BUNGIKAT
Benang Merah
- PENDAHULUAN
Tulisan ini diberi judul “Benang Merah” hanya sebagai kode saja bahwa antara cerita/kejadian/ajaran dan nubuat para nabi dalam Perjanjian Lama, ada keterkaitan, hubungan, kemiripan atau kepenuhannya dalam Perjanjian Baru.
Sebagaimana dalam Injil Matius, banyak mengutip dari Perjanjian Lama, dan mengatakannya bahwa apa yang dinubuatkan dalam Perjanjian Lama terpenuhi/tergenapi dalam diri Yesus. Demikianlah tulisan ini mencoba untuk menghubungkan antara peristiwa yang satu dengan yang lain bahwa antara peristiwa-peristiwa tersebut ada “benang merah”nya, jalur keterkaitannya, lebih-lebih kalau ditelusur dari segi ajaran iman.
Sudah tentu masih banyak lagi selain yang tersaji di sini. Maka diharapkan kita masing-masing berusaha untuk dengan tekun mendalami Kitab Suci dan mencari “benang merah” yang lain dan menjadikannya sebagai inspirasi hidup kita, agar kedekatan dan kecintaan kita kepada Yesus Kristus semakin bulat; yang akhirnya akan membawa kita kepada anak-anak Allah yang sejati. Semoga !!!
- KUDUS, KUDUS, KUDUSLAH TUHAN
“Dalam tahun matinya raja Uzia aku melihat Tuhan duduk di atas takhta yang tinggi dan menjulang, dan ujung jubahNya memenuhi Bait Suci. Para serafim berdiri di sebelah atasNya, masing-masing mempunyai enam sayap; dua sayap dipakai untuk menutupi muka mereka, dua sayap dipakai untuk menutupi kaki mereka dan dua sayap dipakai untuk melayang-layang. Dan mereka berseru seorang kepada seorang, katanya: “Kudus. kudus, kuduslah TUHAN semesta alam, seluruh bumi penuh kemuliaanNya” (Yes 6:1-3).
Penglihatan Yesaya tersebut sama dengan penglihatan Yohanes sebagaimana tersebut dalam Kitab Wahyu. “Dan keempat makhluk itu masing-masing bersayap enam, sekelilingnya dan di sebelah dalamnya penuh dengan mata, dan dengan tidak berhenti-hentinya mereka bersertu siang dan malam: Kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah, Yang Mahakuasa, yang sudah ada dan yang ada dan yang akan datang: (Why 4:8).
Maka tidak ada yang lain yang pantas kita serukan kecuali Dia Yang Mahakudus, yang berada di tengah-tengah kita. “Berserulah dan bersorak sorailah, hai penduduk Sion, sebab Yang Mahakudus, Allah Israel, agung di tengah-tengahmu!” (Yes 12:6).
Kalau kita merayakan Perayaan Ekaristi, maka segala peristiwa yang terjadi di altar, di mana imam berjubah, dan sekumpulan umat berseru ‘Kudus, kudus, kudus’, adanya asap dupa, dan seruan para malaikat dan orang kudus, semuanya itu menyerupai satu dengan yang lain antara yang terjadi di altar dengan yang tergambar dalam Kitab Wahyu. Ini berarti bahwa Kitab Wahyu adalah kunci bagi Liturgi dan bahwa Liturgi adalah kunci bagi Kitab Wahyu. Dan Misa Kudus adalah ritual yang mengokohkan Perjanjian dengan Allah. “Inilah Piala darah-Ku, Darah Perjanjian yang Baru dan Kekal”.
Di dalam liturgi di dunia ini, kita mengambil bagian dalam Liturgi Surgawi dengan mencicipi terlebih dahulu, apa yang dirayakan dalam kota Suci Yerusalem, ke mana kita sebagai peziarah akan beranjak, di mana Kristus bertakhta di sisi kanan Allah Bapa, sebagai pelayan tempat tersuci dan tabernakel sejati. Bersama seluruh pasukan lasykar Surgawi, kita menyanyikan madah pujian bagi Tuhan. Kita menghormati kenangan para orang kudus dan berharap mengambil bagian dan turut bergabung dengan mereka.
Kita menantikan Penyelamat, Tuhan kita Yesus Kristus, sampai Ia, Hidup kita, nampak dan kita nampak bersama Dia di dalam kemuliaan. Ini adalah gambaran tentang Misa Kudus, Kitab Wahyu dan Surga. Dengan lain perkataan dapat dikatakan bahwa Misa Kudus adalah pesta Surgawi yang di bumi. Maka jangan sembarangan mengikuti Misa Kudus.
- KUPANGGIL ANAK-KU DARI MESIR
“Ketika Israel masih muda, Kukasihi dia, dan dari Mesir Kupanggil anakKu itu” (Hos 11:1).
Kitab Kejadian secara resmi menceritakan bagaimana bangsa Israel berada di Mesir. Dimulai dengan “Episode” Yusuf yang dibenci oleh saudara-saudaranya, karena sikap pilih kasih Yakub, ayahnya, dan karena saudara-saudaranya tidak tega untuk membunuhnya, maka Yusuf dijual kepada kafilah pedagang Ismael ke Mesir. Kalau Yusuf dibunuh, sudah selesai. Tetapi membunuh orang yang tidak berdosa adalah terlalu berlebihan; maka dijuallah Yusuf ke Mesir. Di Mesir, Yusuf dibeli oleh Potifar, pegawai istana Firaun. Dan karena kebaikan hati Yusuf, maka ia mendapat kepercayaan dari Potifar.
Romantika hidup pun menimpa Yusuf. Isteri Potifar jatuh cinta pada Yusuf dan mengajaknya berselingkuh, tetapi Yusuf menolak. Karena kecewa maka isteri Potifar membuat skenario, bahwa Yusuf mau memperkosanya (dengan bukti pakaian Yusuf di tangannya). Potifar yang kurang selidik, langsung percaya dan Yusuf di masukkan ke dalam penjara.
Kembali, karena kebaikan hatinya, Yusuf pun mendapat kepercayaan dari kepala penjara. Kebetulan di penjara itu ada dua napi pegawai Firaun yang mendapat mimpi tetapi tidak dapat menafsirkan arti mimpi tersebut. Yusuf tampil menafsirkan mimpi tersebut. Napi yang satu (juru minuman raja) ditafsir bahwa ia akan mendapatkan kembali kedudukannya. Sedang napi yang lainnya (juru roti raja) akan dihukum mati dalam tiga hari. Mimpi tersebut menjadi kenyataan.
Ganti sekarang Firaun mendapat mimpi dan semua ahli tafsir mimpi tak ada yang bisa menafsirkannya. Maka teringatlah si juru minuman raja yang pernah ditolong Yusuf. Ia kemudian melapor kepada raja bahwa di penjara ada napi yang bisa menafsirkan mimpi. Maka ia usul kepada raja supaya memanggil dia di penjara. Inilah kebaikan si juru minuman.
Singkat kata, Yusuf dapat menafsir mimpi Firaun yaitu bahwa Mesir akan mengalami kelimpahan kemakmuran selama tujuh tahun dan kemudian disusul dengan bahaya kelaparan tujuh tahun. Maka, dalam masa kelimpahan supaya diadakan usaha “Lumbung paceklik” untuk menghadapi masa kelaparan. Dan untuk pelaksanaan itu Yusuf-lah yang ditunjuk. Jadilah Yusuf sekarang seorang penguasa.
Sebagai penguasa maka Yusuf kemudian memboyong ayah dan saudara-saudaranya dengan seluruh keluarganya ke Mesir. Jadilah keluarga Yakub sekarang sebagai “Pendatang di Mesir”. Bangsa Israel ini kemudian berkembang menjadi bangsa yang besar di Mesir. Dalam peristiwa Keluaran, Allah memilih Musa untuk menuntun umatNya keluar dari Mesir, membebaskan mereka dari perbudakan di Mesir. “Dari Mesir Kupanggil anakKu itu” (Hos 11:1).
Dalam Perjanjian Baru, setelah Yesus lahir, sebagai “raja orang Yahudi yang baru” (Mat 2:2), maka raja yang berkuasa pada saat itu, Herodes, merasa tersaingi dengan lahirnya raja baru. Raja adalah hanya dia (Herodes) seorang, tak ada yang lain. Maka karena ia tidak tahu yang mana itu Sang Timur, Yesus, yang ia tahu bahwa kelahiran itu sekitar dua tahun yang lalu, maka ia memerintahkan untuk membunuh semua bayi laki-laki yang berumur dua tahun kebawah di seluruh Betlehem.
Tuhan, lewat malaikatNya menjumpai Yusuf dalam mimpi dan menyuruh mengungsi ke Mesir karena Herodes akan membunuhNya (Mat 2:13). Maka mengungsilah Yusuf dengan Maria dan Kanak-kanak Yesus ke Mesir. Setelah Herodes mati, nampaklah malaikat Tuhan kepada Yusuf dalam mimpi di Mesir dan memerintahkan pulang ke tanah Israel (Mat 2:19-20). Dan genaplah yang difirmankan Tuhan lewat nabi: “Dari Mesir Kupanggil AnakKu itu” (Mat 2:15; Hos 11:1). - PENIPUAN DENGAN PERANTARAAN KAMBING
Dari isterinya, Ribka, Ishak mempunyai anak Esau dan Yakub. Esau, si sulung, berwarna merah, seluruh tubuhnya seperti jubah berbulu. Sedang Yakub, adiknya, normal. Kalau Esau suka berburu dan tinggal di padang, Yakub suka tinggal di kemah. Ishak lebih suka pada Esau karena suka makan daging buruan hasil Esau, sedang Ribka, ibunya, lebih menyukai Yakub. Antara suami dan isteri sudah ada pilih kasih terhadap anak-anaknya.
Ketika Ishak sudah tua, pandangan matanya mulai kabur, maka ia memanggil Esau, untuk diberkati. Sebelum diberkati, Esau disuruh berburu dan mengolah daging buruannya sesuai dengan kesukaan ayahnya. Barulah Ishak akan memberkatinya setelah itu.
Ribka yang mengetahui rencana Ishak, suaminya, segera mengolah daging kambing dan menyuruh Yakub, anak yang disayangi, untuk menghidangkan masakan itu kepada ayahnya. Kemudian, dengan rekayasa Ribka, Yakub diberi pakaian Esau yang indah dan dikenakan pada Yakub (Kej 27:15).
Ishak yang sudah tua, dan pandangan matanya sudah kabur, tidak begitu jelas bahwa yang datang itu bukan Esau tetapi Yakub. Semula Ishak sudah agak ragu mengapa masakan daging buruan begitu cepat selesai. Juga Ishak mengatakan: “kalau tangan adalah tangan Esau tetapi suaranya, suara Yakub” (Kej 27:22). Dengan rekayasa dan tipu muslihat Ribka akhirnya Yakub diberkati oleh Ishak (Kej 27:27-29).
Catatan : Dua kali Esau ditipu oleh Yakub. Pertama, ketika Esau pulang dari padang merasa lapar dan sementara Yakub memasak bubur kacang merah. Karena lapar tak tertahan maka Esau telah menukarkan hak kesulungannya dengan semangkok bubur kacang merah. Kedua, pemberkatan atas dirinya, karena rekayasa ibunya, Ribka, maka Yakublah yang diberkati bukan Esau.
Yakub mempunyai isteri Lea dan Rahel, serta budak mereka yang juga diambil sebagai isteri yaitu Zilpa dan Bilha. Dari keempat isterinya Yakub mempunyai 12 anak laki-laki dan satu anak perempuan. Anak dari isteri tercinta (Rahel) ialah Yusuf dan Benyamin. Karena Yusuf dianak-emaskan oleh Yakub akibatnya menimbulkan iri hati dan kebencian dari saudara-saudaranya. Maka saudara-saudaranya berusaha untuk membunuhnya.
Ruben, kakak tertua, membelanya dengan alasan menumpahkan darah orang yang tak berdosa terlalu berlebihan. Maka ia usul agar Yusuf dimasukkan saja dalam sumur yang kering (tidak berair). Usul ini dengan maksud bahwa nantinya ia akan menyelamatkan Yusuf dan mengembalikannya kepada ayahnya. Tetapi sebelum usaha Ruben berhasil, Yehuda telah menjual Yusuf kepada kafilah pedagang orang Ismael tanpa sepengetahuan Ruben. Dan untuk menghindari kemarahan Yakub, ayahnya, maka jubah Yusuf dilumuri dengan darah kambing dan melaporkan bahwa Yusuf telah mati diterkam binatang buas. Yusuf tidak mati tetapi dijual ke Mesir sebagai budak.
Yakub yang pernah menipu Ishak untuk diberkati dengan “perantaraan kambing”, kini ia pun ditipu bahwa anak kesayangannya, Yusuf, telah mati dengan “perantaraan darah kambing”. - PERSEMBAHAN ANAK TUNGGAL
Janji TUHAN kepada Abram, adalah bahwa ia akan mempunyai keturunan seperti bintang-bintang di langit banyaknya (Kej 15:5). Abram percaya akan janji TUHAN dan TUHAN memperhitungkan hal itu sebagai kebenaran (Kej 15:6).
Pada usia 99 tahun (Kej 17:15) Allah mengadakan perjanjian dengan Abram dan nama Abram diganti menjadi Abraham (Kej 17:5), dan Sarai, isterinya, juga disebut Sara (Kej 17:15). Perjanjian dengan Abraham tersebut ditandai dengan bersunat. Maka Abraham disunat pada usia 99 tahun sebagai tanda perjanjian dengan Allah (Kej 17:24).
Janji Allah terpenuhi, Sara melahirkan seorang anak laki-laki pada usia tuanya, dan diberi nama Ishak. Pada waktu Ishak lahir, Abraham berusia 100 tahun (Kej 21:5). Abraham adalah paraga yang setia, dan sangat mencintai anak tunggalnya.
Abraham kemudian diuji oleh Tuhan untuk mempersembahkan anaknya yang tunggal, yang sungguh dicintai, kepada-Nya. Di Moria Abraham harus mempersembahkan Ishak, anaknya terkasih, sebagai korban bakaran (Kej 22:2). Dengan kesetiaan yang penuh maka berangkatlah Abraham ke tempat yang ditunjuk oleh Allah, dan Ishak, anaknyalah yang memanggul kayu bakar untuk keperluan persembahan tersebut.
Ketika sampai di tempat, Abraham mendirikan mezbah di sana (Kej 22:9). Bertanyalah Ishak, anaknya: “Di sini sudah ada api dan kayu, tetapi di manakah anak domba untuk korban bakaran itu?” (Kej 22:7). Dan jawab Abraham: “Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagiNya, anakku” (Kej 22:8).
Begitu Abraham siap untuk menyembelih Ishak sebagai korban bakaran, malaikat Tuhan berseru dan melarang Abraham untuk menyembelih Ishak. Hal ini karena terbukti bahwa Abraham sungguh setia sepenuh hati kepada Tuhan untuk mengorbankan anak terkasihnya. Maka korban Ishak pun diganti dengan domba jantan yang tanduknya tersangkut dalam belukar di belakang Abraham (Kej 22:13).
Allah juga sungguh setia dan mencintai kepada umatnya, dan itu dibuktikan bahwa Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang Tunggal (yang sudah tentu sangat dicintaiNya) supaya setiap orang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal (Yoh 3:16).
Kesetiaan Abraham untuk menghorbankan Ishak anaknya yang tunggal (yang sudah tentu juga ia cintai) ada “benang merah” kecintaan dan kesetiaan Allah kepada umatNya. Ishak yang memanggul kayu bakar di punggungnya untuk korban bakaran, ada benang merah dengan Yesus yang memanggul sendiri salib yang dipakai untuk menyalib Dia di Golgota.
Tradisi Israel, mengidentifikasikan Moria dengan tempat lokasi Bait Allah di kemudian hari di Yerusalem. “Salomo mulai mendirikan rumah TUHAN di Yerusalem di gunung Moria, di mana TUHAN menampakkan diri kepada Daud, ayahnya, di tempat yang ditetapkan Daud, yakni di tempat pengirikan Ornan, orang Yebus itu” (1Taw 3:1). Korban Ishak yang digantikan dengan domba berbenang merah kepada Yesus, Anak Domba yang tak tergantikan. Yesus-lah Anak Domba Allah yang sejati.
Benang merah korban persembahan Abraham dengan Yesus Kristus adalah:
1. Ishak adalah anak tunggal yang dikasihi oleh bapanya yang setia. Demikian pun Yesus, anak Tunggal Bapa di Surga, Bapa yang penuh kasih kepada umatNya, penuh kesetiaan, panjang sabar dan Mahapengampun.
2. Ishak memanggul sendiri kayu bakar ke gunung Moria tempat ia akan dikorbankan demikian juga Yesus memanggul sendiri salib yang akan digunakan untuk menyalib-Nya.
3. Tempat Yesus wafat di atas bukit di Yerusalem, adalah salah satu bagian dari pegunungan Moria, tempat Ishak akan dikorbankan.
4. Dalam Perjanjian Baru, yang disamakan dengan Ishak disebut juga “anak Abraham” “Inilah silsilah Yesus Kristus, anak Daud, anak Abraham” (Mat 1:1).
5. Allah akan menyediakan bagi diriNya sendiri, Anak Domba, untuk kurban bakaran (Kej 22:8). Anak Domba di sini memberi bayangan yang mendahului, yang tentunya yang dimaksud ialah Yesus Kristus, Allah sendiri.
- MELKISEDEK MEMPERSEMBAHKAN ROTI DAN ANGGUR
“Melkisedek, raja Salem, membawa roti dan anggur; ia seorang imam Allah Yang Mahatinggi. Lalu ia memberkati Abram, katanya: “Diberkatilah kiranya Abram oleh Allah Yang Mahatinggi, Pencipta langit dan bumi, dan terpujilah Allah Yang Mahatinggi, yang telah menyerahkan musuhmu ke tanganmu”. Lalu Abram memberikan kepadanya sepersepuluh dari semuanya” (Kej 14:18-20).
Korban persembahan sudah sejak awal dijelaskan dalam Kitab Kejadian, dimulai dengan Kain dan Habel, kemudian zaman Nuh, Abraham, Yakub, dan sebagainya. Dan untuk persembahan korban tersebut biasanya dibuat meja-meja altar untuk khusus digunakan bagi korban. Sebagai tambahan korban bakaran, orang-orang zaman dulu kadang-kadang menuangkan minuman anggur.
Melkisedek muncul sebagai imam pertama dalam Kitab Suci (banyak yang melihat dia sebagai “bayang-bayang” Yesus Kristus). Melkisedek adalah imam dan raja. Dan ini biasa dalam Perjanjian Lama, tetapi akhirnya ditujukan kepada Yesus. Melkisedek adalah raja di Salem, tanah yang kemudian menjadi Yerusalem, yang berarti “kota damai”.
“Allah terkenal di Yehuda, namanya masyhur di Israel. Di Salem sudah ada pondokNya, dan kediamanNya di Sion!” (Mzm 76:2-3).
Yesus akan bangkit pada suatu hari sebagai raja dari Yerusalem Surgawi, dan seperti Melkisedek juga, “Raja Damai”.
Korban Melkisedek adalah istimewa yaitu bukan berupa hewan akan tetapi roti dan anggur, seperti yang dilakukan oleh Yesus pada saat Perjamuan Akhir, ketika Ia mengadakan Perjamuan Ekaristi. Korban Melkisedek berakhir dengan berkat atas Abraham (Kej 14:19). Dalam Perjanjian Lama sesudah persembahan korban keselamatan bagi bangsa itu, imam (Harun) mengangkat kedua tangannya atas bangsa itu, lalu memberkati mereka (Im 10:22). Sesudah Misa Kudus pun ada berkat melalui Imam.
Kalau Melkisedek mempersembahkan roti dan anggur dan kemudian memberkati Abraham, dalam Misa Kudus, roti dan anggur yang dipersembahkan justru Tubuh dan Darah Kristus, yang kemudian ditutup dengan berkat dari Imam (in perseona Christi). - H I S O P
Hisop dalam Perjanjian Lama digunakan dalam Perayaan Paskah, untuk mengoleskan/memercikkan darah korban (lih. Kel 12:22; bdk Im 14: 4, 6; Bil 19:2-6).
Dan pada waktu Yesus tergantung di salib, diberi minum anggur dengan memakai bunga karang yang dicucukkan pada cabang hisop. Tanda korban. Dan sesudah mengecap anggur tersebut Ia kemudian berkata: “Sudah selesai”.
- YOHANES DAN ELIA
Yohanes (Pembaptis) mulai berkarya di padang gurun Yudea dan memberitakan tentang pertobatan, katanya: “Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat” (Mat 3:1-2). Dan tentang kegiatan Yohanes Pembaptis menyerukan pertobatan tersebut jauh sebelumnya nabi Yesaya sudah menubuatkannya. “Ada suara yang berseru-seru: Persiapkanlah di padang gurun jalan untuk TUHAN, luruskanlah di padang belantara jalan raya bagi Allah kita” (Yes 40:3) Genaplah yang dinubuatkan oleh Yesaya bahwa pada satu saat akan ada paraga yang menyerukan pertobatan. Dan itu ialah Yohanes Pembaptis.
Selanjutnya dikatakan bahwa Yohanes Pembaptis datang mendahului Dia Yang sesungguhnya akan datang yaitu Mesias, Sang Kristus. Yohanes Pembaptis sebagai pendahulu Sang Mesias, dapat dirujuk dari kata-kata Yohanes Pembaptis sendiri: “Aku membaptis kamu dengan air sebagai tanda pertobatan, tetapi Ia yang datang kemudian daripadaku lebih berkuasa daripadaku dan aku tidak layak melepaskan kasutNya. Ia akan membaptiskan kamu dengan Roh Kudus dan dengan api” (Mat 3:11).
Yohanes Pembaptis pendahulu kedatangan Tuhan juga bisa dirujuk dari: “Lihat, Aku menyuruh utusanKu, supaya ia mempersiapkan jalan di hadapanKu!” (Mal 3:1a). Dan kalau Yohanes Pembaptis dialamti sebagai Elia, dasarnya adalah: “Sesungguhnya Aku akan mengutus nabi Elia kepadamu menjelang datangnya hari TUHAN yang besar dan dahsyat itu” (Mal 4:5).
Pakaian Yohanes Pembaptis mirip dengan Elia. Elia berpakaian bulu, dan ikat pinggang kulit terikat pada pinggangnya (2Raj 1:8). Yohanes Pembaptis juga berpakaian jubah bulu onta dan ikat pinggang kulit dan makanannya belalang dan madu hutan (Mat 3:4).
Pekerjaan Yohanes Pembaptis yang berseru-seru di padang gurun supaya orang-orang menyiapkan jalan bagi Tuhan dan meluruskannya jalan bagiNya (Mat 3:3) telah dinubuatkan oleh nabi Yesaya (lih. Yes 40:3).
- YUNUS DALAM PERUT IKAN (Yun 1:1-17)
Yunus mendapat tugas dari TUHAN supaya pergi ke Niniwe dan menyerukan pertobatan sebab kejahatan kota Niniwe telah sampai kepada TUHAN. Tetapi Yunus bahkan pergi ke Tarsis, dengan naik kapal, dan jauh dari hadapan TUHAN.
Terjadilah angin ribut yang nyaris menghancurkan dan menenggelamkan kapal tersebut. Para awak kapal panik semua, dan kemudian didapatilah Yunus yang sedang tidur di ruang bawah. Kemudian dibuanglah undi untuk menentukan siapa sumber malapetaka itu. Undi jatuh pada Yunus. Maka Yunus harus bertanggung jawab atas musibah tersebut. Maka kemudian Yunus menyarankan kepada mereka agar dirinya dibuang ke laut.
Demikianlah Yunus kemudian diangkat oleh mereka dan dicampakkan ke dalam laut, dan . . . . .laut berhenti mengamuk. Dan orang-orang kemudian mempersembahkan korban sembelihan bagi TUHAN. Dan atas penentuan TUHAN, kemudian datanglah seekor ikan besar yang menelan Yunus; dan Yunus tinggal dalam perut ikan itu; tiga malam lamanya (Yun 1:17).
Dengan dicampakkannya Yunus ke dalam laut maka teduhlah laut itu. Dengan turunnya Yesus, anak Allah, dari Surga dan datang ke dunia (lautan manusia) maka teduhlah segala gejolak yang membahayakan para awak kapal dan mereka diselamat-kan. Demikian pun kedatangan Yesus ke dunia untuk menyelamatkan manusia. Sudah tentu berlaku bagi mereka yang percaya kepadaNya.
Yunus berada dalam perut ikan tiga malam lamanya, demikianlah Yesus berada dalam “perut” bumi selama tiga hari, dan pada hari ketiga Ia bangkit dari antara orang mati dan dimuliakan Allah Bapa-Nya, diangkat ke Surga.
- GEMBALAKANLAH DOMBA-DOMBA-KU (Yoh 21:15-19)
Sesudah sarapan, Yesus kemudian bertanya kepada Petrus: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari mereka ini?” Pertanyaan tersebut diajukan kepada Petrus sampai tiga kali. Kata “mereka” dalam pertanyaan tersebut (Yoh 21:15) kiranya diajukan kepada Petrus dengan posisi:
a. Yesus berdiri sambil tangannya menunjuk kepada alat-alat penangkap ikan, perahu, dan sebagainya; atau
b. Yesus sambil menunjuk kepada para murid yang lain dan orang-orang yang mengikutiNya.
Petrus memberi jawaban dengan menyatakan bahwa Dia mengetahui bahwa ia mengasihiNya. Yang menjadi catatan di sini adalah mengapa Yesus menanyakan hal itu sampai tiga kali dan tiga kali pula memberi perintah untuk menggembalakan “domba-domba”Nya.
Rupanya Yesus yang memang mengetahui apa yang akan terjadi pada Petrus, ingin memberikan peneguhan hati kepada Petrus, sehubungan nantinya Petrus akan menyangkaliNya sampai tiga kali (sebelum ayam berkokok). Demikianlah pertanyaan Yesus sampai tiga kali sebagai peneguhan iman Petrus sehubungan dengan penyangkalannya kepadaNya juga sampai tiga kali.
Selain adanya peneughan iman, kepada Petrus juga ditugasi untuk menggembalakan “domba-domba”Nya. Maka Petrus dan seluruh penggantinya sampai sekarang adalah “Pribadi Kristus”. - TANGIS DAN RATAP YANG AMAT PEDIH IBU-IBU KARENA PEMBU-NUHAN BAYI-BAYI (Mat 2:16-18)
Dalam Mat 2:16-18 diceritakan bahwa Herodes memerintahkan membunuh semua anak laki-laki yang berumur dua tahun ke bawah di seluruh Betlehem karena ia murka telah dibohongi oleh orang-orang Majus dari Timur. Orang Majus yang berjanji untuk lapor kepada Herodes tentang keadaan dan lokasi di mana Yesus yang baru dilahirkan, ternyata mereka tidak melaporkan. Hal tidak melapornya itu karena mereka diperingatkan dalam mimpi oleh malaikat Tuhan agar jangan kembali kepada Herodes (Mat 2:12).
Maka terjadilah tragedi pembunuhan anak laki-laki usia dua tahun ke bawah. Atas peristiwa pembunuhan anak laki-laki tsb, maka ibu-ibu (khususnya) sangat menangisi dan meratapinya.
Nah, nabi Yeremia telah menulis (menubuatkan) bahwa di kota Rama, Rahel (seorang ibu), isterti Yakub, menangis yang tak dapat dihibur. “Beginilah firman TUHAN: Dengar! Di Rama terdengar ratapan tangisan yang pedih: Rahel menangisi anak-anaknya, ia tidak mau dihibur karena anak-anaknya , sebab mereka tidak ada lagi” (Yer 31:15).
Sebenarnya yang digambarkan oleh Yeremia adalah Yerusalem yang penduduknya dibawa ke pembuangan. Penduduk Yerusalem yang dibawa ke pembuangan yang penuh duka itu, mereka melewati kota Rama, yaitu kota di mana Rahel dikuburkan (1Sam 10:2). Yeremia menggambarkan begitu beratnya penderitaan penduduk Yerusalem di pembuangan nanti, sehingga Rahel yang sudah mati pun ikut menangis.
Nah, oleh Matius, nubuat Yeremia tersebut ditarik sebagai nubuat yang terpenuhi/tergenapi pada saat bayi Yesus akan dibunuh oleh Herodes (sehingga berakibat pembunuhan bayi-bayi di Betlehem).
Fokusnya untuk meyakinkan orang Yahudi tentang ke-Mesias-an Yesus. Dan bagi orang Yahudi hal tersebut memang meyakinkan.
- I N R I (Ieus Nazarenus Rex Iudaeorum)
INRI adalah singkatan yang berarti: Yesus dari Nazaret Raja orang Yahudi. Sebilah papan dengan tulisan tersebut dipasang di kayu Salib atas perintah gubernur Pilatus. Mengapa Yesus disebut orang Nazaret? Ini berkaitan dengan pengungsian ke Mesir, berhubung Herodes yang merasa “tersaingi” oleh kelahiran Yesus di Betlehem ingin membunuhNya.
Setelah Herodes yang akan membunuhNya sudah mati, pulanglah keluarga Yusuf dengan membawa Yesus kembali dari Mesir. Akan tetapi setelah diketahui bahwa pengganti Herodes yaitu Arkhelaus, anaknya, juga seorang raja yang jahat, maka keluarga Yusuf tidak kembali ke Betlehem tetapi ke kota Nazaret, sampai dewasa. Maka Yesus kemudian disebut Orang Nazaret (Mat 2: 19-23).
Sebetulnya dalam Perjanjian Lama tidak ada menyebutkan nama Nazaret. Tetapi karena Injil Matius lebih banyak menekankan penggenapan apa yang dinubuatkan oleh para nabi dalam Perjanjian Lama, maka kemudian Matius mencari dasar dengan “permainan kata” untuk menegaskan penggenapan nubuat nabi dalam Perjanjian Lama terwujud/tergenapi dalam Perjanjian Baru.
Dalam Perjanjian Lama ada tertulis: “Suatu tunas akan keluar dari tunggul Isai, dan
taruk yang akan tumbuh dari pangkalnya akan berbuah” (Yes 11:1). Dari tunggul Isai itu kalau ditelusur menuju kepada Daud, Salomo, . . . . . Yesus. Maka Yesus juga disebut “Anak Daud”.
Di samping itu, kata “taruk” dalam bahasa Ibrani adalah “nazer”. Nah, dengan “permainan kata”, dari kata “nazer” menjadi “Nazaret”. Maka klop-lah bahwa memang dari taruk (nazer) Daud itu akan “berbuah” Yesus (orang Nazaret). Jadi Yesus Orang Nazaret adalah penggenapan dari nubuat nabi dalam Perjanjian Lama. Ketegasan ini untuk meneguhkan orang Yahudi, bahwa Yesus adalah Orang Nazaret dan sekaligus Yesus adalah nazer (taruk) yang dijanjikan dari keturunan Isai dan Daud. Dan taruk yang dijanjikan itu adalah juga Raja yang dijanjikan oleh Allah.
- UNTUK ITULAH AKU DIUTUS (Luk 4:43)
Kemana pun Yesus pergi, selalu diikuti/dicari oleh orang-orang dengan motif yang bermacam-macam. Ada yang ingin mendengarkan ajaranNya, ada yang ingin disembuhkan dari segala penyakit yang dideritanya, dan ada juga yang hanya ingin mendapatkan roti (sesudah Ia membuat mukjizat penggandaan roti), dan masih ada motif-motif lainnya.
Atas dasar motif-motif tersebut maka orang banyak itu selalu berusaha untuk menahanNya, agar Ia tidak meninggalkan mereka. Tetapi Yesus tidak mau ditahan oleh mereka di satu kota. Ia selalu pergi ke kota-kota lain untuk di kota lain itu Ia juga memberitakan Injil Kerajaan Allah. Sebab memang untuk itulah Ia diutus. Maka Ia pun mengajar di dalam rumah-rumah ibadat di Yudea/ di seluruh Galilea (Mrk 1:35-39; Luk 4:42-44).
Misi Yesus datang ke dunia adalah mengemban tugas yang diberikan oleh Allah BapaNya yaitu memberitakan Injil Kerajaan Allah. Nanti setelah Ia selesai dengan tugas-Nya di dunia ini pada gilirannya Ia menugasi para murid-Nya untuk meneruskan tugas tersebut (lih. Mat 28: 19-20).
Kita semua, yang telah dibaptis dalam nama Tritunggal Mahakudus, kita telah dihapuskan dosa-dosa kita dan sekaligus kita diangkat menjadi “anak-anak Allah” . Sebagaimana Yesus sebagai Anak Allah mengemban tugas dari BapaNya, demikian pun kita, sebagai anak-anak Allah, dengan perantaraan Tuhan Yesus, mengemban tugas Allah Bapa, yang tugas tersebut telah ditugaskan oleh Yesus kepada para muridNya. Bukankah kita juga murid Yesus?
Maka, semua orang yang telah dibaptis dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus, telah terlekat dalam dirinya bahwa ia harus memberitakan Injil Kerajaan Allah. Istilah “elektronis”nya, setiap orang/lembaga Katolik sudah “built-in”, yang dalam dirinya sudah terdapat hak dan kewajiban untuk mewartakan Injil. Tugas untuk mewartakan Injil kepada segala bangsa merupakan perutusan hakiki dari Gereja (Evangelii Nuntiandi –EN 14).
Maka sebenarnya tidak ada satu orang pun atau satu lembaga, serta komunitas Katolik yang dikecualikan atau dibebaskan dari kewajiban mewartakan Injil. Jadi setiap orang harus tertanam dalam dirinya satu semboyan: “Mari kita pergi untuk mewartakan Injil Kerajaan Allah, karena untuk itulah aku dibaptis menjadi Katolik”. Bahklan lebih ekstrim lagi semboyan Paulus: “Celakalah aku kalau aku tidak memberitakan Injil” (1Kor 9:16).
- ORANG SAMARIA YANG MURAH HATI (Luk 10:25-37)
Dalam perikop tersebut digambarkan tentang sikap murah hati kepada sesama. Seorang ahli Taurat yang ingin membenarkan dirinya mengajukan pertanyaan kepada Yesus, bagaimana caranya untuk memperoleh hidup yang kekal. Ahli Taurat tersebut merasa sudah menjadi orang baik karena sudah melaksanakan hukum Taurat, dan menganggap diri bakal masuk surga. Ia melaksanakan hukum Taurat hanya secara formalitas, tetapi jauh dari pelaksanaan yang realistis atau pelaksanaan hukum Taurat yang material.
Dengan memberikan perumpamaan, Yesus menegaskan bahwa pelaksanaan hukum kasih si ahli Taurat tersebut masih jauh dari benar dan sempurna. Perumpamaan Yesus berkisar tentang “sesama”. Orang Samaria, walaupun ia juga orang Yahudi, tetapi dibenci oleh orang Yahudi, hanya karena orang Samaria itu sudah bercampur dengan bangsa-bangsa lain (akibat penjajahan), sehingga mereka tidak lagi memiliki ras Yahudi asli.
Karena tidak lagi sebagai orang Yahudi asli (ras murni), maka mereka dianggap sebagai “orang kafir”, yang dengan sendirinya tidak berhak mempunyai status sebagai bangsa terpilih, bangsa pilihan Allah. Dibencilah mereka oleh orang-orang Yahudi. Tetapi dalam perikop tersebut di atas, yang memperlihatkan rasa belas kasih dan menganggapnya sebagai sesama dari orang yang dirampok adalah justru orang Samaria (yang mereka benci).
Ajaran iman yang bisa kita petik dari perumpamaan tersebut adalah: Daripada berdiskusi bertele-tele tentang definisi “siapakah sesama kita itu?” lebih baik “jadilah sesama bagi mereka(orang lain) yang menderita”. Kasih yang sejati adalah kasih yang diberikan kepada orang lain (sesama) dengan langsung terwujud, tidak perlu ada pertimbangan/pertanyaan:
◦ Siapakah dia?
◦ Apakah dia itu sekaum dengan kita?
◦ Apakah kita mendapat keuntungan dari sikap kasih kita kepadanya?
◦ Apakah mereka perlu dikasihani?
◦ Dan lain-lainnya.
Kasih sejati untuk sesama adalah:
◦ Pertolongan tersebut adalah praktis dan nyata, bukan hanya sekedar perasaan menyesal.
◦ Kewajiban menolong adalah baku; artinya walaupun penderitaan itu adalah buah ulahnya sendiri. Misalnya orang yang mendapat kecelakaan karena ulahnya sendiri, ngebut, tetap harus kita tolong.
◦ Siapa pun dan dari mana pun dia, bila butuh pertolongan adalah sesama kita.
Sebagaimana orang Samaria yang dibenci oleh orang-orang Yahudi, demikian pun Yesus dibenci oleh orang-orang Yahudi, karena Yesus bergaul dengan orang-orang berdosa: para pemungut cukai, para pelacur, orang-orang kafir, dsb. Dan ajaran-Nya mereka anggap menyimpang dari hukum Taurat. Tetapi orang Samaria yang mereka benci justru memperlihatkan kasihnya dan sikap murah hatinya secara nyata. Yesus yang dibenci oleh ahli-ahli Taurat pun Yesus-lah yang menebarkan belas kasihnya kepada orang-orang yang menderita dengan: mencelikkan mata orang buta, menyembuhkan orang-orang yang kerasukan roh jahat, menyembuhkan orang sakit, orang lumpuh, mentahirkan orang kusta, dsb. Jadi orang Samaria yang murah hati dalam perikop ini adalah analog dengan Yesus sendiri, yang dibenci banyak orang (justru oleh orang yang mengaku beragama), tetapi Yesus-lah yang memberikan kasih yang langsung dirasakan oleh orang-orang yang menderita.
Bagaimana dengan kita? Apakah kita merasakan bahwa ada orang lain yang menderita dan membutuhkan pertolongan kita? Itulah “sesama kita”. Atau, apakah kita merasakan bahwa ada orang lain yang membenci (eksistensi) kita? Teguhlah sebagai murid Kristus. Tetaplah menebarkan kasih kepada “sesama” kita, kapan saja, di mana saja, dan dari mana pun mereka itu. Sesama adalah mereka yang menderita dan membutuhkan pertolongan.
- MUSA LAHIR DAN DISELAMATKAN (Kel 2:1-10)
Keluarga besar Yakub yang datang ke Mesir makin lama makin besar jumlahnya sehingga melebihi jumlah orang-orang Mesir. Maka takutlah raja Mesir yang baru, bahwa jangan-jangan nanti orang Ibrani itu akan bersekongkol dengan musuh Mesir, untuk bersama-sama menyerang Mesir dan kemudian pergi/keluar meninggalkan Mesir. Karena itu orang Ibrani mulai ditindas, agar banyak yang mati untuk mengurangi/mengerem jumlah pertambahan mereka. Bukan itu saja, bahkan para bidan pun diperintahkan, bila menolong perempuan Ibrani yang akan melahirkan supaya diperhatikan. Kalau yang lahir itu laki-laki supaya dibunuh, tetapi kalau yang lahir itu perempuan biarlah bayi itu hidup.
Tetapi para bidan itu adalah orang-orang yang takut pada Allah, dan mereka takut untuk melakukan pembunuhan. Maka penduduk Ibrani tetap bertambah jumlahnya. Alasan para bidan tidak membunuh adalah dengan cara mengatakan bahwa perempuan Ibrani itu berbeda dengan perempuan Mesir. Perempuan Ibrani itu orangnya kuat-kuat, sehingga sebelum bidan datang mereka sudah melahirkan. Jadi bagaimana membunuh anak yang sudah lahir, jelas tidak mungkin. Kalau para bidan itu sedang membantu melahirkan , maka akan terselubung, tidak diketahui, seandainya bidan itu melakukan pembunuhan (misalnya dengan dicekik).
Dari seorang laki-laki Lewi yang beristerikan juga dengan perempuan Lewi, lahirlah seorang anak laki-laki yang cantik parasnya. Maka disembunyikanlah bayi tersebut selama tiga bulan (kel 2:2). Sudah tentu penyembunyian tersebut tidak bisa berlangsung lama. Maka akhirnya, bayi tersebut dihanyutkan di sungai Nil dalam sebuah peti pandan yang dilapisi dengan ter (agar air tidak meresap masuk dalam peti). Tepat pada saat itu puteri-puteri Firaun berdatangan untuk mandi. Maka ditemukanlah bayi tersebut oleh puteri-puteri Firaun. Karena melihat kecantikan anak tersebut, para puteri Firaun senang dan mengambilnya sebagai anak serta mengangkat seorang inang penyusu (yang sebenarnya inang penyusu tersebut adalah ibunya sendiri). Setelah dewasa dibawalah anak tersebut dan diberi nama Musa yang artinya: karena ia ditarik dari air (Kel 2:10).
Kemiripan/keterkaitan Yesus dengan Musa adalah:
a. Musa terancam pembunuhan oleh perintah Firaun yang takut kedudukannya terancam oleh makin banyaknya orang Ibrani di Mesir. Yesus pun terancam pembunuhan oleh perintah Herodes yang takut tersaing kedudukannya, karena kelahiran Yesus yang terberitakan sebagai kelahiran Raja Baru.
b. Musa nantinya yang memimpin bangsa Ibrani (Israel) keluar dari perbudakan di Mesir. Yesus Kristus juga memimpin bangsa Israel keluar dari perbudakan Iblis.
c. Musa menerima Sepuluh Perintah Allah (Sabda Allah), Yesus adalah Sabda Allah yang menjadi manusia (Yoh 1:14).
d. Musa tinggal di gunung Sinai di hadapan Tuhan 40 hari 40 malam lamanya (Kel 24:18) sebagai persiapan dalam memimpin bangsa Ibrani keluar dari perbudakan di Mesir dan pengembaraannya di padang gurun. Yesus tinggal di padang gurun 40 hari 40 malam lamanya dicobai (Mat 4:1-11; Mrk 1:12-13; Luk 4:1-13) oleh Iblis sebagai persiapan untuk melaksanakan kehendak Bapa-Nya.
e. Musa menuntun bangsa Israel keluar dari perbudakan di Mesir dan menghantarnya memasuki Tanah Terjanji (Kanaan). Musa sendiri tidak masuk ke Tanah Terjanji (Kanaan). Yesus (Musa baru) bukan saja menuntun tetapi juga menjemput semua bangsa yang percaya kepada-Nya keluar dari perbudakan Iblis dan memasuki Tanah Terjanji Surgawi. Semua orang yang percaya kepada-Nya dibawanya masuk ke dalam Tanah Terjanji Surgawi, karena Yesus memang berasal dari situ (Surga).
f. Dalam “Episode Pembunuhan anak-anak”, Musa dihanyutkan di sungai Nil, sungai identitas Mesir. Yesus pun “dihanyutkan” dalam pengungsian ke Mesir untuk menyelamatkanNya dari usaha pembunuhan yang dilakukan oleh Herodes. “ . . . . dan dari Mesir Kupanggil AnakKu itu” (Hos 11:1)
- DAUD & BATSYEBA, AMNON & TAMAR
( 2Sam 11: 1-27; 13: 1-22)
a. Daud berselingkuh dengan Batsyeba (isteri Uria, anggota pasukan Daud). Akibat perslingkuhan itu Batsyeba mengandung. Untuk menghilangkan kesan perselingkuhan, Daud memanggil Uria dari medan pertempuran. Setelah datang maka Uria disuruh pulang untuk “melepas rindu” tidur dengan isterinya. Maksud Daud agar hamilnya Batsyeba terkesan sebagai hasil suaminya yang pulang dari pertempuran, sehingga dengan demikian bebaslah tuduhan orang terhadap Daud.
b. Uria ternyata orang yang patuh dan taat kepada jabatan dan atasannya. Ada ketentuan bahwa sementara melaksanakan tugas peperangan dilarang berkumpul dengan perempuan. Dan itu dipegang teguh oleh Uria, maka ia tidak pulang tidur dengan isterinya, akan tetapi ia tidur di serambi istana. Karena itu Daud mencari cara lain yaitu dengan menulis surat kepada Yoab (pimpinan pasukan) yang diantar oleh Uria sendiri yang isinya: supaya Yoab menempatkan Uria di pertempuran paling depan dan berbahaya.
c. Demikian, Yoab berbuat seperti yang diperintahkan Daud, yaitu menempatkan Uria di medan perang yang paling berbahaya. Maka matilah Uria di medan pertempuran sebagai “pahlawan kebenaran dan kesucian”.
d. Setelah Batsyeba resmi menjadi janda, dikawinilah oleh Daud. Tetapi anak yang ada di kandungan, adalah anak hasil perselingkuhan. Maka setelah lahir, matilah anak itu. Ajaran imannya mengatakan bahwa anak hasil perslingkuhan tidak layak untuk menjadi jalur rahmat. Anak kedua yang dilahirkan oleh Batsyeba bagi Daud (Salomo) adalah anak resmi; dalam arti: Batsyeba memang berstatus janda resmi (setelah kematian Uria suaminya). Hubungan Daud dan Batsyeba sekarang adalah resmi dan benar. Maka Salomo-lah yang nantinya menggantikan raja setelah Daud surut.
e. Ada pepatah “Ada ubi ada talas, ada budi ada balas”. Kejahatan Daud dalam menyelingkuhi Batsyeba, isteri Uria, rupanya bergema kepada anaknya sendiri yang bernama Tamar. Lebih memalukan lagi, Tamar justru diselingkuhi oleh anak Daud sendiri yaitu Amnon.
f. Atas peristiwa Tamar yang dinodai oleh saudaranya sendiri itu, Daud selaku ayah tidak begitu tampak reaksi kemarahannya. Rupanya Daud merefleksi diri bahwa perbuatan Amnon, anaknya, yang memperkosa Tamar, saudaranya sendiri, adalah gambaran dirinya. Dulu Daud begitu tergiur melihat Batsyeba yang sedang mandi, identik dengan ketergiuran Amnon melihat kecantikan Tamar.
g. Untuk melaksanakan hasratnya, Amnon “pura-pura” sakit atas saran Yonadab (2Sam 13:3-5), dan bila ayahnya tanya, supaya ia mohon agar Tamar, adiknya, boleh menengok dan memberi makan. Demikianlah, atas izin raja Tamar menengok Amnon. Terjadilah kemudian pemerkosaan atas Tamar dan setelah selesai diperkosa Tamar diusir oleh Amnon.
h. “Kepura-puraan” Amnon ini nantinya berbuntut juga. Absalom, kakak Tamar, yang menyimpan dendam atas perlakuan Amnon terhadap adiknya, kemudian membuat skenario mengadakan pesta pengguntingan bulu domba. Semua anak raja, termasuk Amnon, diundang. Pesta tersebut sebenarnya juga merupakan kamuflase untuk membunuh Amnon (tuntutan “hutang darah” ). Memang hukum (tradisi) menggariskan bahwa yang paling berhak menuntut “hutang darah” adalah saudara laki-laki dari si korban.
i. Daud yang pernah menggauli isteri orang, yaitu Batsyeba (isteri Uria), nantinya akan terbukti bahwa gundik-gundiknya yang ditinggalkan di istana untuk menunggu istana (karena Daud dalam pelarian), diperkosa oleh orang lain. Dulu waktu nabi Natan memperingatkan Daud, telah dinubuatkan:
“Beginilah firman TUHAN: Bahwasannya malapetaka akan Kutimpakan ke atasmu yang datang dari kaum keluargamu sendiri. Aku akan mengambil isteri-isterimu di depan matamu dan memberikannya kepada orang lain; orang itu akan tidur dengan isteri-isterimu di siang hari” (2Sam 12:11).
Nubuat tersebut terbukti dan lebih memalukan lagi yang memperkosa gundik-gundik Daud tersebut adalah anaknya sendiri, Abslom (lih 2Sam 16: 20-22). Dan kalau dulu Daud melihat dari atas sotoh istana dan tergiur pada Batsyeba yang sedang mandi, kini, Absalom dalam memperkosa gundik-gundik ayahnya juga di atas sotoh istana (2Sam 16:22).
j. Daud yang pernah mengumpan Uria ke medan berbahaya tersambung benang merah dengan kematian Absalom, anaknya, yang sudah setengah mati masih dipukuli secara beramai-ramai (lih. 2Sam 18:1-18).
- KELAHIRAN SAMUEL DAN YOHANES PEMBAPTIS
a. Kelahiran Samuel diceritakan dalam 1Sam 1:1-28. Diceritakan ada seorang laki-laki suku Efraim bernama Elkana bin Yeroham bin Elihu bin Tohu bin Zuf, yang mempunyai dua isteri, yang satu bernama Hana dan yang lain bernama Penina.
b. Elkana yang disebut dengan sederetan “bin”(anak dari) untuk menunjukkan bahwa dia orang terhormat. Memang status seseorang masih dilihat sampai di mana ia bisa menunjukkan silsilah (minimal sampai lima keturunan).
c. Penina mempunyai anak sedang Hana tidak mempunyai anak. Maka sedihlah Hana, karena di samping kurang dipandang orang (karena mandul) juga bisa dicap sebagai orang yang dikutuk Tuhan sehingga tidak mempunyai anak. Kesedihan itu diperberat lagi oleh sikap Penina, madunya, yang selalu menghina baik di rumah maupun di Silo, bila mereka bersama seluruh keluarga pergi mempersembahkan korban kepada TUHAN di sana.
d. Pada suatu kesempatan, setelah selesai mempersembahkan korban di Silo, Hana masih tinggal berdoa di dekat imam Eli, sambil mulutnya komat-kamit, dan bernazar bila TUHAN memberikan anak laki-laki maka ia akan menyerahkan anak itu kepada TUHAN untuk selama-lamanya dan pisau cukur tidak akan menyentuh kepalanya.
e. Eli yang memperhatikan Hana dengan mulut komat-kamit dari jauh mengira bahwa Hana mabuk. Maka Eli menasihati supaya Hana menghentikan itu. Hana menjelaskan bahwa ia bukan wanita dursila apalagi wanita pemabuk, tetapi karena ia ada masalah besar sehingga ia dengan rasa yang terdalam berwawancara dengan TUHAN. Kemudain Eli memberkati Hana.
f. Setahun kemudian mengandunglah Hana dan melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Samuel yang berarti “Aku telah memintanya daripada TUHAN” (ay 20). Lalu Hana sujud menyembah TUHAN (lih. Puji-pujian Hana – 1Sam 2:1-10). Kemandulan jasmani yang tidak menyebabkan kemandulan rohani mendatangkan berkat.
g. Hal kelahiran Yohanes Pembaptis diceritakan dalam Injil Lukas 1: 5-25, 57-66). Diceritakan, seorang imam bernama Zakaria yang mempunyai isteri Elizabet. Suami-isteri tersebut keduanya dari keturunan Harun. Keduanya benar di hadapan Allah dan hidup menurut segala perintah dan ketetapan Allah. Mereka tidak dikaruniai anak sebab Elizabet mandul, apalagi keduanya sudah tua.
h. Dengan adanya keterangan bahwa mereka benar di hadapan Allah dan hidupnya menuruti segala perintah dan ketetapan Allah maka berarti bahwa mereka tidak mandul rohaninya. Maka pada waktu Zakaria kena undi untuk masuk ke dalam Bait Suci dan membakar ukupan di situ, Gabriel malaikat Tuhan menampaki dia dan memberitahukan bahwa doanya telah dikabulkan dan isterinya, Elizabet, akan melahirkan seorang anak laki-laki. Tetapi karena Zakaria kurang percaya, maka ia menjadi bisu sampai semuanya itu terlaksana.
i. Demikianlah beberapa lama kemudian Elizabet mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki dan diberinya nama Yohanes. Setelah semuanya terjadi, terbukalah mulut Zakaria, terlepaslah lidahnya, lalu ia berkata-kata dan memuji Allah (lih. Nyanyian Pujian Zakaria – Luk 1:67-80). Kemandulan jasmani tidak harus menyebabkan kemandulan rohani/iman.
- R U T
a. Rut adalah perempuan Moab (Rut 1:4). Adapun orang-orang Moab mempunyai sejarah yang tidak baik. Diceritakan (lih Kej 19:30-38), Lot lari mengungsi bersama isteri dan dua anak perempuannya karena akan adanya penghukuman atas Sodom dan Gomora. Dalam pelarian tersebut dipesan oleh malaikat Tuhan supaya jangan menoleh ke belakang (Kej 19:17). Tetapi isteri Lot menoleh ke belakang, maka ia berubah menjadi tiang garam (Kej 19:26).
b. Tinggallah sekarang Lot dan hanya dengan dua orang anak perempuannya. Tinggallah mereka di gua di gunung. Lot sudah tua dan tidak ada laki-laki lain yang bisa memberikan keturunan untuk meneruskan sejarah. Maka kedua anak perempuan Lot tersebut bersepakat untuk memberi minum anggur kepada ayahnya, Lot, sampai mabuk. Dan setelah mabuk, maka anak perempuan tersebut “tidur” dengan ayahnya bergantian. Demikianlah terjadi, dan mengandunglah kedua anak Lot tersebut dari ayahnya sendiri. Anak yang lebih tua melahirkan seorang anak laki-laki dan diberinya nama Moab (bapa orang-orang Moab) dan yang lebih muda juga melahirkan seorang anak laki-laki dan diberinya nama Ben-Ami (bapa bani Amon).
c. Jadi kalau Rut orang Moab, maka ia adalah keturunan orang-orang tidak baik. Demikianlah yang terjadi antara Rut dengan Boas (Rut 3: 1-18). Untuk menjadi isteri Boas, Rut (atas saran Naomi, mertuanya) ia “menidurkan” dirinya di kaki Boas pada waktu malam di tempat pengirikan. Setelah genap waktunya, Rut melahirkan seorang anak laki-laki bagi Boas, dan diberinya nama Obed. Obed inilah ayah Isai, ayah Daud.
Kenakalan anak-anak Lot yang meniduri ayahnya sendiri dan menurunkan bani Moab, menurun kepada Rut (orang Moab) yang meniduri Boas (calon suminya).
