Yesus Kristus, Sabda Kehidupan

 “Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan” (Yoh 10: 10)


 

  1.  Yesus sungguh Sabda Kehidupan, yang itu bisa kita lihat, cermati, maknai, dan akhirnya kita imani dari: kata-kataNya, perbuatanNya, tanda-tanda dan mukjizat-mukjizatNya, dan yang paling akhir dalam wafat dan kebangkitanNya.
    Inijil Kehidupan atau Sabda Kehidupan adalah sesuatu yang konkret dan bersifat pribadi, sebab terdiri dari pewartaan pribadi Yesus sendiri. Kepada Thomas Ia berkata: “Aku ini jalan, kebenaran, dan hidup” (Yoh 14: 6). Sedang kepada Martha Ia pun bersabda: “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepadaKu ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepadaKu, tidak akan mati selama-lamanya” Yoh 11: 25-26).
    Yesus adalah Putera Allah, yang sejak kekal menerima hidup dari Bapa (Yoh 5:26), dan kemudian Ia datang ke dunia kepada orang-orang (beriman kepadaNya) untuk mengikut-sertakan orang-orang tersebut memiliki juga kurnia itu (hidup kekal). Yesus sendiri bersabda: “Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup dan mempunyainya dalam segala kelimpahan” (Yoh 10: 10).
  2. Dalam Yesus Kristus, Sabda Kehidupan, hidup kekal Allah diwartakan dan dianugerahkan kepada kita. Dengan pewartaan dan kurnia tersebut maka hidup fisik dan rohani kita di dunia ini beroleh nilai dan maknanya yang penuh. Dan hidup kita di dunia ini dengan demikian merupakan panggilan untuk hidup kekal Allah.
     Kepenuhan amanat Injil tentang hidup dalam Perjanjian Lama dilukiskan dalam kitab Keluaran. Sebagai pusat pengalaman iman, Keluaran menceritakan tentang gambaran Israel yang akan punah karena ancaman maut yang membayangi semua bayinya laki-laki (Kel 1: 15-22). Allah turun tangan, menyelamatkan Israel; dan Israel kemudian mengenal dengan jelas bahwa hidupnya tidak tergantung kepada Firaun yang tiranis tetapi Allah, yang cintaNya lembut dan intensif.
    Kebebasan dari perbudakan di Mesir merupakan kurnia jati diri serta pengakuan martabat manusia yang pantang di hancurkan. Dalam hal ini penemuan Allah dan penemuan diri beriringan. Pengalaman keluar dari perbudakan di Mesir memberi pelajaran kepada Israel bahwa bagaimana pun situasi dalam keadaan terancam, Israel hanya perlu dan cukup berbalik kepada Allah dengan kepercayaan yang diperbarui. Allah tidak akan melupakannya.
    “Ingatlah semuanya ini, hai Yakub, sebab engkaulah hamba-Ku, hai Israel. Aku telah membentuk engkau, engkau adalah hamba-Ku; hai Israel, engkau tidak Kulupakan” (Yes 44: 21).
  3. Sebagaimana dulu umat Allah memberi kepastian kepada Israel di tengah bahaya, demikianlah sekarang, Putera Allah, Sabda Kehidupan, mewartakan kepada siapa saja yang terancam dan terhalang, terutama mereka yang kecil, lemah, miskin, dan tersingkir. “Orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik” (Luk 7:22). “Kabar baik” adalah keprihatinan Allah terhadap mereka yang kecil, lemah, miskin, dan tersingkir. Sekaligus ini menunjukkan betapa besarnya nilai hidup mereka (karena Allah berprihatin terhadapnya) serta bagaimana harapan mereka akan keselamatan mempunyai landasan yang kuat. 
  4. Gereja menyadari sebagai pengemban amanat keselamatan, maka Gereja mewartakan yang berkeliling seraya berbuat baik dan menyembuhkan. Petrus sewaktu meyembuhkan orang lumpuh di Gerbang Indah (pintu gerbang Bait Allah) ia berkata: “Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu: Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, berjalanlah!” (Kis 3:6).
    Di sini terlihat, bahwa iman kepada Yesus, Pemimpin kepada kehidupan (Kis 3:15), hidup yang terlantar dan berseru minta tolong kepadaNya menemukan harga diri dan martabat sepenuhnya lagi. Dalam artinya yang paling dalam, karya Yesus dan GerejaNya menyangkut makna hidup tiap orang dalam dimensi moral dan rohani. Maka hanya mereka yang merasa dan mengakui bahwa hidupnya dinodai oleh kejahatan dosa, mereka dapat menemukan kembali melalui perjumpaan dengan Yesus, Sang Juruselamat, Sabda Kehidupan. Sabda Yesus menyatakan: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat”(Luk 5:31-32).
    Bertobat adalah syarat untuk berelasi dengan Yesus. Jangan seperti kisah orang kaya yang bodoh (Luk 12: 13-21). Ia mengira bahwa ia dapat menjamin hidupnya dengan kelimpahan harta benda jasmani saja. Keliru besar! “Hai engkau orang bodoh pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti?” (Luk 12: 20).
  5. Yesus meskipun kaya, untuk kita Ia menjadi miskin; supaya berkat kemiskinanNya kita menjadi kaya (2Kor 8:9). Dan Yesus menghayati kemiskinan itu seumur hidupNya. Dan puncaknya sampai disalib: Ia merendahkan Diri dan menjadi taat sampai mati, bahkan mati disalib. Dan karena itu Allah meninggikanNya dan menganugerahiNya Nama di atas segala nama (Flp 2: 8-9).
    Wafat Yesus di Salib menjadi sumber kehidupan baru bagi segenap umat. Dari atas salib Yesus berseru dengan menyerahkan hidupNya kepada BapaNya (Luk 23:46). Satu kenyataan bahwa hidup berasal dari Allah Bapa. Maka sungguh bersarlah nilai hidup manusiawi sebagai sarana keselamatan seluruh umat manusia.
  6. Hidup yang dikurniakan Allah kepada manusia berbeda jauh dengan hidup semua makhluk lainnya, kendati manusia dibentuk dari debu tanah. Namun sungguh jauh berbeda hidup manusia itu, sejauh manusia itu hidup sesuai dengan rencana Allah di mana manusia dibentuk segambar dan secitra Allah. Hidup manusia haruslah menjadi tanda kehadiran Allah, mencerminkan kemuliaanNya dan menampilkan Allah di dunia. Kalau tidak, maka hidup manusia sama saja dengan hidup makhluk lain yang bukan manusia (bdk Kej 1: 26-27; Mzm 8: 6).
  7. Kisah kuno (Yahwis) bercerita tentang nafas ilahi yang dihembuskan ke dalam manusia supaya ia hidup. Asal ilahi nafas tersebut menjelaskan adanya rasa tidak puas abadi, yang dirasakan oleh manusia selama hidupnya di dunia. Karena manusia diciptakan oleh Allah dan membawa dalam dirinya meterai Allah yang tak terhapuskan, maka manusia secara alami tertarik kepada Allah. Betapa hampanya hidup dan tidak puas yang menandai hidup manusia di taman Eden yang satu-satunya pokok acuan hanyalah tumbuhan dan binatang.
    Dengan tampilnya “wanita” (makhluk daging dari dagingku, dan tulang dari tulangku) yang dihidupi oleh nafas Allah Sang Pencipta juga, barulah dapat memuaskan kebutuhan akan dialog antar pribadi, yang sangat penting bagi kenyataan manusia. Dalam diri sesama, baik pria maupun wanita, terdapat pantulan Allah sendiri, tujuan dan pemenuhan definitif tiap orang.
  8. Dengan jatuhnya manusia ke dalam dosa, maka tercemarlah rencana Allah. Manusia melawan Allah Penciptanya, dan sekarang ia menyembah makhluk-makhluk. Kacaulah citra Allah     dalam diri manusia. Dan celakanya lagi manusia cenderung melukai citra tersebut dalam sesamanya dalam bentuk: tidak percaya, acuh tak acuh, bermusuhan, bahkan kebencian yang fatal. Maka tidak heran kalau pembunuhan sesama gampang terjadi. Kalau Allah tidak lagi diakui sebagai Allah, maka makna manusia yang sejati terkhianati sudah. Akibat selanjutnya???
  9. Rencana kehidupan Allah yang dikurniakan kepada Adam pertama, karena ketidak-taatan Adam, hancurlah dan ternoda rencana Allah yang kemudian diikuti masuknya maut ke dalam dunia. Ketaatan Kristus Penebus, Sabda yang menjadi daging, Sabda Kehidupan, merupakan sumber rahmat yang dicurahkan atas bangsa manusia dan dengan demikian membuka dengan lapang bagi siapa pun gerbang Kerajaan hidup (bdk Rm 5: 12-21). “Manusia pertama, Adam menjadi makhluk yang hidup, tetapi Adam yang akhir menjadi roh yang menghidupkan” (1Kor 15:45).
  10. “Setiap orang yang hidup dan percaya kepadaKu, tidak akan mati selama-lamanya”(Yoh 11: 26). Hidup yang dikurniakan Allah kepada manusia dengan kedatangan Putera Allah adalah hidup yang tidak dapat dibatasi pada hidup dalam kurun waktu semata-mata. Akan tetapi hidup yang selalu ada “dalam Dia”. “Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia” (Yoh 1: 4).
    Perlu diingat pula bahwa martabat hidup itu selain berkaitan dengan awal mulanya yaitu kenyataan bahwa hidup itu datangnya dari Allah, tetapi juga berkaitan dengan tujuan akhir hidup itu yaitu berupa persekutuan dengan Allah dalam pengenalan dan cinta kasih akan Dia.
    Hidup yang sejati merupakan “gelanggang pernyataan Diri Allah” sehingga di arena itu kita menjumpaiNya, dan memasuki persekutuan denganNya.
  11. Akhirnya, butir-butir tentang hidup itu bisa kita catat sbb.:
    1. Hidup itu dari Allah.
    2. Hidup itu kurnia dari Allah.
    3. Hidup adalah gambar dan meterai Allah.
    4. Hidup adalah keikutsertaan dalam nafas kehidupanNya.
    5. Hidup itu tidak dapat diperlakukan dengan sesuka hati.
    6. Hidup tertuju kepada persekutuan dengan Allah, Sumber Hidup.
    7. Hidup tidak dapat dibatasi dalam kurun waktu semata-mata.
    8. Hidup itu selalu ada “dalam Dia”.
    9. Hidup itu nyata dalam: kata-kata, perbuatan, tanda-tanda dan mukjizat Yesus. Puncaknya dalam wafat dan kebangkitanNya.
    10. Yesus adalah Pemimpin hidup.
    11. Hidup (dan kematian) manusia berada di tangan Allah.
    12. Kekudusan hidup yang sejati semula tertera dalam hati manusia tak dapat diganggu-gugat.
    13. Hidupnya sendiri dan hidup sesamanya tak dapat diganggu gugat karena bukan miliknya, melainkan milik dan kurnia Allah, Sang Pencipta.
    14. Kehidupan badan di dunia ini bukan harta yang mutlak bagi orang beriman. “Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya” (Mrk 8:35).
    15. Hidup adalah pelayanan. “Ia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Mrk 10: 45).
    16. Hidup di dunia merupakan panggilan untuk hidup kekal Allah.
    17. Wafat Yesus di salib menjadi sumber kehidupan baru bagi segenap umat.
Powered by Blogger.