Dua “PSK” Berebut Anak

Bacaan : 1Raj 3: 16-28

  1. Raja Salomo adalah raja Israel yang ketiga (raja pertama dan kedua adalah Saul dan Daud). Salomo adalah anak raja Daud dengan Batsyeba (mantan isteri Uria, orang Het, yang diperisteri Daud dengan cara yang licik. Lihat 2Sam 11-12). Di bawah pemerintahan Salomo, Israel digambarkan sebagai negara yang mengalami keemasannya, di mana rakyatnya hidup dalam kedamaian, kesejahteraan dan kemakmuran. Hal ini akibat dari raja yang mengadakan pembangunan di berbagai sektor. Dan hasil pembangunan yang sangat monumental adalah pembangunan Bait Suci di Yerusalem. Berbagai prestasi itulah yang mengakibatkan raja Salomo terkenal sebagai raja yang bijaksana.
  2. Penulis Kitab Raja-Raja meyakini bahwa kebijaksanaan Salomo itu berasal dari Allah. Dan sang raja memang meminta kepada Allah kebijaksanaan itu, karena ia harus memimpin sebuah bangsa yang bangsa itu tidak lain adalah Umat Allah (1Raj 3: 1-15). Kebijaksanaan yang diminta adalah (sebagai raja muda) agar ia bisa menimbang perkara untuk menghakimi umat Allah dengan dapat membedakan antara yang baik dengan yang jahat, yang benar dan yang salah (bdk 1Raj 3:9). Maka kebijaksanaan pun diberikan Allah kepadanya. Dan kebijaksanaan Salomo itu pun digambarkan : “Sesungguhnya Aku memberikan kepadamu hati yang penuh hikmat dan pengertian, sehingga sebelum engkau tidak ada seorang pun seperti engkau, dan sesudah engkau takkan bangkit seorang pun seperti engkau.” (1Raj 3:12).
  3. Anugrah kebijaksanaan itu menjadi dasar dari bacaan 1Raj 3:16-28, di mana diceritakan adanya dua orang perempuan sundal (istilah sekarang PSK, Pekerja Seks Komersial) yang berebutan anak. Istilah PSK ini pernah dipakai juga istilah “Kupu-Kupu Malam” (KKM), dan kalau di Surabaya disebut “Balon”. Dua orang PSK yang tinggal serumah  dan tentu saja tanpa suami, berebut anak. Mereka baru saja sama-sama melahirkan anak. Salah satu anak itu mati karena tertindih oleh ibunya sendiri. Dengan cara yang curang si ibu itu lalu menukarkan bayinya yang mati itu dengan bayi temannya. Anak yang masih hidup inilah yang menjadi rebutan antara mereka.
  4. Jangan ditanya yang macam-macam; misalnya: dimana suaminya? Jelas tak punya suami, kan mereka PSK? Mengapa bisa mati tertindih oleh ibunya? Mungkin si ibu tidurnya jempalitan atau jungkir balik tak menentu. Semua pertanyaan tidak ada relevansinya dengan kasus ini. Yang perlu menjadi perhatian justru: “Kami sendirian, tidak ada orang luar bersama-sama kami dalam rumah, hanya kami berdua saja dalam rumah.” (1Raj 3:18). Karena tidak ada orang lain berarti tidak ada saksi. Maka, kasus ini sungguh sulit untuk dipecahkan. Tetapi kebijaksanaan raja tidak berasal dari dirinya sendiri, melainkan dari Tuhan. Kita mungkin masih ingat kebijaksanaan Yusup yang bisa membuka rahasia mimpi Firaun di Mesir? (lih. Kej 41:1-36). Kebijaksanaan Yusup pun berasal dari Tuhan. 
  5. Atas kasus perebutan anak oleh dua perempuan sundal itu, maka Raja menyuruh orang untuk mengambil pedang. “Demi keadilan”, maka raja memerintahkan supaya bayi yang diperebutkan itu dibelah menjadi dua, dan diberikan kepada kedua perempuan itu, masing-masing separoh. Itu adil, karena masing-masing memperoleh potongan yang sama. Mendengar keputusan raja itu, maka perempuan yang satu merasa terkejut sekali. Dan ia tidak menghendaki anak itu dibelah menjadi dua. Daripada dibelah menjadi dua, ia rela walaupun dengan sedih memberikan anak itu menjadi milik temannya. Sedang perempuan yang satu termakan oleh siasat raja, ia menyetujui perintah raja; dan dengan demikian ia membuka kedoknya sendiri. Sebab mana ada seorang ibu rela anaknya dibunuh? Maka tahulah raja siapa ibu yang sebenarnya dari anak yang diperebutkan itu.  Kemudian raja memerintahkan supaya anak itu diberikan kepada ibunya yang asli.
  6. Kalau kita teliti membacanya, maka siapa perempuan sundal itu, tidak disebutkan namanya. Demikian pun nama raja tidak disebut. Tetapi karena perikop ini terletak antara perikop yang menceritakan tentang Raja Salomo, maka orang dengan mudah  dan otomatis menangkap bahwa raja di sini adalah Raja Salomo. Secara berurutan perikop itu adalah sbb.: “Doa Salomo memohon hikmat” (1Raj 3:1-15); Hikmat Salomo pada waktu memberi keputusan (1Raj 3:16-28) dan perikop sesudahnya “Para pembesar Salomo dan para kepala daerahnya” (1Raj 4: 1-20) lalu “Kebesaran Salomo” (1Raj 4:21-34). Jadi perikop tentang perebutan bayi oleh dua orang perempuan sundal itu diapit oleh perikop tentang raja Salomo. 
  7. Baiklah kita cermati lagi. Keputusan raja di sini didasarkan atas asumsi bahwa ibu kandung pasti penuh belas kasih kepada anaknya dan tidak rela anaknya sendiri dibunuh, sedang ibu yang palsu bersikap tidak peduli. Maka gertakan raja untuk membelah anak menjadi dua, berhasil sebagai solusi atas kasus perebutan bayi. Masalah baru akan timbul seandainya kedua perempuan itu juga menolak adanya pembelahan bayi menjadi dua. Siasat atau metode sang raja secara psikologis memang masuk akal, tetapi secara logika tidak kuat. Kalau di jaman sekarang pembuktian itu bisa dibantu dengan pembuktian darah atau DNA.
  8. Ada kesepakatan dari para ahli Kitab Suci, bahwa cerita ini adalah cerita rakyat atau folktale yang beredar di India dan sejumlah daerah timur lainnya. Penulis Kitab Raja-Raja mengadopsi kisah tersebut dan diadaptasikan dengan kisah Raja Salomo. Maka dalam kisah tersebut, nama perempuan tidak disebut, demikian pun nama raja yang bijaksana itu tidak juga disebutkan. Semuanya anonim. Dan kisah ini disisipkan dalam kisah pemerintahan Salomo. Tujuannya tentu untuk menjelaskan kebijakan raja Salomo dan bahwa janji Allah untuk memberikan kebijaksanaan kepada Salomo terpenuhi.
  9. Dan sebagai penutup dari kisah dalam perikop ini adalah sebagaimana tersebut dalam ayat 28 : “Ketika seluruh orang Israel mendengar keputusan hukum yang diberikan raja, maka takutlah mereka kepada raja, sebab mereka melihat, bahwa hikmat dari pada Allah ada dalam hatinya untuk melakukan keadilan.” Mereka mengakui bahwa raja Salomo dilimpahi Tuhan dengan kebijaksanaan. Dia adalah raja pilihan Allah. Tetapi kita perlu juga kiranya melihat dari sisi yang lain.
  10. Dari sisi yang lain kita melihat: Salomo dilimpahi dengan harta kekayaan yang melimpah, yang mengumandangkan bangsa Israel sebagai bangsa yang makmur dan sejahtera. Bait Allah dibangunnya secara spektakuler. Semuanya itu melambangkan keberhasilan seorang raja di bidang politik, ekonomi, sosial, dan hidup keagamaan. Dan biar ada keseimbangan, baiklah kita lihat juga bahwa Salomo juga tetap manusia, yang sudah tentu selain mempunyai kelebihan juga mempunyai kekurangan. Sebagai raja, ia tidak segan-segan menyingkirkan lawan-lawan politiknya, bahkan saudaranya sendiri pun menjadi kurban (lih. 1Raj 2:13-25). Pembangunan Bait Suci pun dengan mengerahkan rakyatnya sendiri sebanyak tiga puluh ribu orang menjadi rodi (kerja paksa) alias tidak dibayar (1Raj 5:13-14). Dan tidak lupa ia juga menetapkan pajak yang “mencekik leher” (1Raj 12:4). Rupanya kemakmuran itu hanya dinikmati oleh sebagian golongan masyarakat saja. Last but not least, konon Salomo itu mempunyai isteri 700 orang dan gundik 300 orang.  (lih. 1Raj 11:3). Seribu orang ???? Orang-orang akan mudah  berkomentar: “Ya ampuuunnn!”
Powered by Blogger.