KITAB SUCI
PERIKOP
Merenungkan Air Bah Besar
Kej 6:5 – 9:17
- Kisah tentang Air Bah Besar atau Banjir Besar pada jaman Nuh tercantum dalam Kitab Kejadian 6:5 – 9:17. Menurut petunjuk Kitab Suci setelah air bah surut, bahtera itu terkandaskan di pegunungan Ararat (Kej 8:4). Tetapi apakah nama atau sebutan “Ararat” pada masa itu sama dengan sebutan Ararat di jaman sekarang? Ada beberapa (kalau tidak bisa dikatakan banyak) para peneliti yang ingin menemukan bahtera tersebut dengan mengadakan pendakian ke atas gunung tersebut yang tingginya 3.658 meter (di Turki bagian timur) untuk menemukan sisa-sisa bahtera tersebut. Sampai hari ini belum ada fakta yang konkret.
- Kisah berawal dari adanya kekecewaan Tuhan yang melihat bumi ciptaan-Nya rusak akibat ulah manusia yang tidak bertanggung jawab. Begitu kecewanya Tuhan, sampai terungkap ucapan-Nya : “Aku akan menghapuskan manusia yang telah Kuciptakan itu dari muka bumi, baik manusia maupun hewan dan binatang-binatang melata dan burung-burung di udara, sebab Aku menyesal, bahwa Aku telah menjadikan mereka.” (Kej 6:7). Kecenderungan hatinya manusia selalu membuahkan kejahatan (Kej 6:5), makin mempertegas buruknya tingkah laku manusia pada saat itu. Maka, Tuhan berketetapan untuk mengakhiri hidup segala makhluk (Kej 6:13). Tetapi Tuhan berkenan untuk mengecualikan Nuh, karena orang ini adalah orang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sejamannya; dan Nuh itu hidup bergaul dengan Allah. (Kej 6:9).
- Maka Nuh kemudian diminta oleh Tuhan untuk membuat bahtera raksana, karena bumi akan tenggelam oleh air bah. Bahtera itu akan menjadi perlindungan bagi Nuh dan keluarganya, serta marga satwa yang akan diangkut bersamanya. Demikian, kehendak Tuhan terjadi, hujan deras meliputi seluruh bumi dan gunung yang tertinggi pun tidak kelihatan lagi. Semua makhluk hidup mati semua kecuali Nuh dengan seisi bahtera (isteri, tiga anak dengan isteri-isterinya dan hewan-hewan). Nuh kemudian diberkati oleh Tuhan dan Tuhan juga berjanji bahwa tidak akan ada lagi bencana seperti itu.
- Kisah air bah ini sungguh merupakan kisah yang menarik. Tetapi kalau kita teliti membacanya kita akan menemukan bahwa dalam kisah itu terdapat adanya pengulangan dan perbedaan.
Pengulangan :
• Pengamatan Tuhan akan dosa-dosa manusia ( 6:5 dan 6:12 );
• keputusan Tuhan untuk menghapus kehidupan dari muka bumi ( 6:7 dan 6:13 );
• pemberitahuan kepada Nuh ( 6:17 dan 7:4 );
• perintah agar Nuh dengan keluarganya memasuki bahtera ( 6:18 dan 7:1 );
• ketaatan Nuh kepada perintah Allah ( 6:22 dan 7:5 );
• laporan bahwa Nuh masuk ke dalam bahtera ( 7:7 dan 7:13 );
• datangnya banjir besar ( 7:10 dan 7:11 );
• air bah makin dahsyat ( 7:17 dan 7:18 );
• kematian makhluk hidup di bumi ( 7:21 dan 7:22-23 );
• air bah berhenti ( 8:2a da 8:2b );
• air bah surut ( 8:1, 3b dan 8:3a ); dan
• janji Allah bahwa air bah seperti itu tidak akan ada lagi ( 8:21 dan 9:11 ).
Perbedaan :
• Yang Ilahi itu kadang disapa dengan Allah ( 6:11, 12, 13, 22), dan kadang disapa dengan YHWH / TUHAN ( 6: 5, 6, 7, 8);
• yang mencolok adalah jumlah hewan yang dibawa masuk ke dalam bahtera. Dalam Kej 6: 19-20 dan 7:15-16, masing-masing hewan dibawa satu pasang; supaya terpelihara hidupnya; sedang dalam Kej 7:2 disebutkan supaya Nuh membawa tujuh pasang binatang yang tidak haram dan juga burung-burung di udara, sedang binatang yang haram cukup satu pasang.
• Lamanya air bah yang menggila di bumi juga berbeda. Kej 7:4, 17 dan 8:6 menyebut selama empat puluh hari empat puluh malam. Sedang dalam Kej 7:24 dan 8:3b menyebut seratus lima puluh hari;
• Burung yang dilepas untuk mengetahui apakah air bah sudah surut atau belum pun berbeda; yaitu: Nuh melepaskan burung gagak ( Kej 8:7 ) . Dalam Kej 8 : 8-12 Nuh melepaskan burung merpati sampai tiga kali. - Adanya pengulangan dan perbedaan ini disebabkan karena kisah ini berasal dua sumber, yaitu dari Tradisi Y (Yahwis) dan Tradisi P (Priest = Imam). Tradisi Y itu meliputi pasal/ayat : Kej 6:5-8; 7:1-5, 7-10, 12, 16b, 17, 22-23; 8:2b-3a, 6-12, 13b, 20-22. Tradisi Y ini menyebut yang Ilahi dengan nama-Nya: YHWH/TUHAN. Dikisahkan bahwa TUHAN kecewa terhadap manusia, sebab kejahatan mereka telah meraja-lela di atas bumi. Maka TUHAN memutuskan untuk memusnahkan manusia beserta makhluk hidup yang lain, kecuali Nuh, karena ia benar di hadapan TUHAN. Maka Nuh disuruh membuat bahtera dan diperintah untuk masuk ke dalam bahtera sebelum hujan mulai diturunkan. Hewan yang harus dibawa adalah tujuh pasang yang tidak haram dan tujuh pasang burung-burung udara, sedang hewan lainnya satu pasang. Dan kemudian turunlah hujan selama empat puluh hari empat puluh malam lamanya.
- Sedang kisah menurut Tradisi P meliputi pasal/ayat : Kej 6:9-22; 7:6-11, 13-16a, 18-21, 24; 8:1-2a, 3b-5, 13a, 14-19; 9:1-17. Para ahli menilai bahwa kisah ini lebih rapi dan teratur, walaupun bahasanya kurang menarik bila dibandingkan dengan Tradisi Y. Senada, kisah diawali dengan memperkenalkan sosok Nuh sebagi orang yang benar dan tak bercela di hadapan Allah. Ternyata bumi telah menjadi najis karena ulah manusia. Allah melihat itu, maka memutuskan untuk mengakhiri hidup semua makhluk; dan hal ini sudah dipertimbangkan dengan masak-masak. Hal ini dilakukan untuk menyelamatkan Nuh. Maka diperintahlah Nuh untuk membuat bahtera, dengan kayu, ukuran kapal, dan desain interiornya (walau tidak jelas seperti apa). Yang jelas, itu mesti bahtera raksasa.
- Tibalah saatnya air bah datang dengan tumpah ruah. Dalam Tradisi Y penyebabnya adalah hujan alami; sedang dalam Tradisi P hujan itu karena terbelahnya segala mata air samudra raya dan terbukanya tingkap-tingkap di langit. Bencana yang digambarkan dalam Tradisi P memang terasa lebih dahsyat. Gunung-gunung tenggelam, segala yang hidup binasa, air meluluh-lantakkan bumi selama seratus lima puluh hari. Dan setelah dirasa cukup, Allah menutup kembali semua mata air samudra raya dan tingkap-tingkap di langit. Air surut dan bahtera Nuh kandas di pegunungan Ararat. Dan Nuh melepaskan burung gagak untuk memastikan bahwa bumi telah kembali menjadi kering. Tetapi Nuh sendiri baru keluar setelah mendapat perintah dari Allah. Nuh kemudian diberi berkah oleh Allah, yang berkah itu sebelumnya diberikan kepada manusia-manusia pertama. Kemudian Allah mengikat perjanjian dengan Nuh bahwa Ia tidak akan lagi mendatangkan air bah untuk menghancurkan bumi. Dan untuk mengingat perjanjian itu Allah akan menaruh pelangi di langit agar Ia tidak “lupa” akan janji-Nya.
- Pesan-pesan kisah. Pesan-pesan Kisah Bahtera Nuh yang bisa kita petik adalah:
- Kisah ini bukanlah kisah sejarah, tetapi kisah pengajaran. Setelah manusia pertama jatuh ke dalam dosa, dosa terus berkembang biak dan makin lama makin merajalela. Diawali dengan ketidak-taatan Adam kemudian meningkat kualitasnya dengan terjadinya pembunuhan atas Habel oleh Kain. Kejahatan terus mengalir dan meningkat. Maka jangan anggap remeh dosa-dosa kecil, karena bisa meningkat makin besar dan makin gawat. Maka tekunlah dengan memulai bertobat atas dosa/kesalahan kecil yang kita perbuat.
- Kejahatan yang besar akan melahirkan hukuman yang besar pula. Air bah Nuh bukanlah wujud kesewenang-wenangan Tuhan, akan tetapi justru menujukkan keadilan-Nya. Kehancuran bumi tersebut adalah konsekuensi yang dapat diterima, mengingat kejahatan manusia yang sudah keterlaluan (parah).
- Kisah ini memang agak mengganggu pikiran kita juga. Kalau yang berdosa itu manusia, mengapa seluruhnya ikut dimusnahkan? Sepertinya Allah itu “main-pukul” saja. Siapa tahu dalam peristiwa Air Bah Nuh itu ikut juga mati orang benar. Nah, untuk memahami ini, kita harus ingat bahwa: Pertama, bahwa kisah ini adalah kisah Perjanjian Lama. Pandangan moral dalam alam Perjanjian Lama sangat berbeda dengan pandangan moral masa kini. Maka, jangan menghakimi mereka dengan nilai-nilai moral masa kini. Jelas nggak cocog. Kedua, dalam memandang kisah Nuh ini jangan berfokus pada kehancuran yang melanda bumi, akan tetapi pada kebaikan hati Allah yang berkenan menyelamatkan Nuh orang benar di hadapan -Nya.
- Maka dapatlah disimpulkan bahwa Kisah Nuh adalah kisah penghakiman yang disertai tindakan penyelamatan. Kejahatan diakhiri, dan kehidupan baru dimulai dari awal lagi. Ada bumi baru, ada perjanjian baru, ada pula manusia-manusia baru. Dan terciptalah kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya. Jadi, kisah Nuh adalah kisah tentang keadilan dan kerahiman Allah berhadapan dengan dosa manusia. Di situ ada hukum, dan ada kasih. Dan yang ditekankan adalah kasih. Maka usaha untuk mendaki gunung Ararat dan mengaduk-aduknya akan capek saja dan tidak akan menemukanya.
Catatan : Tulisan ini terinspirasi dari BANJIR BESAR 40 HARI ( atau 150 Hari?) oleh: Jarot Hardianto, Wacana Biblika Vol 12. No. 4 / Oktober-Desember 2012, hlm 176 – 181, Penerbit Yayasan LBI Jakarta.
