Kerajaan Allah Dan Gengsi

  1. Dalam masyarakat di mana Yesus hidup pada waktu itu, gengsi adalah nilai yang paling dominan. Nilai terpenting kedua adalah uang. Begitu dominannya gengsi ini, sampai-sampai orang rela kehilangan nyawa demi gengsi. Sedemikian dominannya gengsi tersebut sehingga terbentuk dan terstrukturlah tangga sosial. Orang dikotak-kotakkan dalam status atau tempat, dan untuk selanjutnya segala sesuatu selalu memperhitungkan tingkat atau kedudukan orang.
    Cercaan dari orang yang lebih tinggi umumnya diterima, dan diharapkan. Cercaan dari orang yang setingkat, menyakitkan hati; sedang dari orang yang lebih rendah, tidak diterima (tidak digubris). Orang hidup dalam irama penghormatan yang diberikan orang kepadanya.
  2. Kriteria untuk menentukan gengsi atau kedudukan biasanya didasarkan atas:
        - keturunan,
        - kekayaan,
        - kekuasaan,
        - pendidikan, dan
        - keutamaan.
    Itu semua ditunjukkan dan dipertahankan dalam cara berpakaian, sebutan, dan lingkungan pergaulan sosial. Dalam perjamuan kentara sekali, siapa yang diundang, tempat duduk dalam perjamuan, cara berpakaian, juga di sinagoga jelas sekali kelihatan.
    Hak dan kemudahan (fasilitas) diberikan sesuai dengan kedudukan seseorang. Orang yang tidak mempunyai kedudukan dalam masyarakat adalah: orang gila, sakit jiwa, buta, lumpuh, tuli, buntung, sakit kusta dan lain-lainnya. Mereka disingkirkan sama sekali.
    Gengsi yang membawa dampak timbulnya pengkotak-kotakan, kedudukan dan status sosial ditentang oleh Yesus. Dan hal itu dianggapnya sebagai salah satu struktur kejahatan yang paling dasar di dunia.
  3. Kecaman Yesus terhadap para ahli kitab dan orang-orang Farisi bukan tertuju kepada ajaran mereka tetapi terhadap kelakuan mereka yang hidupnya demi gengsi dan kehormatan yang diberikan orang kepada mereka. Semua yang mereka lakukan harus mencolok, “supaya dilihat orang” (Mat 6:1-6, 16-18). Sikap itu bukan kesalehan tetapi satu kemunafikan. Mereka itu ibaratnya seperti kuburan yang dilabur putih; dari luar kelihatan bersih, jujur, dan menarik tetapi kalau digali isinya yang di dalam hanyalah tulang-tulang busuk. Sama seperti halnya orang membersihkan cawan, hanya bagian luarnya saja, sedang bagian dalam tetap kotor. Mereka itu mentaati hukum secara lahiriah bukan tanda kesalehan akan tetapi yang mereka inginkan sebenarnya adalah gengsi (lih Luk 18:9-14, Perumpamaan tentang orang Farisi dengan pemungut cukai).
  4. Sebagaimana orang kaya yang terlekat pada hartanya sudah mendapatkan ganjaran di dunia, demikian pun orang-orang munafik telah menerima ganjaran mereka yaitu: pujian orang (bandingkan: a. Mat 6:1-6 : hal Memberi sedekah; b. Mat 6:16-18 : hal Berpuasa; c. Luk 6:20-26 hal: Ucapan bahagia dan peringatan). Bagi mereka semua itu tidak ada tempat dalam Kerajaan Allah (Mat 5:20).
  5. Atas pertanyaan para murid tentang siapa yang terbesar di dalam Kerajaan Surga, Yesus memberikan perumpamaan dengan mengambil seorang anak kecil. Anak kecil adalah :
            a. Lambang kerendahan, sebagai lawan dari kebesaran status, dan gengsi.
            b. Dalam masyarakat, anak kecil itu tidak diperhitungkan .
            c. Anak kecil tidak mempunyai kedudukan dalam msyarakat.
    Bagi Yesus, anak kecil itu juga manusia yang harus diperhitungkan. Karena itu Yesus marah ketika para murid menyuruh anak-anak kecil itu pergi. Yesus memanggil mereka, merangkulnya dan memberkatinya dengan meletakkan tanganNya di atas kepala mereka.
  6. Di samping sebagaimana tersebut dalam butir (5) di atas, anak kecil itu mempunyai sifat: 
    1. Tidak mempunyai rasa dendam. Misalnya dalam bermain dengan temannya mereka itu bertengkar, pertengkaran itu tidak lama. Mereka cepat akur kembali dan bermain bersama lagi (sementara kedua orang tua mereka mungkin masih saling mendendam dalam “membela” anak mereka masing-masing).
    2. Anak kecil itu mempunyai kepercayaan yang penuh dan bulat pada orang tuanya. Misalnya, mereka ditakut-takuti ada harimau, maka mereka akan lari kepada orang tuanya. Ratio mereka belum bisa mengatakan bahwa orang tua mereka itu bukan apa-apa bagi harimau. Artinya, orang tua mereka bukan pelindung yang handal terhadap harimau (karena orang tua mereka pun takut dan akan lari). 
    3. Anak kecil mempunyai rasa ketergantungan yang tinggi kepada orang tuanya.
  7. Tidak ada petunjuk bahwa anak-anak kecil adalah lambang kemurnian, atau ketidakmatangan serta tidak bertanggung jawab. Yesus pun tahu bahwa memang ada anak-anak yang kadang-kadang berbuat hal-hal yang secara tidak bertanggung jawab. Nah, sifat anak-anak yang tidak bertanggung jawab ini digunakan mensejajarkan orang-orang Farisi dengan mereka. Orang-orang Farisi diumpamakan seperti anak-anak di pasar yang tidak mau bergabung dengan kegembiraan “pesta kawin” dan kedukaan “orang meninggal”
    “Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari. Kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak berkabung” (lih Mat 11:17).
    Kita harus bisa menangkap bahwa anak kecil yang menjadi gambaran Kerajaan adalah lambang orang-orang yang di dalam masyarakat mempunyai kedudukan rendah, tidak diperhitungkan yaitu orang-orang miskin, tertindas, pengemis, pelacur, pemungut cukai, yaitu mereka yang biasa dikategorikan sebagai KLMT (kecil, lemah, miskin, dan tersingkir).
  8. Setiap orang dapat masuk ke dalam Kerajaan asal ia mau berubah dan menjadi seperti anak-anak kecil (Mat 18:3), atau menjadikan dirinya seperti anak kecil (Mat 18:4). Atau seperti dikatakan Markus “menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya” (Mrk 9:35). Ayat Markus ini mempunyai makna bahwa orang harus melepaskan seluruh keinginannya untuk memiliki kedudukan atau gengsi; seperti halnya orang harus melepaskan keterikatannya dengan uang dan milik harta. Sebagaimana orang harus mau menjual segala miliknya, maka ia harus bersedia pula untuk mengambil tempat yang terakhir dalam msyarakat, dan lebih daripada itu juga bersedia untuk menjadi pelayan bagi semua orang.
  9. Perhatian Yesus yang begitu besar terhadap golongan kecil, lemah, miskin dan tersingkir menunjukkan bahwa yang Ia hargai adalah kemanusiaannya. Orang-orang kelas menengah dan atas pun menjadi keprihatinan Yesus, karena mereka juga manusia. Maka Ia ingin agar mereka (kelas menengah dan atas) terbebas dari nilai-nilai palsu dari kekayaan, gengsi, status, dan sebagainya, agar mereka kembali menjadi manusia sejati. Yesus ingin mengganti “gengsi duniawi” menjadi “nilai ilahi”.
  10. Bagaimana Yesus menghargai manusia sebagai manusia adalah sikapNya terhadap wanita. Wanita dalam masyarakat pada masa Yesus hidup tidak dihargai. Lahir sebagai anak perempuan, dimaknai bahwa doa orang tuanya tidak terkabul. Wanita dan anak-anak pada saat itu tidak diperhitungkan (Ingat jumlah orang yang dihitung yang diberi makan oleh Yesus dengan penggandaan roti, hanyalah orang laki-laki saja. Wanita dan anak-anak yang juga ikut makan, tidak dihitung).
    Wanita tidak bisa menjadi murid seorang ahli kitab, ia hak mutlak ayahnya (sebelum nikah) dan hak mutlak suaminya (setelah nikah), ia tidak bisa menjadi anggota partai Saduki atau Farisi. Peranan wanita hanyalah menjadi ibu dan isteri (fungsi seksual). Yesus berdiri di luar sikap masyarakat, Ia menghargai wanita sama seperti Ia menghargai pria.
    1. Ia memberi penghargaan janda di Nain.
    2. Ia memberi perhatian mertua Simon.
    3. Ia memberi perhatian wanita yang sakit perdarahan.
    4. Ia membeeri perhatian wanita  Kanaan.
    5. Di antara para pengikut dan sahabat-sahabatNya ada beberapa wanita: 
      • Maria Magdalena, Maria ibu Yakobus Muda dan Yoses, Salome, dan beberapa wanita lainnya (Mrk 15:40-41 dst).
      • Perempuan yang meminyaki Yesus (Luk 7:36-50).
      • Maria Magdalena, Yohana isteri Khuza bendahara Herodes, Susana dan banyak perempuan yang lain (Luk 8:2-3).
      • Yesus mengasihi Marta dan kakaknya dan Lazarus (Yoh 11:5). Lihat juga Yoh 20:11-18.
      • Mereka adalah saudara/I dan ibu-ibuNya (Mrk 3:34-35 dst).
      • Maria dari Betania telah memilih yang paling baik dengan duduk di dekat kaki Yesus sebagai murid.
      • Yesus merasa tak bersalah bergaul dengan pelacur (Luk 7:36-50).
Powered by Blogger.