Mengasihi Musuh

“Tetapi Aku berkata kepadamu: kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” (Mat 5: 44).


Selintas judul tersebut di atas adalah tidak mungkin atau tidak sudi bagi yang bersangkutan untuk mengasihi orang yang membenci atau mencelakannya. Tetapi itu dikatakan dan diajarkan oleh Yesus. Jadi kita harus mencari makna sesungguhnya apa yang dimaksud oleh Yesus, apa yang dimintaNya. Kata “kasih” dalam bahasa Yuani mempunyai banyak sinonim; artinya ada beberapa kata yang sama-sama mengandung arti kasih.

  1. Kata benda storge atau kata kerja stergein menggambarkan secara khusus hubungan kasih di ddalam kehidupan keluarga. Kata tersebut digunakan untuk menggambarkan kasih antara orang tua dengan anak dan juga kasih antara anak dengan orang tuanya.
    “Anak mengasihi (stergein) dan dikasihi oleh mereka yang melahirkannya ke dunia ini” (Plato). “Seorang ayah yang mempunyai kasih (storge) akan mempunyai hubungan yang manis dengan anak-anaknya” (Filemon). Kata “storge” dan “stergein” mengandung makna kasih mesra yang ada di dalam keluarga atau rumah tangga.
  2. Kata benda kedua adalah eros (kata kerjanya eran). Kata ini menunjukkan cinta seorang laki-laki kepada hamba perempuannya. Di dalam kata tersebut terkandung nafsu birahi dan asmara. Dengan lain perkataan adalah “kerinduan yang teramat sangat”. Ia menggambarkan daya nafsu yang ada di dalam cinta manusiawi, dan tidak mengandung sesuatu yang jelek. Tetapi lama-lama kata tersebut diberi tekanan dan diartikan sebagai nafsu birahi yang kotor daripada cinta yang murni. Dari akar kata tersebut kiranya muncul istilah erotis.
  3. Kata ketiga adalah philia (kata kerjanya philein). Kata ini mengandung arti kasih sayang yang sejati. Kata ini paling disukai. Dalam beberapa ungkapan kata tersebut menggambarkan teman-teman sejati yang terdekat dan terakrab, juga membelai dengan kasih sayang atau mencium dengan mesra. 
  4. Kata keempat adalah agape (kata kerjanya agapan). Kata ini menunjuk kepada kebajikan yang tak kenal akhir, kebaikan hati yang tak kenal batas dan kehendak baik yang tak kenal menyerah. Kalau kita memperlakukan seseorang dengan agape, maka berarti bahwa kita akan membuang segala pikiran jahat pada orang tersebut, dan memperlakukan orang tersebut dengan kebijaksanaan dan kehendak baik yang tak kenal batasan dan tidak ada pamrih lain kecuali hanya mengutamakan kebaikan bagi orang tersebut. Ini berarti bahwa kita tidak peduli terhadap apa pun yang orang tersebut lakukan terhadap kita, kita tetap mengasihinya, tetap menginginkan yang terbaik bagi orang tersebut. Maka kasih di sini bersifat sugestif.
    Dari kasih agape ini kita dapagt memetik beberapa makna:
    1. Mengasihi musuh sama dengan mengasihi keluarga terdekat jelas tidak mungkin, tidak wajar dan. . . . keliru.
    2. Kasih kepada keluarga terdekat adalah kasih yang tidak kita cari, tetapi datang dengan sendirinya, dan keluar dari perasaan-perasaan hati. Istilah gampangnya adalah jatuh cinta. Sebaliknya, kasih terhadap musuh adalah kasih yang merupakan hasil dari satu kemauan, sesuatu yang kita lakukan dengan penuh kesengajaan dan kemauan. Di sini kasih itu merupakan keme-nangan yang mengalahkan hal-hal yang secara naluriah dimiliki oleh manusia (Kalau yang namanya musuh, ya musuh; mengapa harus dikasihi!). 

Harus ditegaskan di sini, bahwa agape adalah suatu keputusan dan ketetapan sikap yang kita ambil dengan sengaja dan sadar, dan yang dengannya kita memperlakukan kehendak baik yang tak mengenal batas, bahkan terhadap orang yang melukai, menyakaiti dan membenci kita. Dengan lain perkataan, agape adalah kekuatan untuk mengasihi orang yang tidak kita sukai dan yang kemungkinan besar (lebih pasti) tidak menyukai kita. Mungkinkah itu? Dengan rakhmat Kristus kita dimungkinkan/dimampukan untuk melaksanakan agape.

Akhirnya, sampailah kita pada arti agape sebagai ajaran Kristus yaitu kasih Kristiani. Maka kalau kita melaksanakan agape terhadap seseorang, ekspresinya dapat berupa menghukum, membatasi, mengajar disiplin, dan melindungi dia dari tindakan-tindakan yang membahayakannya. Misalnya, orang tua yang mengasihi anaknya. Orang tua yang menghukum anaknya, menyadari bahwa hukuman tersebut bukanlah untuk memuaskan keinginannya untuk melakukan pembalasan, melainkan agar anak tersebut menjadi lebih baik. Jadi hukuman bukan untuk pembalasan tetapi sarana penyembuhan dan perbaikan.

Perlu dicatat di sini bahwa yang dikehendaki oleh Yesus adalah bahwa hubungan pribadi antara manusia harus didasari pada kasih. Kehidupan dan pergaulan kita setiap hari dengan setiap orang harus diusahakan dengan dibersihkan dari segala kepahitan dan hal-hal jelek yang bersifat merusak. Hal ini memang sulit. Tetapi sekali lagi, bahwa dengan rakhmat Yesus Kristus hal itu dapat dilaksanakan artinya kita akan dimampukan untuk melakukan itu. Jelasnya, kalau Yesus hidup dalam hati kita maka kita akan dapat melaksanakan kasih kristiani tersebut.

Dan yang paling penting adalah, Yesus juga memerintah kita untuk berdoa bagi orang lain, lebih-lebih lagi mereka yang memusuhi kita. Di hadapan Allah kita tidak dapat terus menerus membenci orang lain. Dan jalan paling tepat untuk menghilangkan kebencian kepada orang lain adalah berdoa bagi orang lain yang kita benci atau yang membenci kita. Tidak bisa dan tidak ada, berdoa bagi orang lain sekaligus membencinya.

Powered by Blogger.