Kebenaran Pokok

Kabar Keselamatan berdasarkan Kitab Suci harus diwartakan. Dan pesan utamanya adalah: Empat Kebenaran Pokok yang mendasari seluruh Injil. Adapun empat kebenaran pokok tersebut adalah:

  1. Rencana Allah : Allah mencintai 
  2. Masalah kita    : Kita semua berdosa.
  3. Jawaban Allah : Yesus.
  4. Tanggapan kita: Kita bebas menerima atau menolak. 
  1. Allah sungguh mencintai kita (ciptaanNya) dan menghendaki agar kita mempunyai hidup yang bahagia dan berkelimpahan (lih Yoh 10: 10). Untuk mengetahui seberapa besar cinta Allah kepada kita bisa dirujuk pada Kisah Penciptaan.
    1. Dalam mencipta, karya itu disertai dengan cinta kasihNya. Apa yang diciptakanNya semuanya dalam keadaan baik adanya (Kej 1). Allah tidak hanya mencipta tetapi juga memberikan pertumbuhan.
    2. Ciptaan yang paling agung adalah manusia yang keadaannya sungguh amat baik.
    3. Bagaimana Allah menciptakan manusia adalah menurut gambarNya; laki-laki dan perempuan diciptakanNya mereka (Kej 1:27). Selain itu Allah juga memberikan kuasa kepada manusia atas segala ciptaan. Sungguh amat besar martabat ini.
    4. Manusia diciptakan untuk bersahabat dengan Allah. “Allah berjalan dengan manusia “, “Allah berbicara dengan manusia” (Kej 3). Ini merujuk kepada hubungan yang intim yang dikehendaki Allah dengan segala ciptaanNya. Tetapi bagaimana sikap manusia?
  2. Manusia ternyata selalu jatuh dalam dosa:
    1. * Makan buah terlarang (Kej 3)
      * Membunuh saudara sendiri (Kej 4: Kain & Habel)
      * Kejahatan dan kebobrokan manusia pada zaman Nuh (Kej 6-7)
      * Dengan arogan membangun Menara Babel (Kej 11)
    2. Allah tidak begitu saja membiarkan manusia menderita. Kasih Allah diperlihatakan dalam kisah penciptaan:  
      • Sewaktu Adam dan Hawa diusir dari Taman Eden, Allah memberikan pakaian dan janji-janji bahwa keturunan wanita akan meremukkan kepala ular.
      • Kain diberi “tanda” agar ia terhindar dari hukum balas dendam.
      • Dalam cerita Nuh, proses pembebasan manusia mengambil bagian hampir seluruh cerita.
      • Sesudah kisah Babel menyusul kisah Abraham, awal pemulihan hubungan cinta Kasih Allah dengan manusia, yang akan dilaksanakan melalui PuteraNya, Yesus Kristus. 
    3. Karena dosa, maka manusia terpisah dari kasih Allah. Dengan daya dan upayanya sendiri manusia tidak bisa kembali kepada Allah. Karena begitu besar cinta Allah kepada ciptaanNya (dunia ini) maka Allah mengutus PuteraNya yang Tunggal, supaya setiap orang mau percaya kepadaNya agar mereka tidak binasa akan tetapi memperoleh hidup yang kekal (Yoh 3:16).
      Dan kehendak Allah adalah supaya semua bersatu dalam Kristus sebagai persiapan kegenapan waktu untuk mempersatukan mereka di mana Kristus sebagai Kepala segala sesuatu baik di sorga maupun di bumi (Ef 1: 9-10).
    4. Kita kurang peka dan menyadari bahwa Allah memperhatikan kita dan mempunyai rencana yang khusus bagi kita. Dan rencana Allah tersebut adalah satu damai sejahtera bukan satu rencana kecelakaan, karena tujuanya adalah untuk memberi hari depan kepada kita yang penuh harapan (Yer 29: 11).
      Perhatian Allah kepada kita meliputi sampai pada hal yang sekecil-kecilnya. “Perhatikanlah bunga bakung, yang tidak memintal dan menenun, …. Jadi jika rumput di ladang yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api demikian didandani Allah, terlebih lagi kamu, hai orang yang kurang percaya!” (Luk 12: 27-28).
    5. Bukan seperti pencuri yang datang hanya untuk mencuri, membunuh dan membinasakan, tetapi Allah datang supaya kita mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan (Yoh 10: 10). 
  3. Gambaran kedosaan manusia diawali dengan adanya bujukan dan kata-kata diplomatis/pancingan yang menjurus kepada pelanggaran. “Tentu Allah berfirman: semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?” (Kej 3:1)
    “Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya, matamu akan terbuka dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat” (Kej 3: 4-5).
    • Semua orang terikat oleh ikatan dosa.
      “Tidak seorang pun mencari Allah. Semua manusia terikat dalam dosa” (Rm 3: 11).
      “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah” (Rm 3: 23).
      “Sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa” (Rm 5:12).
    • Iblis adalah pendusta dan bapa segala dusta. Karena itu jangan ikuti dia!” (Yoh 8: 44).
      Dosa itu berkaitan dengan dusta dan penipuan.
      “Jika kita katakan, bahwa kita beroleh persekutuan dengan Dia, namun kita hidup di dalam kegelapan, kita berdusta dan kita tidak melakukan kebenaran” (1Yoh 1:6).
      “Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita tidak maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita” (1Yoh 1:8).
      “Barangsiapa berkata: Aku mengenal Dia, tetapi ia tidak menuruti perintahNya, ia adalah seorang pendusta dan di dalamnya tidak ada kebenaran” (1Yoh 2: 4).
      “Barangsiapa berkata, bahwa ia berada di dalam terang, tetapi ia membenci saudaranya, ia berada di dalam kegelapan sampai sekarang” (1Yoh 2: 9).
      “Siapakah pendusta itu? Bukankah dia yang menyangkal bahwa Yesus adalah Kristus? Dia itu adalah anti Kristus, yaitu dia yang menyangkal baik Bapa maupun Anak” (1Yoh 2: 22).
      “Kalau seorang berkata: Aku mengasihi Allah, dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya” (1Yoh 4: 20).
      Ingat, bahwa upah dosa ialah maut (Rm 6:23).
  4. Karena dosa, manusia menjadi terpisah dari Allah. Terdapat jurang pemisah (gap) antara manusia dengan Allah. Maka muncullah macam-macam teori dan pendapat untuk mengajukan sara sebagai jembatan yang dapat menghubungkan jurang tersebut. Sebagian berpendapat bahwa pendidikan adalah jawaban yang pasti untuk masalah itu. Ada pula yang berpendapat bahwa filsafatlah jembatan untuk jurang tersebut. Yang lain lagi mengajukan perbuatan baik/karya amal, yang lainnya lagi mengedepankan humanisme. Moralisme (hukum dan tata tertib) muncul pula sebagai jembatan. Tetapi bagaimana pandangan masyarakat tentang moralitas, ternyata sangat relatif. Akhirnya agama-lah jembatan kepadda Tuhan. Persoalan yang perlu direnungkan adalah: sejauh mana agama baik lembaga maupun upacara-upacara keagamaan itu membuat orang mengenal Allah secara pribadi dan menyerahkan diri secara penuh kepadaNya?
    • Dengan usaha sendiri manusia tidak dapat menjangkau Allah. Iman Katolik mengajarkan bahwa hanya melalui Yesus Kristus-lah Allah mengulurkan tanganNya kepada manusia. Sebagaimana Yesus sendiri bersabda: “Akulah Jalan, Kebenaran dan Hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku” (Yoh 14:6). Jadi Yesus Kristus-lah satu-satunya jembatan atas jurang pemisah yang memisahkan manusia dengan Allah karena dosa-dosa manusia. Melalui Yesus-lah relasi/keterpisahan manusia dengan Allah dipulihkan kembali. Tersambung kembali relasi intim antara manusia dengan Allah.
      Memang, di bawah kolong langit ini hanya ada satu nama yaitu Yesus Kristus. “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan” (Kis 4: 12).
    • Untuk memperkuat iman kita, sebaiknya kita selalu meresapkan ayat-ayat yang berikut:
      “ …. Sesungguhnya barangsiapa percaya, ia mempunyai hidup yang kekal” (Yoh 6;47).
      “Akulah jalan, dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yoh 14:6).
      “Akan tetapi Allah menunjukkan kasihNya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa” (Rm 5:8).
      “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah”  (Ef 2: 8).
  5. Apa jawaban kita terhadap keselamatan yang ditawarkan oleh Allah melalui Putera   TunggalNya Yesus Kristus? Kita bebas untuk menerimanya atau menolaknya. Hanya antara menerima dan menolak terdapat konsekuensi yang sangat jauh bedanya. Tetapi kalau kita menerima keselamatan tersebut, artinya kita percaya kepada Kristus, maka kita harus  menyerahkan segala bagian hidup kita kepadaNya, baik itu menyangkut pikiran, perbuatan, keluarga kita, dan sebagainya. Jangan sampai terjadi: “Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh daripadaKu” (Mat 15: 8). 
    • Tuhan tidak memaksakan kita untuk menerima anugerahNya, keselamatanNya, yaitu “hidup baru”. Sebagaimana tersebut dalam Why 3: 20: “Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang mendengar suaraKu dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku akan makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku”
    • Sebagai pegangan untuk mengambil sikap dalam kebenaran ke-empat yaitu kebebasan kita untuk menerima atau menolak keselamatan perlu dipedomani ayat-ayat yang berikut:
          “Aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini: kepadamu kuperhaddapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan supaya kamu hidup, baik engkau maupun keturunamu” (Ul 30: 19).
      “Tetapi  semua orang yang menerimaNya, diberiNya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam namaNya” (Yoh 1: 12).
      “Apakah gunanya saudara-saudaraku,  jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia?” (Yoh 2: 14).
      “Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, dmikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan  addalah mati” (Yak 2: 26).
      “Bukan kamu yang memilih Aku tetapi Akulah yang memilih kamu” (Yoh 15: 16).
      “Dan marilah kita saling memperhatikan suipaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik” (Ibr 10: 24).
      “Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasehati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat” (Ibr 10: 25).
      “Sebab jika kita sengaja berbuat dosa, sesudah memperoleh pengetahuan tentang kebenaran, maka tidak ada lagi korban untuk menghapus dosa itu” (Ibr 10: 26).
      “Maukah engkau menganggap sepi kekayaan kemurahanNya, kesabaranNya dan kelapangan hatiNya? Tidakkah engkau tahu,bahwa maksud kemurahan Allah ialah menuntun engkau kepada pertobatan?” (Rm 2: 4).
      “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dadlam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku” (Yoh 15:4).
      “….. marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. Barangsiapa tidak mengasihi ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah Kasih. Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu Allah telah mengutus AnakNya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup olehNya. Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus AnakNya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita” (1Yoh 4: 7-10).
      “Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepadda TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi  aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN” (Yos 24: 15).
      “Lihat, Aku berdiri di muka pintu  dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suaraKu dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku akan makan bersma-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku” (Why 3:20).
Powered by Blogger.