KITAB SUCI
PERIKOP
Yesus Tidak Memperbolehkan Setan-Setan Itu Berbicara
Bacaan : Mat 8: 28-34; Mrk 5:1-20; Luk 8:26-39.
- Bagi zaman dan kelompok Greenpeace yang mengakui hak-hak hewan, maka peristiwa Yesus membinasakan 2000 babi dengan cara membiarkan babi-babi itu dirasuki oleh setan, tentu menimbulkan masalah besar. Peristiwa itu terjadi di Gadara (Markus dan Lukas menyebutnya Gerasa). Apapun nama tempat atau kota itu, yang jelas itu terjadi di wilayah Dekapolis, suatu wilayah kapir. Kota itu disebutkan dekat dengan danau Galilea, sehingga setan itu memasuki babi-babi dan babi-babi itu kemudian terjun ke danau dan mati di sana.
- Hewan itu untuk diambil dagingnya atau untuk tujuan manfaat lainnya. Dari segi pandangan ekonomis, maka matinya babi-babi itu merupakan kerugian yang besar dari para petani pemelihara babi. Tetapi di sini para penulis Injil lebih menekankan pemeliharaan Allah dan harta di surga daripada pertimbangan mendapatkan jaminan ekonomi pada masa kini. Penulis Injil melihat pada perilaku setan yang selalu merusak dan pengaruhnya terhadap manusia. Itulah sebabnya maka penulis Injil melihat keseluruhan cerita itu dari sudut pandang yang berbeda dengan pandangan kita di jaman sekarang ini.
- Dekapolis adalah wilayah kapir, yang terdiri dari sepuluh kota (deka=sepuluh; polis=kota). Dekapolis terletak di seberang sungai Yordan dari sebelah selatan danau Galilea. Nama-nama kota tersebut adalah: Skitopolis, Pela, Dion, Gerasa, Filadelfia, Gadara, Rafana, Kanata, Hipos, dan Damsyik. Waktu Yésus berada di daerah itu datanglah seorang yang kerasukan setan kepada Yesus dan berkata: “Apa urusan-Mu denga aku, hai Yesus, anak Allah Yang Mahatinggi? Demi Allah jangan siksa aku!” (Mrk 5:7). Orang yang kerasukan setan itu dikendalikan oleh “roh yang najis” tinggal di dalam makam (sebuah tempat najis, kediaman orang mati). Dan babi-babi itu sudah tentu adalah hewan najis. Jadi roh yang najis itu masuk ke dalam babi-babi yang najis dan membinasakan mereka, sedangkan manusia yang kerasukan itu dibebaskan dan kembali ke rumah.
- Dalam hal ini yang menjadi pandangan adalah babi-babi. Babi itu binatang najis, jadi salah apabila penduduk kota itu hanya memperhatikan babi dan merasa kerugian besar, tetapi tidak memahami dibebaskannya orang yang kerasukan setan. Dengan matinya babi-babi itu mungkin menyatakan bahwa tanah yang najis (tempat orang kapir) itu telah dibebaskan dari roh yang najis melalui lenyapnya hewan yang najis pula. Bukankah keselamatan manusia jauh lebih penting daripada matinya babi?
- “Apa urusan-Mu dengan kami, hai Anak Allah? Adakah Engkau kemari untuk menyiksa kami sebelum waktunya ? (Mat 8:29). Injil Matius menambah kata “sebelum waktunya”, yang berarti sebelum penghakiman terakhir. Mengapa setan mengatakan demikian? Hal ini dapat dipahami, bahwa :
- Bangsa Yahudi mengajarkan bahwa para setan bebas menyiksa manusia sebelum penghakiman terakhir.
- Munculnya Yesus dengan kuasa-Nya untuk mengusir mereka (setan) seolah-olah membuat Yesus memulai penghakiman akhir itu terlalu cepat. Maka izin untuk memasuki babi-babi itu merupakan pengakuan bahwa penghakiman akhir itu belum terjadi. Para setan masih bebas untuk melakukan pekerjaan penggangguan dan pengrusakan. Walaupun demikian, dimana pun dan kapan pun Yesus Kristus, Sang Raja, hadir, Ia tentu akan membawa kerajaan-Nya dan membebaskan umat-Nya lepas dari kekuasaan kejahatan.
- Akhirnya perlu dicatat bahwa Kerajaan Allah memang hadir melalui Tuhan Yesus, dan penghakiman akhir belum tiba saatnya di mana kejahatan akan dihancurkan secara total. Setan memang masih berkeliaran dan melakukan godaan dan kejahatan, menyiksa dan membunuh siapa saja yang mereka jumpai. Meskipun demikian kekuasaan setan itu terbatas, karena Tuhan Yesus mengatasi kekuasaan setan dan selalu akan membebaskan manusia dari setan. Dalam perikop ini, jelas, betapa berharganya kehidupan manusia, sehingga jika perlu, sekelompok besar hewan boleh dikorbankan demi satu atau dua orang manusia.
.jpg)