KITAB SUCI
PERIKOP
Yesus Tidak Memperbolehkan Setan-Setan Itu Berbicara (2)
Bacaan : Mrk 1:29-34; Mat 8:14-17; Luk 4:38-41
- “Ia menyembuhkan banyak orang yang menderita bermacam-macam penyakit dan mengusir banyak setan; Ia tidak memperbolehkan setan-setan itu berbicara, sebab mereka mengenal Dia.” (Mrk 1:345). Yesus banyak kali melarang manusia untuk menceritakan apalagi menyiarkannya tentang diri-Nya. Kita lihat misalnya: (a). “setan yang mengenal” Dia; (b). Sehubungan dengan orang-orang yang disembuhkan, yang mungkin tidak mengenal-Nya, tetapi orang itu dapat menceritakan apa yang telah dilakukan oleh-Nya terhadap dia. “Ingatlah, janganlah engkau memberitahukan apa-apa tentang hal ini kepada siapa pun, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk pentahiranmu persembahan, yang diperintahkan oleh Musa, sebagai bukti bagi mereka.” (Mrk 1:44). Dan (c), sehubungan dengan murid-murid-Nya setelah mereka mengakui-Nya sebagai “Kristus” (Mrk 8:30; 9:9).
- Setan memang mengenal Yesus. Sesungguhnya setan lebih mengenal Yesus daipada para murid-Nya, karena setan menggunakan kata “Anak Allah”. Dan kata ini digunakan oleh Markus sampai akhir Injilnya. “Waktu kepala pasukan yang berdiri berhadapan dengan Dia melihat mati-Nya demikian, berkatalah ia: Sungguh, orang ini adalah Anak Allah.” (Mrk 15:39). Yesus mempunyai beberapa alasan untuk membuat setan-setan itu diam. (a). “Para ahli Taurat” yang menyebut Yesus sebagai Beelzebul, “penghulu setan”. Dengan penerimaan tuduhan tersebut, justru membuktikan siapa Dia itu sebenarnya. (b). Menerima kesaksian setan mengenai diri-Nya sendiri akan memberikan contoh kepada para pengikut Yesus untuk menerima kesaksian setan dalam masalah-masalah lain. (c). Yang penting, misi Yesus secara keseluruhan merupakan panggilan terhadap iman berdasarkan bukti, bukan kesaksian yang otoriter. Yesus memberitakan Kerajaan Allah dan hidup sesuai dengan nilai-nilai kerajaan itu. Setiap orang yang mau mengambil resiko untuk beriman dan menyerahkan diri akan menjadi murid-Nya dan belajar banyak. Tetapi yang lainnya hanya akan mendapatkan pengajaran dalam bentuk perumpamaan yang sulit untuk dimengerti.
- Orang-orang yang disembuhkan. Dalam hal ini, lain masalahnya. Masalahnya antara lain adalah kerendahan hati, sebab Yesus tidak mencari pengikut dengan cara membuat mukjizat. Juga Yesus tidak “mencari ketenaran”. Ini terjadi misalnya sewaktu Yesus menyembuhkan anak Yairus (Mrk 5: 35-43). Demikian pula sewaktu orang Gerasa yang disembuhkan dari kerasukan setan mau mengikuti-Nya, Yesus menolak dan menyuruh orang itu untuk kembali kerumahnya. Dan orang ini dikampungnya merupakan saksi otentik bagi Yesus. Dan ketika anak Yairus yang disembuhkan (atau dibangkitkan dari kematian) telah sembuh, Yesus pun berpesan supaya hal itu jangan sampai ada orang yang mengetahuinya (Mrk 5:43). Bagi orang awam, maka bisa jadi Yesus akan dipanggil untuk membangunkan orang yang sudah dikuburan. Kejadian lainnya misalnya, orang kusta yang disembuhkan oleh Yesus juga dipesan untuk tidak memberitahukan kepada orang lain (Mrk 1:44).
- Para murid. Para murid telah lama mengenal Yesus. Mereka mengikuti-Nya berkeliling, mendengar pengajaran-Nya, melihat mukjizat-mukjizat-Nya, dan melaksanakan perintah-perintah-Nya untuk melakukan hal yang sama. Keyakinan mereka telah tumbuh selama itu. Maka keyakinan mereka dinyatakan (mewakili teman-temannya) secara tegas oleh Petrus : “Engkau adalah Mesias.!” (Mrk 8:29). Sayangnya agama Yahudi tidak mempunyai pandangan yang sama jelasnya tentang Mesias dan misi-Nya. Ada yang berpendapat Mesias tidak perlu dicari, karena zaman keemasan telah dialami oleh bangsa Makabe. Ada pula yang berpendapat bahwa Mesias itu dari keturunan Raja Daud, sedang lainnya berpendapat Mesias itu dari keturunan Harun yang akan menjadi imam besar dan menyucikan ibadah di Bait Allah. Bahkan ada yang mencari seorang raja yang akan membebaskan dari penjajahan bangsa Romawi.
- Itulah sebabnya sebutan atau julukan “Kristus” atau “Mesias” merupakan julukan yang berbahaya. Julukan tersebut secara tidak langsung menunjukkan pada pemimpin pemberontak yang akan memberontak dan melepaskan diri dari Romawi. Maka julukan itu menyebabkan orang tidak menerima Yesus sendiri mengenai peran-Nya. Maka Yesus selalu menyebut diri-Nya sebagai “Anak Manusia”. Kata “Anak Manusia” bisa mempunyai makna: (a). manusia, arti umum, biasa. (b). Cara sederhana untuk menyatakan “Aku”. Dan (c). Untuk menunjuk makhluk yang menerima kuasa dan wewenang dari Allah. Arti mana yang tepat, tergantung pada konteksnya.
- Yang dikehendaki Yesus adalah agar orang memaknai kata “Anak Manusia” itu sesuai dengan konteks pengajaran-Nya. Inilah sesungguhnya yang dikehendaki Yesus sampai Ia menyelesaikan segala sesuatu yang harus dilakukan-Nya. Karena itulah Yesus meminta kepada para murid-Nya untuk tidak mengatakan apapun sampai Ia bangkit dari kematian. Yesus tidak membutuhkan pertolongan para murid untuk menjelaskan siapa diri-Nya sebenarnya dengan pemahaman yang tidak sempurna. Bagaimana pandangan kita terhadap Tuhan Yesus sekarang ini ?
