Kerajaan Allah Dan Orang Kaya

Mrk. 10:23-27  

  1. “Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Allah” (ay 23). Ayat tersebut secara gampang dapat diartikan bahwa Kerajaan Allah itu hanyalah bagi dan berisi orang-orang miskin saja; dan orang kaya sejauh mereka tetap tinggal kaya, tidak akan mendapat bagian di dalam Kerajaan Allah (bdk Luk 6:20-26). Orang kaya mustahil masuk ke dalam Kerajaan Allah, ibaratnya seperti seekor onta (atau tali penarik perahu) yang juga mustahil masuk ke dalam lubang jarum.
  2. “Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu adalah mungkin bagi Allah” (ay 27). Dari ayat ini dapatlah diartikan bahwa bagi orang kaya dapat masuk Kerajaan Allah dengan mukjizat. Dengan lain perkataan dibutuhkan mukjizat bagi orang kaya agar dapat masuk Kerajaan Allah. Mukjizat tersebut sudah tentu tidak akan memasukkannya dengan semua kekayaannya, akan tetapi membuatnya ia meninggalkan semua kekayaannya sehingga ia dapat masuk ke dalam kerajaan sebagai orang miskin.
  3. Dalam cerita tentang orang muda yang kaya, mukjizat yang membuatnya ia meninggalkan semua kekayaannya tidak terjadi karena ia masih terlalu mengandalkan hidupnya pada jaminan keuangan (lih. Mrk 10:17-22). Ini artinya bahwa imannya akan Kerajaan Allah terlalu kecil. Kekuatan Allah tidak dapat bekerja di dalam dirinya untuk melaksanakan hal yang “tidak mungkin”.
  4.     4. Lukas menulis bahwa celakalah orang yang kaya, orang yang kenyang dan orang yang dipuji-puji di dunia ini, karena di surga tidak akan ada tempat baginya (Luk 6:24-26). Mereka tidak akan mendapat ganjaran atau hiburan karena di Surga tidak akan ada hal itu bagi mereka. Selanjutnya dalam perumpamaan orang kaya dan Lazarus yang miskin (Luk 16:19-31) digambarkan: si kaya berada di neraka sementara Lazarus yang miskin berada di pangkuan Abraham. Jarak antara si kaya dengan Lazarus yang miskin dalam situasi tersebut tak terjembatani. Artinya, bahwa tidak ada alasan lain yang membuat si kaya dikecualikan dari menerima ganjaran. Kecuali fakta bahwa ia kaya dan bahwa ia tidak membagikan kekayaannya dengan pengemis itu (Lazarus)
    Rasa sesal, dan kemudian permintaan supaya saudara-saudaranya yang masih hdiup diperingatkan. Tetapi siapa yang percaya? Sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tak berguna.
  5. Berbagi milik dengan sesama, lebih-lebih mereka yang (sangat) membutuhkan dicontohkan/diajarkan Yesus dengan “penggandaan lima roti dan dua ikan (Mrk 6:30-44). Inti cerita tersebut adalah Yesus memberi makan lima ribu orang laki-laki (yang perempuan dan anak-anak tidak dihitung; berarti yang ikut makan lebih dari 5000 orang), hanya dari lima roti dan dua ikan. Itupun sisa cuwilan-cuwilan roti masih ada dua belas bakul penuh. Mukjizat? Iya! Akan tetapi mukjizat biasanya diikuti oleh orang-orang yang heran, takjub, dan kagum. Tetapi teks tidak menyebutnya itu. Jadi tekanan perikop ini bukan pada mukjizat akan tetapi pada “berbagi” (milik).
    Dalam rombongan tersebut tentu ada yang membawa bekal dan ada pula yang tidak membawa. Dan karena waktunya istirahat dan makan, maka Yesus dan para murid yang mempunyai roti lima dan ikan dua mulai membagi-bagikan roti dan ikan tersebut. Dan mungkin pula Yesus menyuruh orang-orang lain yang membawa makanan untuk berbagi juga dalam kelompok mereka masing-masing. Atau mungkin setelah mereka melihat Yesus dan para murid saling berbagi, maka mereka kemudian dengan kehendak mereka sendiri membuka bekal yang mereka bawa dan membagikannya kepada yang lain. “Mukjizat” yang terjadi di sini adalah begitu banyak orang yang tiba-tiba saja menjadi tidak begitu terikat lagi pada miliknya, dan . . . . kemudian mulai berbagi dengan yang lain.
    Sisa roti yang dikumpulkan ada 12 bakul penuh. Ajaran iman mengatakan, kalau dibagikan, sesuatu akan berlipat ganda.
  6. Jemaat Kristen awal, sebagaimana dikisahkan dalam Kis 2:44-46, bahwa semua orang yang telah menjadi percaya, tetap bersatu dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing. Ini tidak berarti bahwa mereka menjual segala-galanya yang mereka miliki. Sekurang-kurangnya mereka masih mempunyai apa-apa untuk kehidupan mereka sehari-hari. Kalau mereka menjual rumah, pasti mereka punya rumah lebih dari satu, kalau menjual ladang, pasti masih ada ladang lainnya. Jadi konkritnya, tidak ada orang yang menganggap milik itu adalah milik pribadi akan tetapi milik adalah milik bersama (lih Kis 4:32).
  7. Contoh lain dari Lukas adalah pertobatan Zakeus (Luk 19:1-10). Zakeus berkata bahwa setengah dari miliknya akan diberikan kepada orang-orang miskin. Dan sekiranya ada orang-orang yang merasa diperas akan dikembalikan empat kali lipat (ay 8). Dari contoh ini jelas bahwa arti menjual segala miliknya adalah melepaskan kelebihan dan tidak menganggap bahwa sesuatu itu sebagai milik sendiri. Dan akibat dari sikap ini adalah akan selalu “tak ada seorang pun yang berkekurangan di antara mereka” (Kis 4:34).
  8. Yesus tidak memuji-muji kemiskinan, sebaliknya yang Ia dambakan adalah suatu keadaan di mana tidak seorang pun berkekurangan. Dan untuk tujuan ini maka Ia melawan orang-orang yang bersikap terikat pada milik dan mendorong supaya orang tidak terbelenggu oleh egoismenya terhadap kekayaannya dan mau berbagi milik (harta mereka) dengan orang yang (sangat) menderita. Idealnya memang tak ada kaum miskin dan kaum kaya. Kalau Yesus menyuruh orang muda yang kaya menjual segala sesuatu, dasarnya hanya karena belas kasihNya kepada orang miskin.
Powered by Blogger.