Ketika Semak Menjadi Raja

Hak 9: 8-15

 

  1. Pengantar. Dalam memberikan ajaran-Nya Yesus seringkali menggunakan perumpamaan, seperti: Sang Penabur, Dirham yang hilang, Domba yang hilang, Anak yang hilang, Orang Samaria yang murah hati, dan lain-lainnya. Dengan perumpamaan itu, maka si pendengar menjadi ikut aktif memikirkan perumpamaan tersebut, dan  mereka juga mudah untuk menyerap isinya, karena perumpamaan itu biasanya diambil dari keadaan atau pun kejadian sehari-hari. Bukan hanya Yesus, juga para Rabi mendidik murid-muridnya dengan berbagai perumpamaan. Rupanya perumpamaan itu sarana yang paling efektif untuk mengajar. Pesan yang disampaikan oleh perumpamaan itu cepat meresap dalam hati para pendengarnya. 
  2. Perumpamaan itu bukan monopoli Perjanjian Baru (oleh Yesus), dalam Perjanjian Lama pun kita dapat menjumpai perumpamaan; seperti misalnya: Kisah orang kaya yang merampas domba orang miskin (2Sam 12:1-4); Rumput duri dan pohon ara (2Raj 14:9); dan Dua ekor burung rajawali (Yeh 17:3-10). Marilah sekarang kita simak salah satu perumpamaan dalam Perjanjian Lama yaitu tentang: “Semak yang menjadi raja”, sebagai tersebut dalam Kitab Hakim-Hakim 9: 8-15. Karena tokoh-tokoh dalam perumpamaan ini dari dunia tumbuhan, maka jenis perumpamaan ini berupa fabel. Fabel dimengerti sebagai sebuah cerita pendek yang menampilkan binatang, tanaman, atau benda mati layaknya seperti manusia. Di dalamnya terkandung pesan-pesan tertentu. Jenis satra ini sangat digemari terutama di daerah Mesopotamia, Mesir, dan Yunani. Fabel dalam Hak 9:8-15 agaknya semula berdiri sendiri, dan baru kemudian disisipkan dalam kisah tentang Abimelekh (Hak 9).
  3. Pohon-pohon mengadakan rapat. Diceritakan pohon-pohon mengadakan rapat untuk memilih salah satu diantara mereka menjadi raja atas mereka. Dan sebagai layaknya manusia, pohon yang terpilih itu nantinya akan diurapi sebagai raja yang sah dan resmi menjadi raja atas mereka. Pilihan pertama jatuh pada pohon zaitun. Pohon ini memang layak untuk menduduki raja, karena buahnya dapat dimakan, atau diperas untuk menghasilkan minyak. Minyak zaitun bisa dipakai untuk memasak, atau dipakai untuk perawatan badan, dan juga bisa untuk lampu. Maka pantaslah kalau pohon zaitun dijadikan raja atas pohon-pohon di bumi. Tetapi pohon zaitun menolak untuk dinobatkan sebagai raja.
  4. Pilihan kedua jatuh pada pohon ara. Pohon ini menghasilkan buah yang digemari oleh orang Israel, dan Yesus mungkin termasuk di antaranya (lih. Mat 21:18-19; Mrk 11:12-13). Buah pohon ara itu rasanya manis, dan dapat dipanen dua kali setahun. Adanya tawaran itu, pohon ara pun langsung menolak; jabatan raja tidak diminati olehnya. Maka giliran ketiga jatuh pada pohon anggur, ditawari untuk menjadi raja atas pohon-pohon di bumi. Semua tahu bahwa buah anggur itu lezat, segar, dan menggoda untuk disantap. Dari buah anggur bisa dibuat minuman anggur yang menjadi minuman primadona dalam pesta-pesta. Maka, layak dan pantas kalau pohon anggur menjadi raja atas segala pohon di bumi ini. Tetapi juga sebagaimana pohon zaitun dan pohon ara, pohon anggur juga menolak untuk diangkat menjadi raja.  
  5. Demikianlah, ketiga pohon yang terkenal di Israel itu menolak untuk dinobatkan menjadi raja atas pohon-pohon di bumi, maka kemudian kandidat calon raja itu disodorkan pada pohon semak duri. Berbanding terbalik dengan pohon-pohon sebelumnya, tumbuhan semak berduri ini mungkin bisa mendatangkan sedikit kesejukan di musim panas dan di musim dingin bisa memberikan kehangatan (kalau dibakar!). Di luar itu, semak berduri ini praktis tidak ada gunanya. Dan manusia melihatnya sebagai pengganggu, lebih-lebih durinya yang bikin jengkel itu. Mendengar jabatan raja, maka pohon semak berduri ini langsung menerima jabatan itu.  
  6. Dan dengan sombongnya, pohon semak berduri itu langsung memberi perintah kepada semua pohon untuk berlindung kepadanya; jika tidak, maka mereka akan dibakar. Ini tertulis dalam ayat 15 yang berbunyi : “Jawab semak berduri itu kepada pohon-pohon itu: Jika kamu sungguh-sungguh mau mengurapi aku menjadi raja atas kamu, datanglah berlindung di bawah naunganku; tetapi jika tidak, biarlah api keluar dari semak duri dan memakan habis pohon aras yang di gunung Libanon.” Dari ayat ini jelas bahwa kalau pohon-pohon itu tidak tunduk kepadanya, maka semua pohon akan dibakar habis, termasuk pohon aras di Gunung Libanon yang ukurannya lebih besar pun akan dimusnahkannya.
  7. Perumpamaan ini kiranya dikisahkan oleh Yotam anak bungsu Gideon. Dan Gideon itu adalah hakim Israel, yang nama “Gideon” mempunyai arti “Sang Penghancur” atau “Prajurit Agung”. Kisah Gideon sendiri yang menyangkut aksi-aksi kepahlawanannya tercantum dalam Hakim-Hakim 6-8. Kisah tentang pemilihan pohon untuk menjadi raja ini, keluar dari mulut Yotam dan ditujukan kepada Abimelekh. Abimelekh dengan Yotam itu sama-sama anak Gideon tetapi lain ibu (ibu Abimelekh adalah “gundik” Gideon, isteri sah tetapi tergolong “kelas dua”). Abimelekh memang bernafsu menjadi raja, sesuai dengan namanya, “Abimelekh” mempunyai arti “ayahku raja”.
  8. Abimelekh ibaratnya seperti seorang pangeran yang menanti-nantikan dengan tidak sabar untuk menjadi raja. Sayang ia tidak  pantas untuk itu; selain ibunya seorang “gundik” juga ia sendiri tidak mempunyai prestasi yang menonjol. Tetapi ia masuk dalam Kitab Hakim-Hakim, hanya karena ia itu anak Gideon. Karena ibunya seorang “gundik” maka Abimelekh adalah anak yang terpinggirkan. Apa lagi padanya tidak ada prestasi yang menyolok. Abimelekh itu bukan pahlawan, bukan prajurit besar, bukan penyelamat, ataupun hakim. Maka layaklah kalau Kitab Hakim-Hakim tidak menampilkan dia sebagai layaknya seorang calon raja.  
  9. Setelah kematian Gideon (dan meninggalkan anak sebanyak tujuh puluh orang, semuanya anak kandung; tidak termasuk Abimelekh, karena Abimelekh anak gundik. lih. Hak 8:30-31), maka Abimelekh melihat semacam ada peluang untuk tampil. Maka dibunuhlah ketujuh puluh saudaranya seayah itu, kecuali Yotam yang terluput karena ia bersembunyi (lih. Hak 8:30 – 9:5). Kemudian Abimelekh diurapi dan diangkat menjadi raja. Yotam anak bungsu Gideon yang berhasil meloloskan diri dan mendengar bahwa Abimelekh diangkat menjadi raja, pergi ke puncak Gunung Gerizim, gunung yang dulu oleh Musa dimaksudkan sebagai tempat untuk memberkati Israel (Ul 11:29; 27:12). Di atas gunung inilah Yotam meluapkan kutukan dan kemarahannya kepada Abimelekh. Dengan mengambil gunung Gerizim ini rupanya Yotam menghendaki supaya orang Israel  mengingat kembali perjanjian mereka dengan Allah (lih. Ul 11:29 dan 27:12). Kutukan Yotam itu ada dua bagian, yaitu sebagaimana yang tersebut Hak 9:8-15, dan penjelasan atas perumpamaan itu (Hak 9:16-20). 
  10. Dalam penjelasan itu Yotam menjelaskan ketidak-layakan Abimelekh sebagai raja. Dikatakan bahwa Abimelekh itu anak seorang budak (Hak 9:18), tega-teganya dijadikan seorang raja. Maka di mata Yotam, Abimelekh itu ibarat sebagai semak berduri yang tidak ada gunanya sama sekali. Betapa bodohnya orang Sikhem, mau-maunya mengurapi orang yang tidak berguna menjadi raja. Orang-orang Sikhem membantai anak-anak Gideon melupakan jasa Gideon sebagai hakim yang berjasa juga kepada mereka (orang Sikhem) dan kemudian mengurapi Abimelekh “anak budak” menjadi raja atas mereka. Padahal Gideon adalah pahlawan bangsa yang menyelamatkan Israel dan mendatangkan kedamaian bagi bangsa itu. Maka pengkhianatan orang Sikhem adalah bentuk pelecehan terhadap kepahlawanan Gideon. 
  11. Gideon saja dikhianati, apalagi Abimelekh. Maka Yotam pun menanyakan kepada orang-orang Sikhem. Apakah Abimelekh itu layak menjadi raja? Dan nyatanya sebenarnya Abimelekh itu tidak layak untuk menduduki takhta kerajaan. Maka Yotam menegaskan (dengan perumpamaan), bahwa orang-orang Sikhem itu ibarat laksana pepohonan yang mengangkat semak berduri menjadi raja atas mereka; tetapi kemudian tidak mau berlindung di bawah naungannya. Maka api akan berkobar dari semak dan membakar mereka semua. Dan kutukan Yotam ini akhirnya sungguh-sungguh terjadi (lihat dan baca Hak 9:22-57). 
  12. Kunci untuk memahami perumpamaan Yotam ini adalah perikop sebelumnya yaitu dalam Hak 8:33-35.  Setelah Gideon meninggal, orang Israel ternyata meninggalkan Allah, dan memilih menyembah pada dewa-dewi bangsa asing. Allah yang telah menyelamatkan mereka, mereka lupakan. Terhadap keluarga Gideon, mereka juga tidak menunjukkan adanya rasa terima kasih. Gideon yang telah banyak berjasa dan sebagai pahlawan, keluarganya (anak-anaknya) justru dibantai. Jadi, kisah kekejaman Abimelekh dan kutukan Yotam sebenarnya adalah kisah tentang dosa dan hukuman bagi Israel, yang dalam hal ini “diwakili” oleh Sikhem.
  13. Dan kalau kita lebih cermati lagi, maka penduduk Sikhem bersalah bukan karena mengankat raja, akan tetapi karena mengangkat Abimelekh menjadi raja. Sebagaimana sudah diketahui bahwa Abimelekh itu pribadi yang ‘payah’, karena kuasa Allah tidak ia akui, keluarga Gideon pun tidak ia hormati, bahkan anak-anaknya (saudara seayah) ia bunuh di atas “satu batu” (maksudnya di tempat yang sama ; Hak 9:18). Bagaimana orang yang sedemikian itu dipilih menjadi raja?
  14. Dengan perumpamaan ini, maka Kitab Hakim-Hakim ingin menengaskan bahwa di Israel, seseorang tidak mungkin menjadi raja, kecuali orang itu memang dipilih dan diangkat oleh Allah. Tanpa melibatkan Allah, maka kerajaan yang ada akan berubah menjadi “kerajaan bencana”. Ingin bukti? Kengerian dan kekacauan akibat pemerintahan Abimelekh adalah buktinya. Amin.
Powered by Blogger.