Air Suci

 


Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi
samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas
permukaan air. Berfirmanlah Allah: :Jadilah cakarawala
di tengah segala air untuk memisahkan air dari air.”

(Kej 1: 2, 6)

Demikianlah secara puitis, dilukiskan tentang penciptaan alam semesta. Dan demikian analog dengan penciptaan alam semesta, serta demikian juga yang terjadi dengan awal kehidupan kita pribadi: kita pun menjadi dan mendapat wujud insan dalam “kantung cairan air” yaitu ‘air ketuban’ di dalam rahim ibu kita. Kelihatan di sini kelahiran dimulai ketika “air ketuban seorang ibu pecah”.

Kalau kita masuk ke Gereja, di depan pintu Gereja selalu disediakan “bejana” air suci, untuk dengan air suci itu kita memasuki Gereja dengan membuat tanda salib. Sudah sejak awal Gereja terdapat jejak-jejak penggunaan air dalam doa kristiani. Kebiasaan-kebiasaan tersebut kita jumpai misalnya pada: membasuh tangan sebelum menadahkannya dalam doa, membasuh tangan sebelum makan.

Kita menggunakan air untuk menandai awal kehidupan kita karena Allah sendiri pun berbuat demikian. Banyak bukti-bukti yang kita dapati, baik itu dalam alam semesta maupun dalam Kitab Suci. Kita ingat, ketika dunia sudah begitu kacau dan istilahnya sudah porak poranda karena berkecamuknya dosa-dosa manusia, sehingga Allah kecewa telah menciptakan dunia. Maka Ia menyucikannya dengan mendatangkan Air Bah pada zaman Nuh. Dan hanya Nuh sekeluarga yang diselamatkan atau ‘hidup’, karena Nuh hidupnya suci di hadapan Allah. Nuh menemukan kehidupan baru.

Ketika Israel keluar dari perbudakan di Mesir sebagai bangsa yang bersatu, pun harus keluar melewati pertama-tama air Laut Merah. Dan ketika bangsa (terpilih) ini membangun tempat ibadat – mula-mula kemah, dan kemudian Kenisah – juga mereka  melengkapinya dengan bejana pembasuhan yang terbuat dari perunggu serta menempatkannya di pintu masuk.
Air ternyata telah menjadi suatu sakramen alami sejak awal penciptaan. Pada  ‘zaman alam”, mulai dari Adam sampai zaman para Bapa Bangsa, air menyegarkan dan membersihkan umat manusia. Pada “zaman Taurat”, sewaktu bangsa Israel memulai perjalanannya di padang gurun menuju Tanah Terjanji, air memberikan kelahiran kembali secara rohani bagi orang-orang Israel.
Menyusul  kemudian “zaman rahmat”, yaitu bersama Yesus. Dan sejak zaman ini sampai seterusnya air menerima kekuatan ilahi dari Sang Sabda yang menjadi manusia, yang dilahirkan oleh seorang Perawan. Kalau bayi-bayi lahir lewat “air” ketuban, sekarang pun laki-laki dan perempuan dewasa dapat “lahir dari air dan Roh Kudus”.”Jawab Yesus: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah.” (Yoh 3:5).

Bapa-bapa Gereja pun mengajarkan, bahwa ketika Yesus dibaptis dan turun ke dalam Sungai Yordan, maka dengan cara itu, Ia telah menguduskan air di seluruh dunia. Yesus telah membuat air itu menjadi hidup dan mampu memberikan kehidupan. (Lihat “Percakapan Yesus dengan perempuan Samaria”, Yoh 4: 1-40, khususnya ayat 10 s/d 14). Jadi dengan Yesus turun ke Sungai Yordan itu, maka Ia bukan saja telah menguduskan air di seluruh dunia, tetapi juga Ia telah membuat air itu menjadi sumber regenerasi, penyegaran, dan pembersihan supra alami.
Dalam hidup sekarang ini, kita hanya bisa melihat hal-hal yang rohani lewat tanda-tanda yang indrawi. Tetapi bila telah tiba saatnya nati, dalam kemuliaan kelak, kita akan melihat hal-hal yang ilahi itu sebagaimana adanya. Kita akan melihat  dari muka ke muka. Tanpa selubung sakramentalnya. (Lihat: 1Yoh 3:2-3).

Tentang menadahkan tangan yang bersih (suci) sebelum berdoa, sudah lama dan sejak akhir abad kedua, Tertullianus, seorang teolog Afrika Utara, telah menyebutkan adanya kebiasaan  simbolis membasuh tangan sebelum menadahkannya dalam doa. Dan kebiasaan ini rupanya yang mengilhami Paulus sewaktu menulis suratnya kepada Timotius : “Oleh karena itu aku ingin, supaya di mana-mana orang laki-laki berdoa dengan menadahkan tangan yang suci, tanpa marah dan tanpa perselisihan.” (1Tim 2:8).

Air menandakan rahmat Roh Kudus, karena Roh Kudus adalah sumber yang tak kunjung kering, dari mana mengalir segala karunia rahmat. Kitab Wahyu pun mengukuhkannya. “Lalu ia menunjukkan kepadaku sungai air kehidupan, yang jernih bagaikan kristal, dan mengalir ke luar dari takhta Allah dan takhta Anak Domba itu.” (Why 22: 1). Demikianlah lewat sejarah dan lewat alam semesta, Allah telah berfirman yang firmannya itu “mirip desau air bah”. “Dan kaki-Nya mengkilap bagaikan tembaga membara di dalam perapian; suara-Nya bagaikan desau air bah.” (Why 1:15).

Demikian, semua makna air yang serba kudus itu kita ambil alih untuk keperluan kita serta menganggapnya sebagai warisan. Dengan menggunakan air suci (misalnya sewaktu membuat tanda salib), itu sebenarnya adalah suatu penyegaran yang membebaskan kita dari penindasan si jahat. Masalahnya hanyalah bahwa kita kurang menyadarinya akan hal tersebut. Santa Theresia dari Avila menulis, bahwa: “tidak ada suatu pun yang membuat roh-roh jahat lari tunggang langgang – tanpa memalingkan muka – kecuali air suci”.*)
 


*). 40 Kebiasaan Katolik dan akar Biblisnya, Scott Hahn, Dioma Malang, 2011, hlm 38.

Powered by Blogger.