Memasak Dan Memakan Anak ?

 

  1. Kisah sadis dan menjijikkan ini terdapat dalam Kitab 2Raj 6:26-30; sedangkan kisah horor ini selengkapnya termuat dalam 2Raj 6:24 – 7:20. Diceritakan bahwa kota Samaria dikepung oleh musuh yaitu oleh Benhadad, raja Aram. Akibat pengepungan itu, maka tidak ada barang-barang yang bisa masuk atau keluar; bahkan mungkin sumber-sumber mata air pun telah dikuasai oleh musuh. Maka terjadilah kelapran yang hébat di Samaria. Maka sesuai dengan hukum Ekonomi, harga-harga pun melonjak tinggi. Diceritakan sebuah kepala keledai berharga delapan puluh syikal perak, dan tahi merpati berharga lima syikal perak. (“Tahi merpati” iku kiranya nama sejenis roti). Dalam keadaan aman, mana ada orang yang mau makan kepala keledai.?
  2. Keadaan semakin buruk sehubungan dengan ditutupnya/dikepungnya kota, sehingga dua orang ibu bersepakat untuk memakan anaknya secara bergantian. Hal ini berhubung tidak adanya makanan dan terjepitnya keadaan. Mula-mula disembelih anak ibu yang satu, kemudian dimasak dan dimakan bersama. Dengan janji bahwa besok, gantian anak ibu yang satunya yang akan disembelih dan dimakan bersama. Tetapi sampai hari berikutnya, ibu yang satu itu mengingkari kesepakatannya, dan menyembunyikan anaknya (2Raj 6:28-29). Maka ibu yang anaknya sudah disembelih, dimasak dan dimakan bersama merasa diingkari, menghadap raja untuk mohon keadilan. Raja dan ibu-ibu itu, di sini anonim (tanpa nama). 
  3. Kita yang membaca kisah tersebut secara spontan akan mengatakan:”Sungguh perbuatan yang sadis, mata gelap, tidak berperikemanusiaan, menjijikkan, dan mengerikan, tidak masuk akal!. Masak anak (sendiri) disembelih, dimasak, dan dimakan. Orang gila itu, tidak waras!”.  Dan lain-lain ungkapan yang menyatakan ketidak setujuannya.
    Nah, reaksi raja yang mendapatkan laporan itu bagaimana? Reaksinya kira-kira sama. Hati raja terluka mendengar laporan rakyatnya melakukan tindakan yang sedemikian biadabnya. Para penyembah berhala pada masa itu memang terkadang sampai mempersembahkan anaknya sendiri. Nah di sini lebih parah lagi, karena memakan anaknya sendiri.  Maka raja merobèk pakaiannya dan meratap di hadapan Allah. Ia sebagai raja tidak bisa menghentikan bencana kelaparan yang tengah menimpa mereka. Ia juga tidak berdaya mengatasi perkara yang dialami oleh perempuan itu.  Maka kasus pun berhenti begitu saja. Bahkan raja itu menyalahkan Nabi Elisa  (lih. 2Raj 6:30-31).
  4. Tindakan yang mengerikan dan menjijikkan serta sadis itu dipandang sebagai jalan terakhir bagi seseorang untuk mempertahankan hidup. Menurut beberapa teks dalam Perjanjian Lama, kanibalisme di Israel itu menjadi bukti bahwa negeri itu dikutuk oleh Tuhan yang murka atas dosa-dosa mereka. “Oleh karena segala perbuatanmu yang keji akan Kuperbuat terhadapmu yang belum pernah Kuperbuat dan yang tidak pernah lagi akan Kuperbuat. Sebab itu di tengah-tengahmu ayah-ayah akan memakan anak-anaknya dan anak-anak memakan ayahnya dan Aku akan menjatuhkan hukuman kepadamu, sedang semua yang masih tinggal lagi dari padamu akan Kuhamburkan ke semua penjuru angin.” (Yeh 5:9-10; bdk Ul 28:53; Rat 4:10). 
  5. Dalam Kisah ini (Kitab Raja-Raja) tidak berbicara soal dosa, dan si ibu yang menghadap raja itupun tidak merasa bersalah atau berdosa, bahwa ia telah menyembelih, memasak, dan memakan anaknya. Tetapi yang menjadi fokus adalah adanya penipuan dari ibu yang satunya. Dengan lain perkataan, di sini yang menjadi fokus bukan soal dosa, akan tetapi soal keadialan. Si ibu itu merasa tertipu karena temannya melanggar perjanjiannya, tidak mau memasak anaknya untuk dimakan bersama. 
  6. Kisah ini rupanya ingin dikontraskan dengan kisah Raja Salomo yang berada di puncak kejayaannya. Raja Salomo yang berada di puncak kejayaannya, mampu menyelesaikan (mengadili) dua perempuan sundal yang berebut anak, sedang raja yang di sini ini, kekuasaannya berada di titik terendah; maka ia gagal sama sekali untuk memberi keadilan bagi rakyatnya. Maka kalau kita ingin memahami makna dari bacaan ini, sebaiknya kita baca seluruhnya, yaitu: 2Raj 6:24 – 7:20. Di situ ada tokoh-tokoh yang muncul yaitu: ibu, raja, Nabi Elisa, dan empat orang kusta, yang mereka itu menghadapi bencana besar itu dengan caranya sendiri-sendiri.
  7. Tokoh ibu tersebut adalah gambaran dari rakyat (orang-orang) kecil, yang dalam setiap pergolakan atau bencana adalah golongan yang paling menderita dan berat keadaannya. Kelaparan telah “merampok” segalanya, termasuk harta yang paling mendasaar yaitu kemanusiaannya. Itulah sebabnya, demi untuk bisa hidup ia telah melakukan segala cara, tidak peduli apakah cara itu kejam, sadis, mengerikan, tidak rasional, atau tidak bermoral sekalipun. Secara gampang kita bisa saja menyebut si ibu itu adalah “manusia predator” atau “ibu kanibal” (mnusia memakan manusia). Tetapi kondisi dan situasi masyarakat yang menjepit dan menindasnya kiranya perlu dipertimbangkan juga. 
  8. Lalu bagaimana sikap raja Israel yang mendapat laporan? Marilah kita telusuri juga. Sewaktu raja menghadapi ibu tersebut, maka yang menjadi fokus adalah bukannya soal keadilan, akan tetapi soal kanibal. Maka si raja langsung mengoyak pakaiannya sebagai bentuk dan tanda ratapan sekaligus juga kengerian mendengar tindakan horor itu. Dan raja sadar bahwa rakyatnya sudah mulai kalap, mereka makan apa saja asal bisa hidup. Dan satu-satunya yang bisa dilakukan raja adalah :menuduh Tuhan sebagai pihak yang harus bertanggung jawab atas bencana yang dialaminya itu. Nah, maka ia kemudian menyalahkan Nabi Elisa sebagai wakil yang selalu menyuarakan sabdaTuhan.
  9. Mungkin sebelumnya Nabi Elisa juga meyakinkan raja bahwa akan bisa dan mampu menghadapi pasukan Aram, dan bahwa Tuhan akan menolongnya.  Tetapi ternyata situasi memburuk dan pertolongan Tuhan tidak kunjung datang, dan . . . . kota dikepung musuh. Maka raja merasa ditipu, maka raja pun ganti sekarang mengejar dan mengepung Nabi. Aneh bin ajaib, sementara kota dikepung oleh musuh, kok sempat-sempatnya mengepung rumah sang Nabi, Elisa, untuk dibunuhnya.  Raja ini sungguh kasihan dan menyedihkan, di mana ia menuduh Tuhan sebagai sumber bencana. Sekarang  ini pun ada lho, orang yang berpribadi seperti raja ini,  yaitu menuduh dan menyalahkan Tuhan. Memang menyalahkan pihak lain itu paling mudah. Kasihan!!!
  10. Meskipun keadaan masih sulit, dan dirinya sendiri terancam pembunuhan, Nabi Elisa tampaknya tenang-tanang saja. Saat sang Nabi berhadapan dengan sang raja,  ia menengaskan kepada raja bahwa Tuhan akan menyelamatkan. Tuhan itu bukan sumber bencana, akan tetapi justru Tuhanlah yang akan mengalahkan bencana itu. Dan dengan mantap Elisa mengatakan bahwa esok hari, harga bahan pangan akan jadi murah. Ucapan Nabi itu kedengarannya lucu, karena harga-harga yang dihadapi pada waktu adalah sangat mahal. Tetapi apa yang terjadi keesokan harinya? Ternyata pasukan Aram mendadak mundur, dan harga-harga bahan pangan pun turun drastis!
  11. Akhirnya, secara umum dapat dipetik pesan ajaran, bahwa dampak umum yang terjadi dalam suatu peperangan adalah kehidupan ekonomi, sosial, politik yang kacau. Dan dalam situasi seperti ini, pihak yang paling menderita adalah rakyat kecil, yang dalam kisah ini ditampilkan dalam diri seorang ibu yang tega memasak dan memakan anaknya sendiri. Kita mungkin akan memvonis ibu itu dengan kata-kata yang geram. Tetapi menurut para penafsir, bahwa orang yang mengalami situasi ekstrem juga akan mendorong orang itu untuk berbuat ekstrem juga. Keadaan si ibu itu sebenarnya adalah akibat dari adanya situasi yang menekan, korban dari penguasa yang memilih perang dari pada diplomasi dan perdamaian. Maka kita harus hati-hati dalam memaknai suatu situasi.
Powered by Blogger.