KITAB SUCI
PERIKOP
Titik Terendah Kehidupan Seorang Raja
( Bac. 1Sam 28:3-25 )
- Sebagaimana tersebut dalam 1Sam 15, bahwa raja Saul telah ditolak/dipecat posisinya sebagai raja Israel lewat pernyataan Samuel. Mengapa Saul “dipecat” karena ia telah mengingkari Tuhan dan tidak taat lagi kepada Tuhan (1Sam 13 dan 15). “Kemudian berkatalah Samuel kepadanya: “TUHAN telah mengoyakkan dari padamu jabatan raja atas Israel pada hari ini dan telah memberikannya kepada orang lain yang lebih baik dari padamu.” (1Sam 15:28; bdk 13:14).
Samuel memang telah mati, akan tetapi tuah perkataannya selalu menghantui Saul, terutama di waktu seperti saat ini, di mana ia menghadapi peperangan. Walau demikian, Saul masih tetap lari kepada TUHAN. Ia masih menempatkan dirinya sebagai hamba Allah yang masih mengharapkan bantuan dari-Nya. Segala cara masih ditempuh: - Secara pribadi, lewat mimpi.
- Lewat perantara imam, dengan membuang undi.
- Dengan perantaraan nabi, lewat nubuat.
Sayang TUHAN tidak memberikan jawaban-Nya. Kejamkah TUHAN? Bukan, tetapi itu adalah buah dari ketidak-taatan Saul kepada TUHAN. Karena ‘didiamkan” oleh TUHAN, maka sekarang Saul menempuh jalan yang sama sekali salah yaitu dengan menemui seorang pemanggil arwah. - Saul dari sosok raja pilihan Allah, kini telah berubah menjadi sosok antagonis yang tidak menarik hati. Ia tidak lagi mempunyai masa depan, dan sudah waktunya sebagai penguasa lama yang harus diganti. Dunia perdukunan di Israel pada masa itu, juga disemarakkan oleh adanya tukang tenung, peramal, penyihir, pemantra. Padahal hal-hal semacam itu jelas-jelas dilarang dalam Taurat.
“Jangalah kamu berpaling kepada arwah atau roh-roh peramal; janganlah kamu mencari mereka dan dengan demikian menjadi najis karena mereka; Akulah TUHAN, Allahmu.” (Im 19:31; bdk Ul 18:10-14).
Kontak dengan dunia gaib dan mendapatkan manfaat darinya dipandang sebagai sebuah kekejian, karena membuat orang Israel berpaling dari TUHAN. Dalam Perjanjian Baru kalau sampai dipercaya bahwa kebaikan itu berasal dari yang non-ilahi, itu termasuk dosa melawan Roh Kudus, yang untuk dosa ini tidak ada pengampunannya. - Para pemanggil arwah dan roh peramal itu sebenarnya telah dibasmi oleh Saul (lih. 1Sam 28:3). Sebagaimana kita tahu bahwa yang mengurapi Saul menjadi raja Israel adalah Samuel. Jadi, tindakan Saul membasmi para pemanggil arwah dan roh peramal selain oleh kesalehannya sendiri juga karena pengaruh Samuel. Tetapi setelah Samuel meninggal, dan Saul dalam keadaan terdesak, maka ia mau melakukaan apa saja demi keselamatannya sendiri. Maka ditempuhlah ia mendatangi seorang pemanggil arwah.
- Pemanggil arwah yang ditemui Saul adalah pemanggil arwah seorang perempuan yang di En-Dor. Untuk pergi ke En-Dor yang terletak di gunung Tabor di sebelah timur Sunem, Saul harus memutar jalan agar tidak menjumpai orang Filistin. Dan demi untuk amannya lagi, ia menyamar dengan tujuan agar ia tidak diketahui bahwa ia adalah seorang raja. Nyata sekali di sini, Saul seorang yang buruk, melanggar ketentuannya sendiri, seorang plin-plan, dan yang hidupnya sudah gagal. Pertemuan dengan pemanggil arwah pun terjadi pada waktu malam. Semuanya serba sembunyi-sembunyi, dan diam-diam; sungguh tidak layak sama sekali bagi seorang raja. Kiranya penulis kitab mau menyatakan bahwa Saul tidak lagi pantas disebut raja. Saul adalah orang yang kacau pikirannya dan tanpa pegangan. Memanggil atrwah untuk dimintai nasihatnya itulah yang disebut nekromansi.
- Secara detail, kisah ini memang detail-detail yang kabur atau ada kelemahannya, yaitu antara lain :
- Karena takut, perempuan pemanggil arwah itu tadinya menolak ketika dimintai tolong untuk memanggil arwah. Tetapi ketika Saul bersedia memberi jaminan, maka perempuan itu kemudian mau. Tetapi bagaimana perempuan itu percaya pada jaminan orang biasa (Saul)? Bukankah Saul itu dalam keadaan menyamar, sehingga kurang meyakinkan kalau ia bersedia memberi jaminan?
- Bagaimana caranya perempuan itu dalam memanggil arwah Samuel, tidak digambarkan bagaimana persisnya.
- Dan juga tidak diketahui bagaimana perempuan itu akhirnya tahu bahwa yang ia hadapi dan nyang meminta tolong itu adalah Saul hanya dengan melihat Samuel.
- Dan yang diminta untuk dipanggil adalah arwah Samuel. Bukankah Samuel yang memecatnya sebagai raja Israel? Apa Saul lupa? Celaka, ternyata Samuel datang dari dunia orang mati sambil marah-marah. “Mengapa engkau mengganggu aku dengan memanggil aku muncul? Mengapa engkau bertanya kepadaku, padahal TUHAN telah undur dari padamu dan telah menjadi musuhmu?” (1Sam 28:15-16). Dengan jawaban-jawaban seperti itu harapan Saul untuk mendapatkan bantuan berubah menjadi bencana. Dan sebagai hamba TUHAN, mana mungkin Samuel menolong orang yang tidak dikehendaki oleh TUHAN?
- Dan kemudian, Samuel menyampaikan kabar yang benar-benar buruk. Kabar buruk tersebut adalah: (a). Sudah dinyatakan dari dahulu bahwa Saul akan kehilangan takhtanya sebagai akibat sikapnya yang tidak menaati TUHAN. Dan nubuat itu akan digenapi pada hari itu juga. (b). Dalam pertempuran melawan orang-orang Filistin, pasukan Israel akan kalah, dan Saul serta anak-anaknya akan tewas (lih. 1Sam 28: 18-19). Setelah mendengar jawaban Samuel, maka Saul pun jatuh ambruk ke tanah (karena saking takutnya dan juga karena tidak makan seharian – 1Sam 28: 20). Sebelum dikalahkan oleh musuh, Saul sudah dikalahkan oleh dirinya sendiri.
- Fokus apa yang ingin dikemukakan dalam perikop ini? Sudah tentu banyak fokus yang bisa diketengahkan, yang sudah tentu ini merupakan “makanan” bagi banyak orang pemerhati Kitab Suci ataupun tafsir.
- Tentu ada yang berfokus tentang kemampuan perempuan itu dalam memanggil arwah dan mendatangkan roh Samuel.
- Sebagian lagi berpendapat bahwa itu ada campur tangan Allah, bukan melulu kemampuan perempuan itu.
- Yang lain lagi berpendapat bahwa itu adalah pekerjaan Iblis.
- Dan ada pula yang mengatakan bahwa perempuan “pemanggil arwah” itu menipu Saul
- Baiklah kita petik saja keyakinan Israel tentang kehidupan sesudah mati. Dari kisah ini bisa kita tarik:
- Diyakini bahwa orang-orang mati itu beristirahat di bumi bagian bawah dan tidak mau diganggu.
- Setelah mati, semua orang menuju ke tempat yang sama, tidak peduli ia orang baik atau jahat.
- Meskipun pemanggilan arwah dilarang, orang Israel – termasuk penyusun kitab ini – umumnya percaya bahwa itu bisa terjadi.
- Kiranya, perikop ini tidak ingin menonjolkan tentang praktek pemanggilan arwah, dan juga suatu bukti bahwa arwah itu bisa dipanggil. Perikop ini hanya menunjukkan suatu keyakinan orang pada waktu itu, bahwa arwah orang mati dapat dipanggil kembali. Dan penulis kitab sendiri sekadar ingin menjadikan ritual pemanggilan arwah ini sebagai latar belakang kisahnya tentang akhir kejayaan Raja Saul. Tidak lama lagi Saul akan mati secara tragis dan bersama-sama dengan anak-anaknya (1Sam 31). Dan TUHAN telah menetapkan penggantinya, yaitu Daud.
- Saul sebagai raja memang mempunyai kekuasaan. Tetapi jangan lupa bahwa kekuasaan tertinggi ada di tangan TUHAN. Karena Saul mengabaikan hal itu, maka kejatuhannya semakin tragis dengan ulahnya mendatangi seorang pemanggil arwah. Kalau demikian, TUHAN mau digantikan dengan roh-roh gaib? Orang yang berani melakukan hal itu pasti akan hancur. Dan itulah yang ditempuh oleh Saul. Seharusnya ia bertobat bukan mendatangi dukun! Menyamar lagi sebagai orang biasa bukan sebagai pribadinya sendiri, yaitu seorang raja.
