BUNGIKAT
Mengintip Perumpamaan Domba Yang Hilang
- Bacaan : a. Matius 18: 1-14 dan Lukas 15: 1-10
- Versi Matius
- Perumpamaan di sini dikaitkan dengan pertanyaan para murid : “Siapa yang terbesar dalam Kerajaan Sorga” (ayat 1). Dan jawaban atas pertanyaan tersebut adalah: Jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga (ay 3). Jadi, anak kecil-lah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga (ay 2-5).
- Jawaban tersebut kemudian dilanjutkan dengan pernyataan bahwa celakalah barang siapa menyesatkan salah satu dari anak kecil yang percaya kepada Yesus (ay 6-7). Dan lebih tepat bagi orang yang menyesatkan anak kecil tersebut, seandainya lehernya dibebani dengan batu kilangan dan kemudian ditenggelamkan ke dalam laut.
- Kelengkapan anggota tubuh tidak menjamin orang bisa masuk Kerajaan Sorga, kalau tubuh tersebut tidak berfungsi baik. Lebih baik dengan tubuh yang tidak lengkap anggotanya, tetapi bisa masuk Kerajaan Sorga daripada tubuh lengkap tetapi jatuh ke dalam api neraka (ay 8-9).
- Perumpamaan tentang domba yang hilang, untuk mempertegaskan permasalahan pokok sebelumnya yang berkisar pada yang “kecil” (=anak) yang adalah justru menjadi yang “terbesar” dalam Kerajaan Sorga. Dan oleh karena itu maka celakalah siapa pun yang menyesatkan salah seorang dari anak-anak itu yang percaya kepada Yesus.
- Karena itu perumpamaan ini kemudian ditutup dengan kalimat: “Demikian juga Bapamu yang di sorga tidak menghendaki supaya seorang pun dari anak-anak ini hilang” (ay 14).
- Versi Lukas
- Kalau Versi Matius persoalan tersebut berkaitan dengan pertanyaan para murid, di sini (Lukas) hal tersebut berkaitan dengan percakapan Yesus dengan orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, yang mencemoohkan Yesus karena Ia menerima orang-orang berdosa dan juga makan bersama-sama dengan mereka (ay 1-2). Bergaul dan makan bersama-sama dengan “orang berdosa” atau “kafir” dianggap sebagai perbuatan melanggar, tidak tahu hukum, dosa. Karena mereka (orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat) tidak bergaul dengan mereka. Mereka dicap “najis” atau “kafir”.
- Injil Lukas dalam pasal 15 ini kemudian dilengkapi dengan “Perumpamaan tentang anak yang hilang” (ay 11-32) yang menggambarkan kasih Allah yang begitu besar dan tanpa syarat. Kasih yang murni dan total.
- Kalimat untuk menutup perumpamaan, versi Lukas berbeda dengan Matius, karena Lukas menempatkan perumpamaan ini dalam rangka percakapan Yesus dengan orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat yang mencemoohkan Dia dengan berkata: “Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka” (ay 2).
Penutup Perumpamaan domba yang hilang berbunyi: “Demikian juga akan ada sukacita di Sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih daripada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan” (ay 7). - Lukas membawakannya sebagai penutup ganda atau kembar kalau dihubungkan dengan perumpamaan dirham yang hilang (ay 8-10). Dan penutup dari perikop ini analog dengan di atas: “Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat” (ay 10).
- Memetik Pesan
- Dalam kehidupan masyarakat Yahudi pada masa itu, atas berbagai pertimbangan moral keagamaan memang ada golongan yang disisihkan. Mereka itu tidak diterima oleh golongan masyarakat Yahudi yang merasa dirinya “sangat” beragama.
Perumpamaan tentang domba yang hilang, pertama-tama menyatakan bahwa hati Allah ada bersama dengan mereka yang secara umum disebut KLMT (kecil, lemah miskin, dan tersingkir). Di dalam masyarakat kita sekarang pun, KLMT ini ada dan banyak, baik dilihat dari kacamata sosial, ekonomi, maupun yang lain. Bagaimana kita menilai situasi, misalnya dalam kampanye Pemilu, kontestan yang satu menganggap kontestan yang lain lebih sebagai ….. “musuh”? - Perumpamaan yang “doeloe” ditujukan kepada pendengarnya pada saat itu, sebenarnya (sekarang) ditujukan kepada pembacanya (=kita) yang mengatakan bahwa Allah sungguh menginginkan dan berkenan serta bersukacita atas “keselamatan” mereka yang KLMT tersebut; baik di dalam masyarakat (sekarang) maupun nantinya.
- Perumpamaan domba yang hilang (seharusnya) kita maknai sebagai undangan hidup berkelimpahan dari rahmat Allah yang dilimpahkan kepada semua orang yang dapat mengatasi segala macam tembok pemisah buatan manusia yang selalu menyisihkan golongan-golongan tertentu dari komunitas bersama. Juga itu sebagai undangan untuk bersukaria dengan Allah yang wujud nyatanya bersama dengan sesama. Lenyapkan perbedaan, tumbuh-kembangkan kebersamaan. Biarlah perbedaan lenyap dan tenggelam dalam lautan rahmat Allah Yang Mahakasih. Semoga !!!
