk Mzm 51: 5-6). Kalau kesadaran akan Allah hilang maka kesadaran akan manusia (sesama) akan teracuni dan terancam. “Tanpa Sang Pencipta akan musnahlah ciptaan …. Akan Maksudnya selalu diampuni.
    tetapi bila Allah dilupakan, ciptaan sendiri sudah tidak dapat dimengerti lagi”. Manusia sudah tidak dapat lagi melihat dirinya bahwa ia “berbeda secara misterius” dari ciptaan-ciptaan lain di dunia ini.
    Sudahkan kita menyadari atas segala kekurangan, kesalahan, dan dosa-dosa kita, dan …. Menyadarinya? Semoga !
  9. Kasih Allah yang tanpa batas dan tanpa syarat tetap diperlihatkan kepada orang yang berdosa kepadaNya. Kain yang akan mengalami pembunuhan dibunuh sebagai konsekuensi hukum “hutang darah”, oleh Allah diberi “tanda” sebagai indikasi bahwa “tanda” tersebut akan membebaskan dia dari usaha pembunuhan balas dendam. Artinya siapa pun yang akan membunuh Kain, setelah melihat “tanda” tersebut akan mengurungkan niatnya.
    Mari melihat/menyimak “tanda” pada orang lain yang berbuat jahat kepada kita. Ampunilah mereka, dan bukan hanya tujuh kali, tetapi tujuh puluh jali tujuh kali (Mat 18: 22). 
  10. Surutnya kesadaran akan Allah dan juga akan sesama (manusia) mau tidak mau akan menyeret kepada materialisme praktis yang akan menumbuhkan individualisme, utilitarisme, dan hedonisme. Dan kata-kata Rasul Paulus kepada jemaat di Roma terngiang kembali: “Dan karena mereka tidak merasa perlu untuk mengakui Allah, maka Allah menyerahkan mereka kepada pikiran-pikiran yang terkutuk, sehingga mereka melakukan apa yang tidak pantas” (Rm 1: 28).
    Nafsu materialisme praktis akan melahirkan semboyan humor : “Ing ngarso ngumbar angkoro, ing madyo emoh rekoso, tut wuri hanggémboli”
Powered by Blogger.